Nasibmu Pahlawan Devisa…


Menderita di Rantau, Susah di Negeri Sendiri

Derita itu belumlah hilang ketika diusir dari tanah harapannya di Malaysia, bekas siksa di penjara negeri jiran itu belumlah kering. Langkah gontai dan wajah lusuh 172 tenaga kerja Indonesia tampak ketika menuruni tangga kapal fery yang mengangkut mereka ke Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang, Jumat (18/12) lalu, pas adzan isya’ berkumandang dari masjid-masjid dan musallah.

Petugas Satuan Tugas (Satgas) TKI bermasalah Pemko Tanjungpinang segera mengatur barisan mereka dan membagi kelompok pria dan wanita yang sebelumnya sudah diberi kartu pengenal yang dikalungkan ke setiap TKI itu. Lalu mereka langsung diberangkatkan ke penampungan sementara di Jalan Transito, Gang Suka Jaya VII, Batu 8 Tanjungpinang dengan mobil angkutan kota,masing-masing berisi 14 orang.

Di penampungan yang sekililingnya berpagar tembok tinggi itu mereka tumpek blek! Tidur, makan, minum, mandi, mencuci dan segala aktivitas mereka lakukan di dalamnya tanpa boleh ke luar tembok. Fasilitas penampungan yang hanya mampu menampung 400 orang itu, kadang penghuninya melibihi angka ideal tersebut dan harus rela berjejal ketika tidur. Padahal di antara mereka banyak yang membawa balita.

Tak hanya masalah kapasitas, masalah kebersihan juga menyedihkan! Ruang tidur yang pengap dan aroma tak sedap menyergap dari kamar mandi.

Meskipun hanya sementara mereka juga butuh kenyamanan setelah mengalami perlakuan yang tidak manusiawi selama berada di negeri serumpun itu. Perlakuan yang tidak manusiawi itu bahkan sudah mereka alami sejak dari kampung halamannya. Kadang ketika mereka pulangpun masih menerima perlakuan diskriminasi.

Dari tahun ke tahun permasalahan TKI ini seperti tak ada ujung pangkalnya. Kabar berita penyiksaan yang sadis dan diskriminasi bahkan ada yang sampai merenggut nyawa para Pahlawan Devisa dari seberang kerap kita lihat dari layar TV. Dan Kabar langsung yang diceritakan para pendulang ringgit ini ketika pulang ke tanah air sungguh menyentuh rasa kemanusiaan kita.”oh..kapan tanah air kita menjamin kesejahteraan dan kenyamanan bagi kami dan anak cucu kami,” jeritan hati mereka.(esont)

~ oleh esont pada Februari 17, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: