Kasus Oknum Petugas BC Peras TKI

Heru Setioko

“Mereka Tak Ngaku”

BATUAMPAR (BP) – Staf kepatuhan internal (KI) kantor Bea dan Cukai Batam mengaku masih menyelidiki kasus dugaan pemerasan terhadap Suparman, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Bawean, Gresik, Jawa Timur, oleh dua petugas BC di pelabuhan feri internasional Batam Center, Kamis (13/5).

“Pemeriksaan telah dilakukan terhadap A dan U yang ditengarai telah memeras Suparman yang pulang dari Malaysia saat itu,” ujar Heru Setioko, staf Kepatuhan Internal Kantor BC Batam.

Sayangnya, dua oknum petugas di bagian hanggar masih berkelit tidak melakukan pemerasan terhadap Suparman yang membawa uang tunai dalam travel bag-nya sebanyak Rp80 juta saat itu.

“Tapi mereka tak mau ngaku,” ujar Heru Setioko menanggapi kasus itu di kantor BC Batam Batuampar kemarin (17/5).

Dikatakannya, pihaknya tetap serius menyelidiki kasus ini hingga tuntas dan akan memberikan sanksi tegas jika terbukti nantinya. “Kalau benar, uang korban akan diganti oleh mereka (A dan U,red). Keduanya juga akan ditindak tegas sesuai aturan,” ujar Heru yang turut didampingi sejumlah stafnya kemarin.

Untuk mengungkap kebenaran kasus ini, ia meminta pihak korban untuk memberikan kesaksian ke jajarannya agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam penanganan kasus tersebut.

Ditanya soal hasil pemeriksaan internal terhadap A dan U, Heru menyatakan keduanya mengaku telah memeriksa korban dan barang bawaannya sekitar pukul 09.15 WIB di ruang hanggar pelabuhan Batam Center.

Saat diperika, petugas menemukan pada alas tasnya yang telah terpasang resleting didapati beberapa ikat uang rupiah yang dibungkus pakai kertas aluminium foil.

Suparman lalu dibawa ke ruang hanggar untuk diperiksa lebih lanjut. Petugas mendapati uang pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu sebanyak Rp80 juta serta uang Ringgit Malaysia sejumlah RM 4 ribu. “Petugas juga menemukan uang sekitar Rp3 juta di dompet dan jeketnya,” katanya.

Saat diperiksa kata Heru, Suparman sempat melakukan aksi protes, tapi petugas yang ada memberi penjelasan padanya kalau membawa uang sebanyak Rp100 juta, harus melapor kepada Bea Cukai untuk memeriksa keaslian uang tersebut.

Karena uang yang dibawah kurang dari Rp100 juta, tas beserta uang itu dikembalikan ke korban dan mereka tidak memerasnya.

“Hasil pemeriksaan sementara, A dan U tak mengaku, jadi indikasi pemerasan belum kita temukan. Tapi masih kita selidiki lagi setelah meminta keterangan dari korban,” pungkasnya.

Sekadar mengingatkan, Suparman, salah satu tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia mengaku telah diperas oknum petugas Bea dan Cukai (BC) berinisial SH, saat turun dari salah satu kapal feri di pelabuhan Batam Center, Kamis (13/5).

Pemerasan itu menurut warga Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur itu, terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Ia disuruh membayar uang denda sebesar Rp5 juta karena membawa uang tunai sebanyak Rp80 juta dari negeri Jiran itu.

Saat turun dari kapal, kata dia, oknum petugas BC tersebut memeriksa satu per satu barang bawaannya dan mendapati uang Rp80 juta di dalam travel bag-nya.

Dijelaskannya, uang dalam pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu itu bukan miliknya, tetapi titipan teman-temannya yang juga TKI di Malaysia untuk keluarganya di Bawean. Dari jumlah tersebut, ada juga titipan dari para TKI untuk biaya pembangunan musala dan masjid di desa mereka di Bawean.

Ditanya apa alasan petugas tersebut meminta bayaran denda, Suparman mengemukakan, sang petugas beralibi jumlah uang tersebut terlalu banyak dan melanggar UU. ”Katanya harus kena 10 persen (Rp8 juta, red) sesuai UU. Saya sendiri tak ngerti apa benar ada aturan itu atau tidak, saya orang desa,” katanya.

”Saya tanya kok banyak betul pak. Terus dia jawab: UU-nya 10 persen. Terus dia minta Rp5 juta saja. Saya tawar Rp300 ribu. Eh, saya dibentak. Katanya apa-apaan cuma segitu Rp300 ribu. Ia akhirnya minta Rp2,5 juta,” ujar korban, kemarin.

Karena SH tetap ngotot, akhirnya Supaman dengan berat hati terpaksa membayar Rp2,5 juta. Begitu uang diberikan ke SH, Suparman langsung diminta keluar dari ruangan SH, tanpa memberikan kwitansi tanda terima.

”Saat saya mau ke luar dari ruangannya setelah uang Rp2,5 juta sudah di tangan mereka, SH sempat bilang ke saya: ikhlas ya! Mana ada orang diperas ikhlas,” ujarnya, lirih.

Suparman mengatakan, ciri-ciri petugas BC yang memerasnya itu, orangnya agak pendek, gemuk, berambut kriting dan alisnya tebal. Saat di ruangan BC, SH ditemani oleh seorang rekannya yang bertubuh kurus. ”Mereka pakai pakaian dinas Bea Cukai, orangnya agak garang,” ujarnya.

”Kalau uang pribadi saya, saya tak pusing. Masalahnya, uang tersebut semua titipan teman-teman asal Bawean yang kerja di Malaysia untuk keluarganya di kampung. Bahkan, ada juga titipan untuk bangun musala,” ujar Suparman, sedih.

Menanggapi kasus pemerasan itu, Iwan Agung, staf humas kantor Bea Cukai Batam mengaku geram dengan perbuatan oknum BC yang bertugas di pelabuhan feri internasional itu.

”BC tidak memungut biaya apapun dari penumpang yang hanya membawa uang Rp80 juta,” ujar Agung kepada Batam Pos, kemarin.

Dijelaskannya, penumpang atau siapapun yang membawa uang dari dan ke luar negeri akan dikenakan pajak dan harus ada izin dari kantor Bank Indonesia jika jumlah uang yang dibawanya Rp100 juta ke atas.

”Kalau di bawah Rp100 juta tidak ada masalah. Tapi nanti saya cek lagi di lapangan, ada tidaknya pungutan itu,” tuturnya.

Agung juga mengaku belum dapat memastikan bahwa SH adalah salah satu petugas BC di pelabuhan Batam Centre. ”Setahu saya tak ada petugas kami (BC) yang namanya itu (SH). Tapi nanti saya cek lagi,” ujarnya. (spt)

~ oleh esont pada Mei 18, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: