Angin Utara Membawa Sengsara

Bukan laut hitam tapi lautan limbah minyak hitam.

Limbah rusak 2 hektar pohon bakau

Arfah,51, Ketua rukun Nelayan Tanjungmemban, Kelurahan Batubesar, Kecamatan Nongsa tampak semangat menuang limbah minyak hitam ke sebuah karung yang dipegang oleh anggotanya, warnadi,41, bibir pantai Tanjungmemban, Kamis (14/1) siang bulan lalu.

Meskipun siang itu cahaya matahari menyengat kulit, Arfah dan nelayan tradisional lainnya tak memperdulikannya.”Kalau tidak kita siapa lagi yang perduli? ujar Arfah saat ditemui sedang istirahat makan siang di bawah pohon bakau yang rindang sambil menyantap nasi bungkus yang dibagikan Bapedalda Kota Batam bersama dua rekannya, Majid, 54, dan Warnadi,41.

Majid, Arfah, dan Warnadi rehat makan siang.

Sebenarnya, kumpulan minyak hitam telah mendarat sepekan sebelumnya di pantai yang berdampingan dengan pantai wisata Tanjungmemban ini.”Kami tak tahu harus berbuat apa, limbah sebanyak ini membuat kami tidak berdaya,” tukas Arfah dengan nada jengkel. Kejengkelan Arfah dan nelayan lainnya memang beralasan, sebab hampir setiap musim angin utara pantai mereka selalu “dikunjungi” tamu tak diundang ini. Tentu saja alat tangkap mereka seperti jaring, bubu, dan alat tangkap lainnya menjadi rusak ketika dilalui tamu tak diundang ini.

Suatu senja di Tanjungmemban, Rabu (19/1) lalu.

“Membersihkan jaring yang kena limbah susahnya minta ampun, kalau tak dicuci dengan minyak tanah tidak akan bersih, padahal minyak tanah sekarang langkah. Kalau bubu sudah tak bisa dipakai lagi,” keluh Majid.

Dampak yang lebih serius tentu saja penghasilan mereka yang berkurang karena ikan-ikan yang biasanya mudah didapat kini seakan-akan enggan bermain lagi di perairan pantai Tanjungmemban, Nongsa. “Kerugian kami Rp100 ribu perhari akibat limbah ini,” kata Arfah yang diamini rekannya.

Hijau yang tercemar limbah.

Arfah dan rekannya tak sendiri membersihkan 2 hektar pantai mereka yang sudah tercemar limbah itu, mereka bahu-membahu bersama Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Pemko Batam, Balai Lingkungan Hidup Pemprov Kepri, Perusahaan Pengolah Pengepul Limbah Batam serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan hidup dan Muspika Kecamatan Nongsa.

Warisan yang menyedihkan...

Tiga pekan begotong-royong mereka berhasil mengumpulkan 98 jumbo bag atau setara dengan 45 ton. Tapi masih ada sisa. Selain dampak di laut, limbah ini juga merusak daratan, yakni pohon bakau yang tumbuh di pantai ini.(esont)***

~ oleh esont pada Februari 17, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: