Nasi Bebek, Primadona Baru Di Batam

Rasanya yang gurih dan dagingnya yang lebih kenyal dari daging ayam, membuat bebek cepat diterima di lidah masyarakat Indonesia pada umumnya.

Nasi bebek.

Suatu sore di penghujung Agustus tiga pekan lalu, suasana di pusat kuliner Food Street Nagoya Hill begitu padat, banyak orang hilir mudik mencari masakan yang cocok disantap untuk berbuka puasa. Tak terkecuali di Raja Bebek, resto yang menjadikan bebek sebagai hidangan andalannya banyak yang mengantre.

Kursi – kursi yang tersedia di dalam sudah tidak bisa memuat lagi pengunjung, di luarpun kursi yang disediakan Raja Bebek sudah penuh. Budio, 37, yang datang bersama Melina Cahyani, istrinya, kebingungan cari tempat duduk. “Dimana kita duduk nih..?” gumamnya kepada istrinya. Yang ditanya juga bingung, toleh kanan kiri kursi sudah penuh.

Orwy, pemilik resto Raja Bebek yang sedari tadi turun tangan membantu karyawannya melayani pelanggannya memperhatikan Budio yang kebingungan cari kursi, segera menghampirinya. “Sebentar pak..saya carikan tempat duduk,” kata Orwy. Tak lama kemudian, Orwy menyilahkan duduk pelangganya di kursi resto tetangganya setelah minta izin sama empunya.

Warga Perumahan Masyeba, Tiban itu akhirnya legah mendapatkan tempat duduk dan langsung memesan dua porsi bebek goreng dan dua gelas teh obeng.”Saya penasaran setelah baca berita tentang bebek goreng di Batam Pos yang terbit hari ini, makanya saya ke sini,” ujar Budio tersenyum.

Karyawan PT Giken, Batuampar penggemar berbagai olahan masakan bebek ini mengaku sudah lama tidak menyantap nasi bebek sejak pindah ke Batam.”Semasa remaja saya sering menyantap nasi bebek, dari bebek goreng, opor bebek, masak kecap, bebek rica-rica, semuanya saya suka,” Budio menceritakan kegemarannya berburu nasi bebek semasa di Klaten, Jawa Tengah, kampung asalnya. “Nasi bebek juga bisa meningkatkan stamina, mas..” tukasnya sambil tertawa, istrinya yang sedari tadi banyak diam ikut tertawa juga.

Selain Budio dan istrinya, ada karyawati PT. At Oceanic Offshore yang memilih untuk berbuka puasa dengan menu nasi bebek. Mereka adalah Ari, 24, dan dua rekannya Winda, 22 dan Puji, 36. Blazer dan rok kerjanya belum sempat mereka ganti. “Kami langsung ke sini sepulang kerja,” kata Puji.

Mereka order bebek rica-rica, bebek goreng yang dimasak dengan bumbu asli Manado, Sulawesi Utara, yang rasanya pedas namun gurih di lidah. Cabe merah dan hijau utuh bertaburan di atas bebek goreng yang dipotong rada kecil-kecil. “Kami pesan bebek rica-rica karena di sini (Raja Bebek) andalannya memang itu,” ucap Ari.

“Bumbunya nendang-nendang di lidah tapi enak,” Winda menimpali rekannya lantas tertawa. Karyawati di bilangan Kabil Industrial Estate itu mengaku memang penggemar nasi bebek,”Kami biasa makan nasi bebek di Mon – Mon, Rosedale (Batam Centre), tapi sekarang sudah tutup. Jadi, kalau gak sempat ke Nagoya, kami berburu nasi bebek kaki lima yang tersebar di Batam Centre,” ungkap Puji. “Bebek lebih gurih dari pada ayam tapi sayang harganya lebih mahal,” celetuk Winda.***

Beberapa bulan terakhir, nasi bebek menjadi primadona baru di Batam. Ini ditandai dengan banyaknya penjual nasi bebek yang tersebar di Batam. Dari resto di mall-mall, di ruko-ruko hingga penjual kaki lima.

Orwy Watuseke, pemilik Raja Bebek yang memulai usahanya dengan menjual nasi bebek lesehan di Tiban Mc Dermott lima tahun lalu itu mengklaim bisa menjual hingga 400 porsi di tiga warung makannya di akhir pekan atau sekitar 100 ekor bebek, sedangkan di hari-hari biasa bisa menjual 60 persennya. “Kalau dirata-ratakan antara 70 sampai 100 ekor bebek per hari,” kata Orwy.

Sebuah angka yang tidak sedikit, “Lalu bagaimana ketersediaan bebeknya sendiri?” tanyaku. “Kami sudah punya langganan yang menyalurkan bebek,” jawabnya. Ketidaklancaran distribusi bebek pernah juga dirasakan Orwy, karena di Batam tidak banyak peternak bebek pedaging.

Distribusi mengandalkan pasokan dari Surabaya, Jawa Timur. Lalu mencoba pasokan dari Padang, Sumatera Barat. “Pernah juga kami kesulitan pasokan bebek, kendalanya ongkos kirim yang mahal,” tukas Orwy. “Tapi sekarang pasokan sudah lumayan lancar,” ucapnya. Bebek di Batam tidak lagi sulit ditemukan, selain pasokan bebek segar dari Surabaya, Medan, dan Padang, pasokan dari Malaysia juga masuk ke Batam.

Namun bebeknya sudah dalam kemasan per ekor dan ukurannya lebih besar. Jika bebek lokal beratnya hanya mencapai saku kilo lebih, bebek Malaysia bisa mencapai dua kilo lebih dan dagingnya sudah bersih dari bulu.

Mengenalkan menu nasi bebek bukan perkara yang gampang. Itulah yang dirasakan oleh Orwy, ketika merintis nasi bebek di Tiba Mc Dermott 2005 silam. “Pertama buka saya hanya berani satu ekor, untung waktu itu ditopang dengan penjualan bandeng presto yang lebih dulu familiar di lidah orang sini, sehingga bisnis lumayan lancar,” cerita Orwy.

Penikmat nasi bebek di Resto Raja Bebek.

Semakin lama, menu nasi bebek Orwy yang waktu itu hanya bebek goreng bumbu ala Kendal, Jawa Tengah, semakin dikenal warga Tiban, terutama Tiban Mc Dermott dan sekitarnya. dari satu ekor meningkat lima ekor, lalu sepuluh ekor hingga lima belas ekor.

Yang tadinya hanya racikan bumbu Kendal, Orwy mulai mencoba olahan variasi bumbu untuk menemukan resep yang pas untuk lidah nusantara, dari rica-rica, balado, lada hitam, bebek keprek.

Dua tahun kemudian, Orwy membuka gerai baru di Nagoya Hill, namanya restonya”Bebek Gurih”.”Waktu itu permintaan semakin banyak, sehari bisa empat puluh ekor,” tukasnya. Namun”Bebek Gurih” tidak bertahan lama. Lalu Orwy membuka restoran baru yang dinamakan “Raja Bebek” hingga sekarang.

Daftar menunya pun bertambah, namanya terdengar agak unik, bebek bagor atau bebek yang diolah hingga beberapa tahap, tapi intinya bebek itu digoreng dulu bersama bumbunya lalu dibakar. Karena permintaan bebek semakin tinggi, Orwy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Raja Bebek buka gerai baru di Tiban Cipta Puri.***

Bebek goreng atau nasi bebek adalah menu yang populer di Surabaya, Madura, Bali, dan beberapa wilayah di Jawa Tengah. cara mengolah bebek memang lebih repot dari pada mengolah ayam. Dari teknik menghilangkan bau hingga mengempukkan dagingnya.

Banyak trik-trik mengolah bebek agar bisa disajikan dengan rasa yang mantap di lidah. Setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk mengolahnya sesuai dengan seleranya. Ada yang dimasak dengan beling (kaca), ada juga yang cara masaknya ditusuk-tusuk dengan garpu agar dagingnya empuk.

Meningkatnya penggemar bebek goreng atau nasi bebek di Batam, semakin bertambah pula penjual makanan yang menjual menu bebek goreng. Dan rata-rata selalu laku. Warung tenda Nasi uduk Simpang Frengky, Batam Centre, misalnya, menu bebek gorengnya selalu dicari pelanggannya yang semakin hari semakin banyak.

Warung kaki lima yang juga menjual ayam penyet, pecel lele ini punya andalan yang bisa membuat pelanggannya untuk kembali lagi. Yakni sambalnya yang segar apalagi jika dilahap bersama bebek goreng dan nasi uduk.

“Sambalnya baru kami racik setelah ada pelanggan,” ujar Marji,27, salah satu pengelola warung tenda Nasi Uduk Simpang Frengky, selasa (7/9) lalu. Warung tenda ini menyediakan nasi uduk atau nasi putih sebagai pilihan santapan bebek gorengnya.

lebih murah jka dibandingkan dengan resto atau warung bebek lainnya. Seporsi dibanderol Rp16 ribu (Bebek goreng dan nasi uduk), sedangkan warung bebek lainnya mematok harga kisaran Rp20ribu – Rp25 ribu per ekor lain nasi. “Bebek kami bebek lokal, jadi selalu segar,” tukas Marji.

Sejak empat tahun lalu, “Nasi uduk Simpang Frengky” memang menjadikan menu bebek sebagai salah satu menu andalannya.”Sehari bisa menghabiskan enam sampai 12 ekor bebek,” ujar pria asal Lamongan Jawa Timur ini.

Bebek goreng di Nasi Uduk Simpang Frengky sering ludes lebih awal dibanding menu-menu lainnya. Buka pukul 18.00 WIB, dua jam kemudian pelanggan yang datang akan gigit jari karena bebek gorengnya sudah ludes. “Sering ada yang borong, biasanya pekerja PT yang sedang punya acara,” katanya.

Tak jauh berbeda dengan Nasi uduk Simpang Frengky, warung tenda “Mekar Sari Sea Food” yang berlokasi di sekitar ruko Kurnia Djaja Alam (KDA), Batam Centre, menu bebek gorengnya salah satu andalannya.”kalau tanggal muda cepat habis, kadang baru buka sudah ludes,” ungkap Ita, 43, pemilik Mekar Sari Sea Food ketika ditemui, Rabu (1/9) lalu.

“Mekar Sari Sea Food” bisa menjual enam hingga 10 ekor per harinya atau 60 porsi bebek goreng. “Kami menyediakan menu bebek goreng karena banyak nanya,” ucap Ita. Dua tahun lalu, warungnya tidak menjual bebek goreng, hanya menjual aneka masakan laut (sea food) dan ayam penyet.

“Bebeknya memang kami batasi karena kami juga menjual banyak menu lainnya,” ujar perempuan asli Kediri, Jawa Timur ini di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan membantu karyawannya.

Usaha Ita semakin maju, dari semula hanya bisa menggelar tujuh meja pendek-pendek, kini terjejer 11 meja dengan ukuran yang panjang-panjang. Karyawannya juga bertambah.”Alhamdulillah bisa membantu pemasukan orang lain,” ujar perempuan yang memperkerjakan tetangganya itu.

“Mekar Sari Sea Food” tidak hanya menjual bebek goreng biasa saja tapi menyediakan juga bebek balado, bebek cabe ijo, bebek bakar, dan bebek asam pedas.”Kalau ingin bebek yang selain goreng, harganya tambah seribu,” pungkasnya. Bebek goreng “Mekar Sari Sea Food” dibanderol Rp20 ribu per porsi. Sedangkan nasi uduk Rp4 ribu satu piring.

Ita lebih memilih bebek Malaysia daripada bebek lokal,”Yang lokal terkesan jorok karena bulu-bulunya kadang masih ada yang nempel, sedangkan bebek Malaysia lebih bersih dan esar-besar, pelanggan sering protes,” tukasnya.

Banyaknya permintaan bebek goreng atau nasi bebek juga dialami Soto Ayam Joyoboyo, Nagoya. Warung makan di seberang Lucky Plaza ini, sejak dua bulan lalu mulai menjual nasi bebek sebagai menu barunya.

Warung Jawa Timuran di Jalan Imam Bonjol ini, tergiur juga menjual nasi bebek setelah bertahun-tahun bertahan dengan menu ayam penyet, soto ayam, dan tahu teknya sebagai menu andalannya. “Lagi musim dan banyak yang nanya-nanya, mas..” jawab Majid, 29, karyawan Soto Ayam Joyoboyo, ketika ditanya kenapa menjual nasi bebek, Selasa (7/9) sore lalu.

Dalam sehari “Soto Ayam Joyoboyo” bisa menjual rata-rata lima belas ekor bebek. Satu ekor bisa empat sampai enam potong, tergantung besar kecilnya bebek. Soto Ayam Joyoboyo yang juga punya cabang di simpang empat Bengkong ini, menggunakan bebek lokal dan bebek Malaysia.

Meningkatnya penggemar bebek goreng atau nasi bebek, membawa berkah juga kepada pedagang unggas di pasar-pasar basah dan peternak bebek lokal tentunya. Kalau dulu, tidak ada peternak bebek sekarang sudah banyak yang mencoba beternak unggas yang telurnya juga menjadi makanan yang enak disantap ini.

Adalah Joko, 19, pedagang daging dan unggas di Pasar Mega Legenda, Batam Centre. Sejak setahun lalu mulai menjual bebek impor asal malaysia. Bebek yang sudah bersih dari bulu dan dijual per ekor dalam bungkus plastik yang disimpan dalam kotak pembeku. “Rata-rata laku dua puluh ekor per harinya,” kata Joko sembari memotong bebek pesanan pelanggannya, Jumat (3/9) lalu.

Daging bebek punya Joko dibanderol Rp30 ribu per kilo gramnya. Penjual daging ayam “Ayam Potong Syariah” di Pasar Mega Legenda yang awalnya hanya menjual ayam, sekarang juga menyediakan bebek. selain bebek Malaysia, juga menjual bebek lokal.

“Pelanggan bebek kami tidak banyak, sehari hanya laku lima sampai enam ekor saja,” ujar Mamat,40, pemilik Ayam Potong Syariah. Di pasar-pasar tradisional yang ada di Batam kini mudah dijumpai penjual bebek lokal maupun impor, seiring dengan banyaknya penjual nasi bebek atau bebek goreng.

Dengan masuknya bebek asal Malaysia, peternak dan distributor bebek lokal menurun tingkat penjualannya. Seperti yang dirasakan peternak bebek di Tanjungpiayu, H Panjaitan.”Dulu saya bisa menjual tiga puluh ekor per hari, kini tidak sampai sepuluh ekor,” ucapnya ketika memasukkan ternak bebeknya ke “Ayam Potong Syariah”.

Bebek goreng atau nasi bebek mejadi primadona baru di Batam, bagi yang gemar incip-incip wisata kuliner di Batam dan belum pernah merasakan gurihnya bebek goreng, dijamin tidak akan kecewa menyantapnya untuk menu makan siang atau makan malam. Akan lebih seru makan rame-rame ..selamat incip-incip, wek-wek-wek. (esont)

~ oleh esont pada September 29, 2010.

5 Tanggapan to “Nasi Bebek, Primadona Baru Di Batam”

  1. saya pengemar bebek goreng sambel korek (sambal bawang), hampir seminggu lima kali saya menyantapnya, tp saya belum pernah coba bebek import dari malaisia, apakah rasanya sama dgn bebek lokal, thanks

  2. dari beberapa nasi bebek (malaysia) yang sy makan tidak segurih bebek lokal, meskipun ukuran bebek lokal lebih kecil. sy jg pernah masak sendiri bebek malaysia..rasanya memang kurang cocok dgn lidahku.

  3. hallo apa kabar

    saya Dhanniel saya ternak bebek lokal.apakah persahaan yang bapak ibu pimpin berminat.
    Untuk sekarang harga kami harga jakarta adalah Bebek potong tampa kepala dan ceker dan isi perut Rp.35.000/Ekor

    regards]]

    Dhanniel
    +6281-7652-7879

  4. slm kwek kwek..sy lg merintis peternakan bebek jenis lokal di batam,bila berkenan sy ingin ikut memasok kebutuhan rmh makan yg bpk/ibu kelola.kl boleh saran bahwa cita rasa bebek lokal atau ayam kampung lebih ok ketimbang produk luar,mari kita cintai unggas lokal indonesia. anggoro 081931181167

  5. saya peternak bebek potong di area pulau batam,ingin menawarkan,jikalau restoran/rumah makan bapak/ibu membutuhkan daging bebek,saya siap menyuplainya.di jamin segar.hubungi 081364293572. harga kompromi. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: