Sepenggal Malam di Jakarta

Tugu Monas membiru di waktu malam.

Kota Tak Pernah Tidur

Bicara Jakarta, tak kan lepas dari Monumen Nasional yang populer dengan Monas atau Tugu Monas yang berdiri di Jakarta Pusat. Monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda yang dibangun pada dekade 1961-an ini salah satu tujuan utama wisatawan yang datang ke ibu kota.

Berdiri di atas areal seluas 80 hektar dikelilingi, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka menjadi tempat yang nyaman untuk berolahraga atau sekedar bersantai ria bersama keluarga atau sahabat.

Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) penuh dengan dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumpang). Alu dan lumpang merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.

Selain Monas, Jakarta Islamic Centre (JIC) salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi. JIC dulunya adalah lokalisasi Kramat Tunggak, Tanjung Priok, Jakarta Utara yang kini berubah menjadi Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam. Dari kawasan hitam menjadi kawasan putih yang madani.

Amazing Jakarta Islamic Centre.

Hot spot area.

Sejak tahun 70an Kramat Tunggak, kemashurannya tidak saja terkenal di Indonesia, namun juga terkenal hingga ke seluruh Asia Tenggara sebagai pusat jajan terbesar bagi kaum hidung belang. Namun, sejak diresmikan penggunaannya 5 Maret 2003 oleh Gubernur DKI Jakarta yang waktu itu adalah Sutiyoso, JIC menjadi tempat yang menyejukkan hati dan madani baik bagi warga Jakarta maupun masyarakat dunia.

Konsepsi pembangunan JIC difasilitasi secara total oleh Pemda DKI Jakarta. Selain berfungsi sebagai pusat pengkajian agama islam juga mempunyai fasilitas perdagangan/ bisnis menempati areal lahan seluas 109.435 m.

Geliat dini hari pedagang kue di Pasar Subuh, Pasar Senen.

Denyut nadi Jakarta seakan tak ada matinya! Dari mulai pagi, siang, petang, hingga malam, keramaian selalu terlihat di pusat-pusat kota maupun sudut-sudut kota. Bahkan hingga subuh sekalipun!

Sebut saja pasar Kue Subuh di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Kala mayoritas masyarakat Jakarta masih terlelap dalam mimpi indah, pedagang kue sudah sibuk melayani pembeli. Aneka kue-kue lezat dalam jumlah banyak dengan harga miring.

Aneka model dan warna kue yang menggoda.

Misalkan saja, satu kotak mini cake yang berisi 25 buah hanya Rp20.000 an dan kuenya beraneka ragam dari kue tar, kue modern hingga kue tradisional.” Pukul 01.00 WIB kami sudah buka, biasanya sampe pukul 08.00 WIB,” jawab penjual kue, Wawan menjawab koran ini, Sabtu (12/12) dini hari lalu.

Roti buaya untuk sang pengantin.

Selain Pasar Kue Subuh di Pasar Senen, ada juga pasar kue subuh di Blok M dan di Bintaro. Bagi anda yang suka wisata kuliner, coba aja kunjungi pasar subuh ini lumayan buat oleh-oleh. (esont)***

~ oleh esont pada Februari 17, 2010.

3 Tanggapan to “Sepenggal Malam di Jakarta”

  1. monas itu bukan lambang alu dan lumbung tapi alu dan lumpang

  2. Monas itu lambang Lingga & Yoni, lambang Pria & Wanita, seperti yg ada di candi-candi jaman dulu to.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: