Kampong Glam Singapura

Dari Perjalanan Wisata Bersama Singapore Tourism Bord (STB)
Gelam, Glam atau Glamour ?

Mengelilingi Singapura memang menyenangkan. “Objek foto yang tak ada habisnya”, demikian istilah yang dipakai fotografer Batam Pos Yusuf. Berikut sedikit cerita dari salah satu lokasi yang sempat dikunjungi rombongan media bersama STB, Kampong Glam  15 November 2007.

Weny-Yusuf
redaksi@batampos.co.id

Selama perjalanan, rombongan yang terdiri dari rekan wartwan dari berbagai media, senantiasa dibimbing seorang guide STB, yaitu bagian dari pemerintah Singapura yang bertugas mempromosikan kepariwisataan. Termasuk mempromosikan apa yang baik bagi siswa-siswa asing yang menimba ilmu di sini. Perjalanan pertama dimulai dengan mengelilingi Kampong Glam.

Kampung Glam, Singapura, bisa jadi merupakan salah satu kampung tua yang hingga kini masih tetap eksis. Namun tentu saja bukan seperti kampung tua di daerah lain. Sebab kebijakan pemerintah negeri Singa ini membuat Glam menjadi aset wisata yang lebih banyak dikunjungi, ketimbang sebagai pemukiman penduduk.

Sebab penduduk yang mendiami daerah ini telah berpindah, atau tepatnya dipindah ke rumah susun, rumah yang menjadi solusi akibat padatnya penduduk. Dengan luas yang tak jauh berbeda dari Pulau Batam, pendudukya mencapai 4,3 juta jiwa. Pantaslah semua bangunan telah didesain vertikal. Sebab tanah kosong nyaris sudah tidak ada lagi.

Perjalanan menyusuri Glam dimulai pukul 21.00 waktu Singapura atau pukul 20.00 waktu Batam. Dalam perjalanan ini, Batam Pos lewati bersama dua rekan Jum dan Agus, yang masih tergabung dalam Group JPNN. Bersama guide STB yang sangat sabar dan ramah Hamim, perjalanan kian menyenangkan.

Bermula dari makan malam di Tepak Sireh.  Yakni restoran dalam bungalow yang telah direnovasi dan  menawarkan hidangan halal. Tak lupa dilengkapi pertunjukan budaya dalam wilayah yang mempesona dan bersejarah. Bahkan di sini kerap pula diadakan pesta pernikahan.

Sepanjang perjalanan, Hamim senantiasa menjelaskan segala sesutau yang tampak dan menarik mata. Dari pemaparannya juga rombongan tahu kalau nama Glam sendiri berasal dari pohon Glam yang dulu banyak tumbuh di wilayah ini. Lokasi yang dulunya merupakan Istana Kampong Glam (istana Sultan), kini telah diubah menjadi museum sejarah budaya bernama Malay Heritage Centre atau Taman Warisan Melayu (TWM).

Di sinilah dulunya istana Sulatan Husein Syah.  Namun setelah sultan terkahir ini mangkat, pemerintah Inggris mengubah Istana dan menjadi seperti saat ini. Sebagai museum yang menampilkan kekayaan sejarah dan budaya masyarakat Melayu Singapura. Bangunan dan arsitekturnya telah direstorasi dengan seksama, agar tetap mempertahankan keunikan dan originalitasnya.

Perjalanan ke sini, ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari Tepak Sireh, tempat rombongan makan. Sebab memang letaknya persis di samping Tepak Sireh.

Perjalananpun dilanjutkan ke Masjid Sultan dengan jalan kaki, yang berlokasi tepat di belakang istana sultan. Masjid beronamen indah dan mempunyai tiga kubah ini merupakan masjid tertua di Singapura. Ternyata, di depan lokasi masjid inilah merupakan daerah yang banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Lantas apa yang menjadi daya tarik lokasi ini?
 
Daerah seluas…hektare ini merupakan kawasan cagar budaya dengan bangunan tempo dulu yang masih terjaga keasliannya. Mungkin yang berbeda dengan yang dulu adalah aktivitas di malam hari, setiap lorong telah menjadi pusat wisata kuliner, misalnya menu Arab nasi kebuli, Kebab, Kofte (Daging domba yang dipotong panjang dengan rempah yang dihidangkan dengan nasi pilaf).  Dan menjadi tempat kongkow yang murah meriah. Cengkrama dan senda gurau anak muda semakin membuat hidup suasana malam di”kampong Tua” ini. Bahkan ada perawatan kecantikan dan spa dari Indonesia.
 
Yang nongkrong di tempat ini juga beragam, ini bisa dilihat dari kendaraan yang parkir di ruas jalan, banyak berjejer motor bebek, motor gede dan mobil sport yang kinclong. Bule-bule juga banyak yang berseliweran sambil mengabadikan sudut-sudut menarik dari semua bangunan yang ada di kawasan ini. Di salah satu sudut tongkrongan ada yang menarik perhatian, sejumlah remaja sedang asyik menikmati “Shisha”, semakin rokok yang dihisap dengan bong besar khas Timur Tengah yang mempunyai aroma buah-buahan di emperan toko yang menyediakannya. Bahkan pejalan kaki yang melewati emperan itu juga bisa merasakan wangi aroma Shisa itu. Satu paket shisa ini bisa dinikmati dengan merogoh kocek sekitar 12 dollar Singapura, dan bisa dinikmati selama satu jam secara bergantian.
 
Lebih dikenalnya Gelam dengan nama Glam, membuat sebagian pendatang baru mereka-reka dan menyimpulkan kalau Glam adalah singkatan untuk kata glamour. “Kebetulan pula di sini banyak cewek glamour,” canda Hamim.
“Kampong Glam ini, dulunya banyak komunitas orang Jawa termasuk orang Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur,” Hamim bercerita sembari menuntaskan nasi kebulinya.***

 

~ oleh esont pada April 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: