Adipura Batam

Batam Raih Adipura Lagi ?

Setelah berhasil meraih adipura 2007 lalu, tahun ini, Batam meraihnya kembali. Tidak mudah bagi Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk meraih predikat bergengsi dari negara republik ini. Gugus terdepannya adalah Dinas Pasar dan Kebersihan Kota Batam. Tak jarang kepala dinasnya (Azwan) langsung turun ke lapangan untuk mengontrol sampah-sampah yang berserakan di jalan, di pasar-pasar dan di tempat umum lainnya. Bahkan, tak segan-segan memarahi langsung orang yang kebetulan terlihat membuang sampah bukan pada tempatnya.

Semua itu tak ada artinya tanpa campur tangan petugas terdepan, yaitu para penyapu jalan, petugas taman dan pengangkut sampah. Sebenarnya, merekalah PAHLAWAN nya !
Tanggal 6 Juni 2008, ratusan pahlawan adipura ini bersuka ria berkumpul di lapangan Engku Putri, Batam Centre menyambut datangnya piala Adipura yang dibawa dari Istana President RI Susilo Bambang Yudhoyono. Penyambutan dimulai dari Bandara Hang Nadim dan diarak berkeliling Kota Batam agar masyarakat Batam tahu, inilah hasil kerja keras itu.

Pertanyaannya, Mampukah Batam meraih kembali Adipura itu di tahun mendatang?

Kalau kita mau melihat lebih detail lingkungan seputar Batam, kita tidak bisa menafikan, masih banyak sampah-sampah berserakan. Terutama di pinggir-pinggir pantai. Seperti di Tanjunguma, Bengkonglaut, Belakangpadang, Nongsa dan daerah lainnya. Padahal Batam itu adalah masyarakat Melayu yang identik hidup di pesisir. Dengan rumah panggung yang berjejer di sepanjang pantai. Pantai dengan pasir putihnya, yang konon dulu tempat favorit wisatawan Singapura untuk refreshing kini jadi menghitam karena diserbu sampah dan limbah. Jika kita mendekat bau tak sedap pasti hinggap di penciuman kita. pandangan mata jadi rusak.

Pasti banyak pertanyaan di dalam hati. Apakah mereka yang tinggal di lingkungan ini tidak mencium bau? apakah warganya tidak terkena diare? apakah mereka sudah tidak peduli dengan kebersihan? bagaimana dengan sistem sanitasinya? terus gimana dengan malaria?

Memang, beberapakali warga dan Pemko Batam mengadakan gotong royong. Tapi, setelah itu sampah-sampah itu menyerbu lagi. gotong royong lagi…kotor lagi… gotong royong lagi..sampah lagi..begitu seterusnya. lalu?…sampai kapan terus begini? tidak adakah pakar lingkungan yang bisa menangani ini ???

Itu baru bicara tentang sampah. terus, bagaimana dengan jalan? apakah sudah mulus semua?
Dan drainasenya bagaimana? apakah sudah terintegrasi dengan baik ? sehingga banjir tak lagi mampir di rumah-rumah penduduk.

Kalau anda sempat berkeliling Kota Batam, cobalah perhatikan dan jujurlah kepada mata. Berapa banyak lubang yang menggangu perjalanan kita. Di beberapa titik, jalan yang baru diaspal sudah berlubang.

Terus, bagaimana dengan pemukiman liar atau yang familiar disebut dengan RULI ? Kalau kita pernah berjalan-jalan di kota-kota besar yang ada di Pulau Jawa atau di Sumatera. Tidak akan pernah kita temukan rumah liar nagkring di pinggir -pinggir jalan protokol atau jalan utama. Tapi, mari kita lihat di Batam. Berapa banyak ruli ini “menghiasi” jalan-jalan protokol tanpa ada teguran dari pemerintah setempat.

Dan bagaimana dengan kenyamanan pejalan kaki dan fasilitas umum lainnya bagi warganya?

Di sebagian besar ruas jalan (trotoar yang belum dibangun), pejalankaki masih khawatir dan ketakutan ditabrak pengendara mobil atau sepedamotor. Apalagi angkutan kotanya..banyak yang tidak disiplin. Menaikan dan menurunkan penumpang semau gue, tanpa memperdulikan orang lain. Pejalankaki saja haknya tidak diberikan, apalagi mereka yang hobby bersepada di pagi hari. Tidak ada namanya jalur khusus bersepeda, yang dengan tenang dan aman bisa berolah raga sambil menikmati pembangunan kota.

Taman-taman yang hijau dan indah dengan bunga-bunganya. Air mancur yang bisa menghibur mata. tua muda semuanya tersenyum ceriah tanpa menggerutu hilir mudik di sekitar taman itu, nyaman dan segar. Bila malam tiba, lampu-lampunya mampu memperindah kota. Jadi tempat bersantai warga yang letih setelah seharian bekerja.

Kapan bisa seperti itu ya..?

Jika kondisi Batam seperti itu saja bisa meraih Adipura, bagaimana jika Batam memenuhi keinginanku yang kutulis di atas?
Pasti Batam akan lebih plu..plus..plus..bukan hanya sekedar Kota Industri tapi menjadi Kota yang benar-benar Madani (saya yakin masyarakat sama seperti saya). (esont)***

~ oleh esont pada Juni 12, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: