Ke Singapura, Melancong Bersama STB (bagian 2)

Song of the Sea, Pesta Laser Animasi di Pantai Sentosa

Pentas terbuka di Pantai Sentosa malam itu benar-benar memukau penonton. Gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai penonton menjadi buktinya. Berikut pengalaman Batam Pos menyaksikan teater yang diberi judul “Song of the Sea” ini.

Weny-Yusuf
redaksi@batampos.co.id

Sekitar pukul 20.15 waktu Singapura hari Jumat (16/11),lalu, rombongan yang terdiri dari rekan berbagai media, bergerak menuju Pantai Sentosa. Di sinilah penutup semua kesenangan acara di Sentosa Island hari itu akan digelar.

“Itu antrean apa Pak?” tanya Batam Pos kepada guide Singapore Tourism Board (STB) Hamim.

Di bagian bawah, tepatnya sekitar 15 anak tangga dari tempat rombongan berdiri selepas turun dari Sentosa Expres, terlihat ratusan orang tengah mengantre panjang. Masing-masing memegang kartu seukuran kartu nama berwarna biru di tangan mereka. “Mereka mau lihat Song of the Sea,” jawab Hamim singkat dan beranjak mengambilkan tiket untuk rombongan.

Setelah mendapat tanda masuk berwarna hijau, rombongan pun membaur dalam antrean. Memang, kartu tanda masuk yang diberikan kepada kami berbeda dari mereka, dan itu membuat kami bertanya-tanya. Menjawab keheranan itu, Hamim pun menjelaskan.

Kartu yang di pegang memang berbeda, sebab rombongan STB diberi keistimewaan masuk tanpa dikenakan biaya masuk seperti penonton lain. Ini mengingatkan rombongan betapa di negara ini, pelayanan sangat diutamakan. Inilah yang dijual Singapore dalam usahanya meningkatkan kunjungan wisata menuju Uniquely Singapore.

Semua berbaris teratur dan bersabar menunggu giliran masuk. Satu lagi nilai yang mungkin masih langka di Indonesia; budaya antre.

Setelah beberapa menit berlalu, sampailah giliran kami masuk. Di pinggir pantai tempat pertunjukan akan dilangsungkan, terlihat bangku-bangku panjang yang dibuat dari keramik berwarna muda. Warnanya tak pasti terlihat sebab memang penerangan saat itu redup. Hanya cahaya bulan setengah dan beberapa lampu di ujung jalan, sebagai petunjuk agar tak salah melangkah.

Tak berapa lama, pertunjukan pun dimulai. Sekitar delapan remaja yang terdiri dari dua perempuan dan enam laki-laki, memasuki hamparan pasir di depan penonton. Sedangkan di laut, tepatnya beberapa meter saja dari pinggir pantai, pondok-pondok beratap rumbia tertata di atas semacam pelantar.

Persembahan pertama mereka adalah sapaan berbahasa China yang diucapkan dengan irama riang dan iringan musik senada. Mendengar sapaan yang dinyanyikan pelakon perempuan, seorang pelakon laki-laki “menghinanya”.

“Apa itu, yang kamu sebut nyanyian?” sindirnya dalam bahasa Inggris. “Nyanyian itu seperi ini,” katanya lantas menyapa penonton di sebelah kirinya. “Apakah ada yang berasal dari Malaysia?” tanyanya lantang.

Saat mendengar jawaban “ya” yang keras, ia pun bernyanyi dalam bahasa Melayu. Setelah itu disambung dengan menyapa penonton dengan Bahasa India. Serempak mereka menari menirukan gaya khas penyanyi India dalam film-film.

Terakhir, sebagai penutup persembahan awal mereka, dinyanyikanlah lagu yang memuja negara Singapura.

“Ayo Lee, bernyanyilah,” ucap seorang pelakon perempuan kepada seorang pelakon laki-laki lain yang sedari tadi hanya berdiam diri di atas batu besar dan hanya mengikuti sedikit-sedikit nyanyian yang lain.

“Aku malu bernyanyi,” jawabnya.

Setelah bujukan yang ditujukan padanya tak berhasil,
rekan yang lain sepakat untuk menyanyikan lagu-lagu riang bersama. Mungkin karena terbawa suasana, Lee, tanpa sadar, ikut bernyanyi. Hingga di penghujung nyanyian, ia masih terus bernyanyi dan bernyanyi. Semua rekannya heran, tapi mereka membiarkan.

Tiba-tiba dari atas pondok-pondok di laut, muncul seraut wajah cantik yang temaram. Namun hanya sesaat, kemudian menghilang ke balik pondok-pondok. Seraut wajah ini muncul dari hasil perpaduan sinar laser warna-warni yang dipantulkan dengan menggunakan semburan air. Semua ditata sedemikian rupa sehingga tampak nyata.

Semua bertanya-tanya, siapa gerangan gadis berparas rupawan itu. Tiba-tiba dari bagian kanan pondok, muncul animasi serupa kuda laut. Ia mengaku kalau gadis berparas rupawan itu adalah dirinya. Tak cukup lama kuda laut ini menyombongkan diri, dari sisi pondok bagian kiri muncul animasi yang menyerupai seekor ikan. Di sisi lain, muncul pula animasi berbentuk ubur-ubur laut. Ia pun mengaku kalau gadis rupawan yang baru saja menghilang adalah dirinya.

Perdebatan di antara mereka pun dimulai. Masing-masing mengaku sosok gadis bermata indah tadi adalah mereka. Sebagai upaya pembuktian, mereka pun bernyanyi dan berputar-putar dengan heboh. Penonton bersorak dan tertawa menyaksikan ulah mereka.

Namun tak berapa lama, dari bagian tengah, tempat sosok gadis tadi terlihat, muncul jenis ikan lain. Lee pun bertanya siapa dia. “Tak perlu ditanya. Panggil saja aku Asker,” katanya, yang jelas tak memuaskan rasa ingin tahu Lee dan yang lain.

Asker menjelaskan bahwa sosok gadis yang mereka lihat adalah Princess Ammy. Princess Ammy selama ini tertidur pulas hingga tak punya energi untuk bangun. Sebabnya, kutukan dari makhluk raksasa berwajah batu.

Princess terbangun, kata Asker, karena mendengar nyanyian Lee yang merdu. Untuk itu ia meminta Lee bernyanyi kembali agar Princess benar-benar terjaga dan lepas dari kutukan.

Maka Lee pun bernyanyi dengan iringan yang lain. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan mereka. Yang terbangun bukan Princess Ammy, melainkan raksasa berwajah batu. Ia muncul diiringi letupan keras yang mengeluarkan api. Api ini benar-bernar nyata. Bukan animasi seperti tokoh-tokoh ikan, Asker, ubur-ubur, dan kuda laut.

Ia marah sebab terusik ketenangannya. Akibatnya, ia mengamuk dan meletuskan api di mana-mana, seiring dentuman keras musik. Di atas pelantar, di ujung pantai, dan disekitar penonton. Penonton yang menyaksikan terperanjat dan berteriak hiruk-pikuk. Namun Lee tetap bernyanyi sesuai permintaan Asker.

Cukup lama Lee bernyanyi. Dampak nyanyiannya tak sia-sia. Air mulai tersembur dari berbagai tempat dan memadamkan api. Akhirnya raksasa berwajah batu pun dapat dikalahkan.

Sebagai gantinya, dari balik pondok, muncul seraut wajah yang tak kalah cantik. Rambut sebahunya yang memancarkan cahaya kebiruan terurai indah. Ia pun meminta Lee bernyanyi untuknya. “Bernyanyilah terus Lee. Agar aku bisa memperoleh kekuatanku kembali,” pintanya.

Sejurus kemudian ia pun menghilang. Berganti sosok Asker. Ikan kuning dengan sirip kemerahan dan bermata hijau dengan gayanya yang centil dan selalu bergerak lincah. Kembali ia menjelaskan bahwa sosok tadi adalah Lady of the Water, penguasa lautan yang juga dikutuk raksasa batu dan tertidur panjang.

Maka sekali lagi, Lee bernyanyi diiringi yang lain. “Thank you Lee,” ucap Lady of the Water yang muncul kembali dengan wajah dan senyum sumringah.

Namun Lee dan kawan-kawan tak berhenti bernyanyi. Mereka tetap mengalunkan suara merdu untuk membangunkan Princess Ammy yang sedari awal menjadi tujuan mereka.

Usaha mereka tak berujung sia-sia. Tak berapa lama, Princess Ammy pun muncul. Kali ini dengan wajah yang tak lagi temaram. Tapi telah menunjukkan wajah yang bening dan tampak nyata. Princess Ammy telah menampakkan parasnya secara utuh. Rambut seukuran tepat di atas bahu, ditata sederhana. Namun tak mengurangi kecantikannya. Sebuah bandana kecil bermata mutiara indah turut menghiasi rambut dengan gaya poni miliknya. Disekeliling kepalanya, benderang cahaya bergaris hijau turut mempertegas kecantikan Princess ini.

Ia tersenyum ke arah semuanya. Masih tetap dengan senyuman menawannya, Princess Ammy mengucapkan terimakasih dan syukurnya atas bantuan Lee dan teman-teman. “Your singing brought me to life. Thank you Lee (Nyanyianmu membuatku kembali hidup. Terimakasih Lee, red),” ucapnya lembut.

Semua gembira dan memuji apa yang telah dilakukan Lee. Dari sifatnya yang pemalu, terutama dalam bernyanyi, Lee telah berhasil mengalahkan raksasa dan membangunkan kembali Lady of the Water dan tentunya sang puteri; Princess Ammy. “Who did it… Who did it? (Siapa yang telah berhasil itu?, red),” sorak mereka dalam kegembiraan nyanyian. Dan semua pun serempak menjawab, “Lee did it.. Lee did it…(Lee-lah yang berhasil, red),” jawab mereka mengeluk-elukkan Lee.

Penampilan itu ditutup dengan kembali munculnya animasi-animasi biota laut tadi; Asker dan kawan-kawan. Semua bernyanyi. Cahaya laser vertikal pun disemburkan dari dasar pondok. Dari bawah, cahaya berubah warna sampai ke atas. Kadang kuning di bawah dan hijau di atas, kadang biru dan merah membentuk bak susunan genetik dalam ilmu biologi. Semburan air pun memantulkan permainan cahaya laser ini.

Gemuruh tepukan penonton membuat penutup acara malam itu berakhir sempurna. “Pantaslah jika Singapura ingin menjadi Uniquely Singapore,” ucap seorang penonton lagi-lagi memuji.***

~ oleh esont pada April 13, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: