Boyanes Singapura

Sejenak Bersama Komunitas TKI di Singapura
Di Satay Club, Serasa di Kampung Sendiri

Gaya Hidup Pekerja Indonesia di Singapura
Di pusat perbelanjaan bernama City Plaza, Geylang, Singapura, pekerja Indonesia berkumpul, sekadar menghilangkan stres dan bertemu kawan senasib. Apa saja aktivitas mereka disana? Berikut obrolan singkat Batam Pos, bersama pahlawan devisa ini.

Yusuf, Singapura
@batampos.co.id

Siang itu, Ahad (18/11), langit Singapura cukup cerah. Jilatan matahari terasa hangat di kulit. Suhu udara di Negeri Singa itu dilaporkan 29 derajat Celsius. Benar-benar waktu yang tepat untuk menikmati keindahan kota.

Tepat pukul 13.00 waktu Singapura, Batam Pos tiba di City Plaza, Geylang, sebuah pusat perbelanjaan yang dijadikan tempat kumpul para pekerja Indonesia, khususnya di akhir pekan.

Selama perjalanan, kami ditemani Wachiduddin. Pria yang biasa disapa Dukding ini, merupakan pekerja Indonesia asal Bawean Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Perannya, persis seperti sebuah “kompas” andalan bagi kami. Ke mana kaki hendak melangkah, kepadanya pula kami bertanya. Maklum, ayah dua anak ini sudah 15 tahun menetap di Negri Merlion. Di sana ia bekerja sebagai bosun di sebuah kapal bunker, berbendera Singapura.

Untuk mencapai tempat ini, cuma butuh waktu sekitar 10 menit menumpang taksi dari Orchard Road. Ongkos taksi hanya 9,80 Dolar Singapura, sesuai angka yang ditunjuk argo taksi.

Begitu menginjakkan kaki di City Plaza, “hawa” Indonesia mulai terasa. Puluhan pria dan wanita bergerombol di selasar plaza berlantai empat tersebut. Tampang dan percakapan mereka, tak begitu asing bagi kami. Hampir 100 persen berbahasa Indonesia. Hanya segelintir yang memakai berbahasa Melayu. Mereka yang berhasa Melayu itu adalah pekerja dari Serawak, Malaysia Timur.

Meski tak semuanya orang Indonesia, toh mereka tetap terlihat akrab. Di samping kami, sekitar satu meter, sejumlah wanita usia dua puluhan, bergaya modis bak artis; kacamata hitam, earphone di telinga, tank top, rok mini dan pakaian kasual terkini lain. Mereka terlihat seolah tengah menebar pesona.

Menurut Dukding, cewek-cewek itu adalah pembantu rumah tangga. Jujur, kami tak mengira kalau mereka ini sebenarnya “Inem” si pendulang dolar yang banyak dibicarakan orang Indonesia. Penampilan mereka sama sekali tak mencirikan profesi yang mereka geluti setiap hari. Dukding bilang, itu sudah biasa. “Mereka ingin menghibur diri barang sehari. Berkumpul dan bercengkrama akrab dengan pekerja Indonesia lainnya,” kata Dukding.

“Kadang ada juga yang membaur bersama kami (seamen), mereka ada yang pacaran, bahkan banyak yang melanjutkan ke jenjang pernikahan,” tambahnya tertawa kecil.

Tiba-tiba cewek di sebelah kami nyeletuk. “Tin..piye kabare ?” (Tin, apa kabarnya, red) kata Yuni menyapa temannya yang baru tiba dengan logat Jawa Tengah-nya yang medok. Wanita berparas manis ini langsung mengenalkan kawannya pada teman yang baru saja ia sapa.

“Niki Sari,” (ini Sari, red) ujar Tini dan Yuni menyalaminya sambil tersenyum.

Entah apa yang mereka perbincangkan. Sepertinya obrolan mereka begitu akrab sambil sesekali melepaskan tawa.

Beberapa menit kemudian mereka memasuki plaza berlantai empat ini. Yuni (23) merupakan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia asal Solo, Jawa Tengah. Ia telah tiga tahun bekerja di negeri Dolar ini.

Mengabdi pada satu keluarga di daerah Jurong sebagai “Inem”, wanita berperawakan agak tinggi berkulit sawo matang ini bercerita. “Biasanya sebulan sekali ke sini, sekedar bertemu temen-temen. Hilangkan stres, Mas..” katanya sambil tertawa kecil seakan menghibur dirinya sendiri.

Sulit dibayangkan, dalam sebulan, hanya bisa libur satu hari! Sebab berkutat dengan peralatan dapur dan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan, siang hingga malam, selama hampir tiga puluh hari. Wajar jika mereka menghibur diri seharian di sini bersama rekan-rekan senasib.

Tapi tidak semua “Inem” di sini bernasib sama dengan Yuni, ada juga yang liburnya seminggu sekali seperti rekannya Ayu. Mungkin karena merasa senasib di perantauan, rata-rata mereka ramah dengan yang lainnya walaupun tidak saling kenal sebelumnya.

Saat masuk ke plaza, kami juga sempat berbincang dengan beberapa TKW. Penampilan mereka sore itu, sangat modis dan seksi. Iseng, kami bertanya dengan bahasa Jawa kepada mereka yang dari tadi sibuk mengoceh dengan logat Jawa yang kental. “Ayu tenan mbake, ono acara opo?,” (cantik sekali mbak, ada acara apa?,red)kami bertanya.

Pertanyaan yang semula ditujukan kepada seorang dalam balutan rok jins pendek, malah dijawab temannya. “Biasa mas, mau cari tambahan,” celetuknya berterus terang, yang terakhir mengaku bernama Linda.

Dari obrolan mereka, diketahui bahwa beberapa di antara mereka mencari tambahan uang dengan cara yang sangat disayangkan, menjerat lelaki hidung belang. Penghasilan mereka sebagai PRT, hanya memberi mereka upah sekitar 350 Dolar Singapura saja.

Biasanya, lelaki yang menjadi sasaran mereka adalah lelaki India. Alasannya, lelaki setempat sulit dijerat. “Kalau sesama orang Indonesia, malu juga,” kata Linda lagi.

Di sudut lain, tepat di samping gedung ini, ada sebuah rumah makan dengan meja dan kursi panjang berjejer, “Singapore Satay Club” namanya. Menunya banyak menu Indonesia, seperti Ayam penyet, sate, soto, bakso bahkan es teler juga ada di sini. Karena hari itu Ahad, meja penuh terisi. Kami dapat meja di pojok dekat dengan jalan, dan memesan kopi susu ditemani sejumlah pekerja kapal Indonesia yang biasa disebut seamen. “Disinilah kami berkumpul, serasa di kampung,” kata Dukding.

Dari pantauan kami, mereka yang duduk di cafe ini semuanya pekerja Indonesia. Ada yang berbahasa Jawa, Sunda, Bawean (di sini disebut Boyan), dan Bahasa Indonesia.

Beberapa menit kemudian Yasin, kawan Dukding, datang. “Kamma bhei uiy…lalambek tak atemmo, bheras thogellen?” (Kemana saja..sudah lama tak bertemu, sehat saudaraku?) sapa Dukding dengan bahasa Bawean menyambut Yasin.

“Alhamdulillah bheras bhei, bekna beremma?” (Alhamdulillah sehat saja, kamu gimana?, red) balas Yasin.

Itulah bahasa kampung yang membuat mereka serasa ada di kampungnya sendiri. Ditambah lagi menu masakan di Satay Club ini juga cocok dengan lidah mereka.

Setelah berhari-hari, kadang berminggu-minggu di laut, rasa jenuh dan bosan tetap menjadi momok sebagian besar pelaut. “Stress. Yang dilihat laut saja. Kalau disini (City Plaza) kan bisa lihat bidadari -bidadari,” canda Yasin sambil tertawa dan diamini Hamam.

Meskipun di sini kami nongkrong sambil minum kopi, tapi merokok tidaklah sebebas di Indonesia, kami harus menyingkir dari area cafe itu jika ingin merokok. “Hati-hati, jangan merokok di sembarangan tempat. Nanti kena denda,” kata Yasin mengingatkan.

Akhirnya kami merokok di tempat yang sudah digaris, di bawah pohon besar di pinggir jalan, berjarak beberapa meter saja dari cafe itu.

lantas apa yang sangat istimewa di City Plaza? Kalau dilihat dari fasilitas, tidaklah jauh berbeda dengan Lucky Plaza di Batam. Lantai satu, dua, dan tiga berisi pedagang yang menjual telepon seluler, sepatu, cakram optik dan baju. Hanya diskotik, jackpot dan biliar di lantai empat yang membuat beda. Namun diskotiknya sejak tahun 2005 sudah ditutup.

Menurut Saiful Muslim (35), pekerja kapal asal Jawa Timur yang sudah 15 tahun bekerja di Singapura, dulu sering terjadi tawuran antar pengunjung di tempat ajojing ini. Kalau sudah mabuk,mereka sering berkelahi. Jumlahnya sampai puluhan orang. Karena alasan itulah diskotik ini tak beroperasi lagi.

Meskipun begitu, komunitas pekerja yang kebanyakan seamen dan “Inem” ini tetap mengunjungi tempat ini sampai sekarang, walau sekadar kumpul dan melepaskan lelah bersama.”Sekadar cuci mata lah..” celetuk Hamam yang nimbrung bersama kami, seamen yang sudah setahun bekerja.

Para seamen ini sistem kerjanya shift-shift-an. Ada yang di laut empat hari dan di darat dua hari. Ada juga yang delapan hari di laut empat hari di darat. Bahkan ada yang sekali sebulan baru bisa turun (libur).

Kesempatan istirahat inilah yang dimanfaatkan betul untuk bertemu rekan dan santai di City Plaza.

Selain masakannya, di sini juga mudah mencari lagu-lagu maupun film Indonesia terbaru. “Cari lagu Indonesia terbaru mudah, lagian masakannya terjamin halal,” ujar Hamam ketika ditanya istimewanya City Plaza.

Sebenarnya, komunitas pekerja Indonesia bukan hanya di City Plaza. Tapi juga ada yang menjadikan Marina Square dan Marina Bay tempat berkumpul dan menghilangkan kejenuhan. “Biasanya, kalau pagi kami jalan-jalan dulu ke Orchard Road. Siangnya baru ke City Plaza atau ke Marina,” ujar Syaiful Muslim.

Diakui tidak diakui, mau tidak mau, City Plaza telah menjadi kampungnya para TKI. Sayangnya, selain sekadar bertemu sesama orang sekampung, ada juga yang memanfaatkan lokasi ini untuk mengincar “uang panas”.

~ oleh esont pada Maret 27, 2008.

4 Tanggapan to “Boyanes Singapura”

  1. wah, senang rasanya bisa tau komunitas orang indonesia di singapura, saya 2 bulan kerja di sini ga tau, bingung mo cari orang senasib di perantauan

  2. pelaut cari apem indonesia mohon frmasinya guys

  3. kue apem atau apem apaan ni?

  4. Bro n sis yg di working di spore, msia, arab saudi, taiwan dll, ada kabar baik kalau ingin beli pulsa dan token pln utk keluarga di kampung sekarang sdh bisa beli di mobilepulsa, web nya https://mobilepulsa.com , kalau yg pakai android sudah ada aplikasi nya di google play store, search aja ” mobilepulsa ” nyambung spell nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: