Dugem Surabaya

Rabu, 30 Apr 2008,
Happy Hour Pindah Rabu

Ada fenomena baru di panggung dunia gemerlap (dugem). Biasanya, Sabtu malam menjadi hari favorit. Tapi, kini, diskotek dan karaoke justru lebih heboh pada Rabu. Alasannya bermacam-macam. Ada yang menghindari razia narkoba, live music, hingga girls party.

SUDAH lima tahun Taufik akrab dengan suara house music dan minuman beralkohol. Pria asal Malang itu bisa disebut dugemers (penikmat dugem) sejati. Dalam seminggu, dia bisa dua kali pergi ke diskotek.

Namanya saja sudah cinta mati. Uang tak jadi ukuran. Sekali dugem, dia bisa menghabiskan Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta untuk tiket masuk dan minuman sekelas Martell atau Chivas Regal. Dalam sebulan, sedikitnya dia menganggarkan Rp 2 juta.

 

“Minimal seminggu sekali. Kalau lagi banyak duit, bisa dua kali. Kalau nggak ke Station, ya ke KW (Kowloon). Kalau bokek, ya nebeng minuman punya teman,” ujar pria 32 tahun yang mengaku tinggal di kawasan Waru, Sidoarjo, tersebut.

Taufik pun punya jadwal tetap happy hour di diskotek. Sabtu malam Minggu? Bukan, dia justru mengaku hampir tak absen dugem pada setiap Rabu. “Dulu, saya memang selalu pergi malam Minggu. Tapi, sudah setahun ini saya pindah jadwal ke Rabu,” ungkapnya.

Rabu (24/4) sekitar pukul 11.00, dia pergi bersama tiga (satu pria, dua wanita) kawannya ke Station, diskotek di Jalan Tunjungan. “Rabu itu lebih enak karena lebih aman. Jarang ada razia polisi. Dugem lebih santai. Kalau Sabtu malam, aduh, di sana-sini banyak polisi, banyak operasi. Jadi males keluar rumah,” ujar pria berkulit sawo matang dan berambut ikal tersebut.

Taufik mengaku pindah jadwal dugem sejak polisi gencar melakukan razia pada pertengahan 2007. Waktu itu, Jumat dan Sabtu malam menjadi waktu rutin korps seragam cokelat tersebut mengobok-obok diskotek serta tempat karaoke.

“Sejak itu, saya pindah. Saya nggak pakai narkoba sih. Saya cuma suka minum (minuman alkohol) aja. Tapi, risi rasanya ditanya-tanya, apalagi digeledah polisi. Pokoke, males wis. Lebih enak pindah jadwal,” katanya.

Bukan hanya Taufik yang memilih Rabu sebagai hari favorit happy hour. Penikmat dugem lain mulai banyak berpindah jadwal ke hari itu dengan alasan lain.

Misalnya, Roni, pemuda 25 tahun yang tinggal di kawasan Gunung Sari. Dia merupakan pelanggan Hugo’s Cafe. Sudah hampir sepuluh tahun pengusaha muda itu happy hour di diskotek di Jalan Embong Malang, tepatnya di Hotel Sheraton, tersebut. “Saya main ke sini sebelum bernama Hugo’s. Jenenge sik Bongo’s. Waktu itu, saya masih SMA,” jelasnya.

Empat bulan terakhir, alumnus perguruan tinggi swasta (PTS) di Surabaya itu juga pindah jadwal dari Sabtu ke Rabu. Alasannya hanya satu. “Rabu banyak ceweknya! Kan ada girls party di Hugo’s. Banyak yang seksi-seksi,” ujar Roni lantas tertawa lepas.

Ucapan Taufik dan Roni tak sekadar isapan jempol. Selama dua pekan terakhir, Jawa Pos memantau beberapa diskotek dan karaoke di kota ini. Hasilnya, tempat-tempat dugem memang booming pada Rabu.

Misalnya, Rabu (23/4) dua pekan lalu, Hugo’s Cafe benar-benar penuh sesak. Saking banyaknya pengunjung, jarak pandang terasa pendek karena tertutup asap rokok dan tubuh manusia.

Selama empat jam (23.00-03.00) Jawa Pos di tempat itu. Saking banyaknya pengunjung, sebagian besar tak kebagian kursi. Banyak yang memilih berdiri di samping meja bartender atau di sekitar stage. Malam itu, suasana semakin riuh dengan live music dan DJ (disc jockey).

Riuh diskotek berbeda jauh ketika Jawa Pos mendatangi Hugo’s empat hari sebelumnya atau Sabtu (19/4) tiga pekan lalu. Malam itu, manajemen diskotek yang punya cabang di beberapa kota di Indonesia tersebut mempersembahkan DJ asal Jakarta yang mulai terkenal, DJ Maliki.

Pengunjungnya? Separo dibandingkan Rabu. Masih banyak table kosong. Sofa di ruang eksekutif kosong. Sementara table noneksekutif hanya terisi separo. Padahal, saat itu masih pukul 01.00. “Hari Sabtu mungkin banyak orang pergi ke luar kota. Makanya, tempat kami kadang sepi,” jelas Venny Anggreini, marketing promotion event Hugo’s Surabaya.

Wanita single berusia 25 tahun tersebut mengaku ada pergeseran happy hour. Sabtu malam Minggu tak lagi selalu menjadi waktu favorit dugem. Di tempat kerjanya, Rabu memang hampir selalu penuh sesak pengunjung. “Sebab, kami punya program girls party. Kebanyakan diadakan Rabu. Cewek gratis masuk, tidak perlu bayar tiket. Tampaknya, cowok-cowok seneng kalau banyak cewek,” ungkapnya lantas tersenyum.

Venny menyatakan, dalam kondisi ramai seperti Rabu, manajemen sampai menjual tiket hingga lebih dari 300 lembar. “Dalam sebulan, kami menjual 750-5.000 lembar. Kalau sedang ramai, dalam sehari bisa jual lebih dari 300 lembar tiket,” tegasnya.

Di tempat karaoke, ledakan pengunjung juga tak kalah dahsyat pada Rabu. Rabu (23/4) pekan lalu, Jawa Pos mengunjungi dua tempat. Karaoke D’Boss di Jalan Kedungdoro dan Kantor di Jalan Semut Kali.

Fantastis! Di D’Boss, seluruh VIP room full booked. Seluruh table di hall juga tak tersisa tempat kosong. “Mohon maaf, Pak. Seluruh VIP room sudah penuh. Kalau mau menunggu, mungkin bisa ke hall. Tapi, juga nggak ada table kosong,” kata salah seorang resepsionis tempat karaoke tersebut.

Malam itu, D’Boss mendatangkan penyanyi Terry. Sejam (22.00-23.00) Jawa Pos menunggu di hall, tak satu pun meja ditinggalkan kosong. Begitu pula dengan VIP room. Dari 15 kamar, semua terisi.

Di Karaoke Kantor, kondisinya tak kalah heboh. Tak ada satu pun ruang karaoke yang lowong. “Kalau mau menunggu VIP, mungkin bisa lebih dulu menunggu di hall,” ujar seorang waiter.

Dalam hall, ada 25 meja. Hanya tiga meja yang kosong. Padahal, malam itu, Kantor tak mengundang artis dari ibu kota. Mereka hanya menampilkan band-band lokal. Pemusik lokal itu lebih banyak memainkan musik-musik Top 40.

Humas Karaoke Kantor Arthur mengaku heran tempatnya justru ramai pada Rabu. “Kami nggak tahu persis faktornya apa. Tapi, kenyataannya memang begitu. Rabu lalu, kami memang kebanjiran tamu. Seluruh VIP penuh,” jelasnya.

Dia menuturkan, segmentasi karaoke berbeda dari diskotek. Mayoritas pengunjungnya sudah berkeluarga. “Kalau malam Minggu, mungkin banyak yang menggunakannya untuk kumpul bersama keluarga. Atau weekend keluar kota,” ujarnya.

Rabu menjadi pilihan sekadar waktunya cukup pas untuk melepas stres. “Stres kerja biasanya kan Senin dan Selasa. Sebab, pekerjaan biasanya menumpuk. Makanya, banyak yang suka dugem pada Rabu,” ungkapnya.

Karaoke LCC di Kedungdoro juga kerap dibanjiri tamu pada Rabu. Bahkan, angka tamu bisa melebihi malam-malam favorit, Jumat dan Sabtu. “Kalau Rabu, saya sering di-booking dua kali. Jadi, pulangnya selalu lebih dari pukul 02.00,” kata Selvi (samaran), salah seorang lady escort LCC.

Dia mengaku justru sering “kesepian” saat Sabtu malam. “Anehnya, kadang nggak ada yang booking saya. Kalau sudah begitu, pukul 01.00, saya sudah balik ke rumah. Daripada nggak ada yang belai, mending dibelai bantal-guling di rumah,” ujarnya lantas tertawa lebar.

Muara Harianja, wakil ketua Asosiasi Rekreasi dan Hiburan Umum Surabaya, juga merasakan pergesaran itu. “Berdasar pantauan kami, peak-nya tetap Jumat malam. Hanya, akhir-akhir ini, Rabu juga sering dibanjiri pengunjung,” katanya.

Dia menuturkan, pergeseran happy hour memang bisa diakibatkan banyak faktor. Di antaranya, banyak tempat hiburan yang mengadakan even pada hari itu. Mulai mendatangkan artis ibu kota, DJ terkenal, diskon, hingga program khusus seperti girls party di Hugo’s.

“Mungkin awalnya pengelola diskotek beranggapan Sabtu selalu ramai. Karena itu, mereka bikin even untuk mendongkrak pengujung. Akhirnya, hari-hari selain Sabtu malam justru lebih ramai,” jelasnya.

Razia polisi juga menjadi salah satu faktor pergeseran tersebut. “Bener lho, razia bisa bikin dunia hiburan menjerit. Padahal, tak selalu ditemukan narkoba dalam razia,” tegas Muara yang juga seorang pengacara itu.
Menurut dia, tempat hiburan harus tetap eksis dengan alasan ekonomi. ’’Kalau ada investor dari luar kota atau luar negeri, kalau mencari hiburan, ke mana lagi kalau ndak ke diskotek atau karaoke? Makanya, tempat hiburan harus dijaga bersama. Kalau masalah narkoba, saya kira seluruh pengelola sepakat menjauhi,’’ ujarnya. (tim JP)

~ oleh esont pada April 30, 2008.

2 Tanggapan to “Dugem Surabaya”

  1. hugo,s ngak terlalu bagus.cenderung mengkelaskan diri sebagai tempat yg paling ter….!saya jadi teringat sama discotiq atum yg udah colaps.tuhntempat bagi gue bener2 nyaman .gede ngak,kecil ngak.tapi suasananya bener bener membuat gue kangen pool!apalagi musiknya waktu itu bener 2 ngak tersentuh ama gaya musik hause.yg menurut gue bikin pusing kepala doang!

  2. Valuable info. Fortunate me I discovered your website by accident, and I’m shocked why this twist of fate didn’t took place in advance!
    I bookmarked it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: