Pasir Putih Pantai Pongkar

Ratih, 25, memotret Fenny, 18 di atas pasir putih Pantai Pongkar.

Riak gelombang mendesir menyentuh bibir pantai Pongkar, matahari yang menyegat siang itu memantulkan sinarnya dari riak ombak yang bermain dibelai angin dan kapal-kapal yang melintasinya, Selasa, (13/7) siang lalu.

Pantai sepanjang 700 meteran ini, berpasir putih nan bersih. Berbentuk tapal kuda, di kiri dan kanannya berparonama bukit-bukit nan hijau.

Tampak sejumlah pengunjung sedang menikmati keindahan alam itu, beberapa pasang muda mudi dan rombongan keluarga duduk di beton-beton yang fungsikan sebagai tempat duduk. Berjejer bersama pohon-pohon rindang yang meneduhkan. Canda ria sembari menikmati minuman dingin pelepas dahaga menambah suasana menjadi lebih indah dan berkesan.

Ratih, 25, wisatawan domestik asal Pematang Siantar,  Sumatera Utara tampak sedang asyik mengabadikan adiknya, Fenny, 18 dan ibunya,
Tuti, 45, dengan kamera poketnya di atas pasir.

Terik matahari yang menyengat siang itu tak membuat Ratih dan adik dan ibunya kehilangan moodnya menikmati salah satu objek wisata bahari
yang ada di kabupaten berpenduduk 174.784 jiwa ini.

“Foto agak ke tengah aja yuk..sepertinya lebih bagus,” ajak Ratih kepada Fenny, 18. merekapun beranjak agak ke tengah, Fenny mengambil posisi
duduk menyamping menghadap ke pantai dan membelakangi pohon-pohon yang rindang di sepanjang pantai. Beberapa kali ratih menjepret adiknya dengan berbagai pose, seakan tidak ingin menyia-nyiakan kunjungannya di tanah melayu ini.

“Mumpung di sini, besok kami akan lanjut ke Batam. Adikku baru tamat sekolah, jadi saya ajak dia dan ibuku berlibur ke sini. Ternyata pantai di sini memang bagus, seperti cerita temanku,” tukasnya.

Di hari Sabtu dan Minggu, pantai ini lebih ramai dikunjungi, baik warga lokal maupun turis. Pantai Pongkar juga memiliki panggung khusus pertunjukkan kesenian. Warung-warung yang biasanya tutup di hari biasa, akan buka di akhir pekan dan hari-hari besar.

Tapi sayang, pantai indah ini tidak mempunyai wahana permainan yang bisa membuat pengunjung lebih banyak pilihan bermain.  Hiburanpun hanya digelar di hari-hari tertentu saja.

Pantai Pongkar dikelola oleh Ikatan Kekeluargaan Pemuda Pongkar (IKPAR). Hari Senin hingga Kamis tidak dipungut biaya masuk, sedangkan di hari Jumat, Sabtu , dan Minggu pengelola memungut biaya masuk sesuai kendaraan. Roda  dua dikenakan biaya Rp3000 sekali masuk, mobil Rp5000, dan kendaraan jenis bis dikenakan biaya masuk Rp7000.

“Uang masuk untuk biaya kebersihan pantai, kegiatan pemuda, honor penjaga, bahkan uang masuk itu kami gunakan untuk bantu guru ngaji TPA dan guru TK,” ujar Aris Ariwatan, 40, pemuda setempat yang diamini Aziz Ahmad, 60, yang juga warga setempat yang kami temui di rumah panggung
adat Melayu, komplek Pantai Wisata Pongkar.

Sekitar 3 km dari Pantai Pongkar, masih ada wisata alam, yakni air terjun Pongkar. Lokasinya berdekatan dengan Gunung Jantan, di wilayah hutan Lingung. Dari Pantai Pongkar bisa ditempuh selama 5 menit dengan sepeda motor. Untuk mencapai lokasi air terjun harus melewati jalan setapak sekitar 100 meteran dengan berjalan kaki.***

Rumah panggung khas melayu.

Ritual mandi Syafar

Menuju Pantai Pongkar tidaklah sulit, akses jalan yang sudah bagus semakin mempermudah pengunjung yang ingin menikmati pantai nan eksotis itu. Dari pusat kota di Tanjung Balai Karimun bisa ditempuh selama 25-30 menit dengan sepeda motor, taksi, maupun bis.

Jalan masuk ke lokasi pantai dari jalan utama juga sudah diaspal, gerbang selamat datang menandai lokasi wisata bahari itu.

Ritual mandi Syafar warga Desa Pongkar di tahun 2000, menandai dibukanya Pantai Pongkar sebagai pantai wisata untuk umum. Mandi Syafar dimaksudkan untuk membersihkan dan melindungi diri dari marabahaya. Ritual ini dilakukan di setiap bulan Syafar setiap tahunnya menurut penanggalan islam.”Entah kenapa, tahun lalu dan tahun ini tidak digelar mandi Syafar,”  ucap Aziz Ahmad sembari memperbaiki jaring ikannya di rumah panggung.”

Rumah panggung yang kami kunjungi, awalnya merupakan tempat penginapan bagi wisatawan. Rumah warga yang dikonrak oleh Dinas Pariwisata Pemkab Karimun. Mempunyai empat kamar, dua di bagian kiri dan dua di sisi kanan. masing-masing luasnya 4×4 meter. Dan di bagian tengah difungsikan sebagai serambi. Sangat nyaman untuk bersantai. Tapi sejak kontraknya habis, rumah adat melayu itu dikembalikan lagi kepada pemiliknya, Iskandar Kasim.

Sesekali pengelola yang didukung oleh Dinas Pariwisata Pemerintah Kabupaten Karimun, mengadakan acara besar di pantai ini, seperti lomba sampan layar, mengundang artis.

Kabupaten Karimun yang dipimpin Nurdin Basirun, terus berbenah untuk mengembangkan potensi wisata bahari dan keanekaragaman budaya masyarakat Karimun yang multikultur. “Selain budaya melayu, di sini juga ada reog, barongsai dan sejumlah kesenian budaya lainnya. Kami punya
potensi itu,” tukas Nurdin ketika ditemui di rumah dinasnya, awal pekan lalu. (esont)

Galery foto :

Panorama di sisi kiri.

Rileks.

Bermain di atas pasir putih nan bersih.

Panggung pertunjukan.

By esont.***

~ oleh esont pada Juli 20, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: