Gasing Belakangpadang

Febri,8, Firman, 13, dan Arifin, 11 dilatih M Abbas di Gelanggsang Gasing “Datuk Setia Amanah” Belakangpadang.

GERIMIS tak kunjung reda. Angin yang berhembus terasa dingin menyentuh kulit, Kamis (30/9) siang lalu. Namun tiga anak berseragam sekolah merah putih sekan tak memedulikan  hal itu. Mereka tampak giat dan bersemangat melemparkan gasing  dengan seutas tali sepanjang tiga meteran ke tanah yang telah dipadatkan di Gelanggang Gasing ”Datuk Setia Amanah” Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakangpadang.

”Coba lagi, lebih lama. Empat menit!” perintah Muhammad Abbas, 38, pelatih gasing berkumis lebat itu.  Ketiganya langsung melilit gasing masing-masing dengan tali yang dikaitkan di pergelangan tangannya. Lalu mereka ambil posisi berbeda dari tiga mata arah angin mengitari garis lingkar tempat gasing harus dilemparkan. Gasing yang terbuat dari kayu yang dibawahnya bertumpu pada kawat besi itu pun dilemparkan bersamaan setelah mereka melangkah tiga kali dengan posisi kuda-kuda.

Mereka adalah tiga atlet muda Gasing andalan Batam, Febri,8, Firman, 13, dan Arifin, 11. Sementara pelatih mereka Muhammad Abas dan Amiruddin, 37 dengan sabar dan telaten memberi arahan dan membagi ilmunya. Meskipun latihan penuh disiplin, kadang pecah tawa yang mencairkan suasana.
Tiga atlet muda itu tak hanya dalam bimbingan dua pelatih bersetifikat gasing Asean, mereka juga diawasi wasit gasing Asean, Agustian, 39 dan atlet senior gasing, Megawati, 39, Agus, Abu Bakar, dan Edi. Mereka bermain bergantian.
Gelanggang 8 x 8 meter itu di dalam bangunan sederhana seluas 10 x 10 meter yang sekelilingnya berpagar kawat. Jadi, penonton akan mudah menonton permainan yang sedang berlangsung di dalam gelanggang.

Mereka sedang mempersiapkan penampilan mereka di Pameran Gasing Nusantara  di Gedung Sumatera Promotion, Batam Centre yang akan berlangsung 25 – 27 Oktober 2010 mendatang. Tim dari Lombok, Bali, Jakarta, dan Tanjungpinang akan menampilkan kebolehan masing-masing. ”Tidak ada lomba, hanya eksibisi,” kata Agustian.

Permainan gasing telah menjadi salah satu daya tarik di pulau yang diberi gelar Pulau Penawar Rindu ini. Setiap wisatawan yang datang berkunjung ke pulau yang dekat dengan Singapura ini selalu berkunjung ke gelanggang gasing. Apalagi wisatawan asing, mereka begitu antusias untuk melihat dan mencoba permainan yang membutuhkan keahlian ini.

Gelanggang warisan mantan Presiden Gasing Asean, (alm) Jumain itu telah menjadi aset berharga bagi Belakangpadang. “Obyek-obyek dan budaya yang ada akan kita pertahankan dengan segala keterbatasan kami, kami semua jadi relawan wisata,” ujar Ketua Kelompok Sadar Wisata Belakangpadang, Jamiat, 48.

Selain permainan gasing, Belakangpadang juga mempunyai kreasi seni yang bisa diandalkan. Yakni, Dzikir Barat, sejumlah kreasi tari Melayu, atraksi pencak silat dan Kompang. Tak hanya itu, di Belakangpadang juga mempunyai pantai yang indah (Pantai Melawa dan Pantai Pasir Putih), dan Pantai Indah di Pulau Lengkana.

”Di sini juga ada Klenteng yang kerap dikunjungi turis Singapura dan Korea, tempatnya di Kelurahan Tanjungsari” kata Jamiat.
Jalan-jalan wisata tanpa kuliner seperti hambar.

Lalu apa kuliner khas Belakangpadang?
Kecamatan Belakangpadang terdiri dari enam kelurahan, empat kelurahan terpisah dari Pulau Belakangpadang, yakni Kelurahan Kasu, Pecong, Terong, dan Pemping. Sedangkan dua kelurahan yang ada di Pulau Belakangpadang adalah Kelurahan Tajungsari dan Sekanak Raya. Populasi penduduknya secara keseluruhan mencapai 24. 141 jiwa. Sedangkan yang ada di Pulau Belakangpadang saja (Tanjugsari dan Sekanan Raya) sebanyak 14. 656 jiwa. Mayoritas penduduknya adalah Melayu.

Karena mayoritas penduduknya adalah Melayu, kulineri yang terkenal di sini juga masakan Melayu, seperti ikan asam pedas, sotong saos hitam, sotong masak kuning, ikan bakar, daun ubi nasi lemak, dan lauk ikan singgang. Sedangkan jajanan yang khas adalah tepung gomak, kole-kole, abuk-abuk, laksa, dan roti kirai.

”Kami juga punya jajan dan kerajinan tangan yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh, yakni keripik sambal  ubi dan keladi, sedangkan souvenirnya  adalah aneka kerajinan yang terbuat dari kulit kerang, kulit jagung, dan sisik ikan,” ucap Nur Hasanah, 42, bagian Pembangunan Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Belakangpadang.  “Cendol Belakangpadang juga khas rasanya dan istimewa, patut dicoba,” tambah perempuan berjilbab ini berpromosi.***

Ruang tamu rumah Sri Ningsih di Kampung Bugis-Batu Gajah.

Bisa Nginap Di Rumah Penduduk

Masyarakat Belakangpadang yang terbuka bagi pendatang, menjadikan pulau yang berjarak sekitar 20 menitan perjalanan kapal pancung dari Pelabuhan Sekupang ini selalu menarik dikunjungi.

Tidak hanya kuliner atau keseniannya saja yang menarik untuk dilihat dan dinikmati. Budaya dan keseharian masyarakat Belakangpadang ternyata juga membuat wisatawan tertarik untuk mengamatinya. Peluang inilah yang ditangkap oleh warga dan instansi terkait untuk dijadikan komoditas wisata.

Maka diaturlah rumah-rumah sedemikian rupa, agar layak untuk ditempati wisatawan. Sementara warganya dibina agar siap menerima dan sanggup melayani wisatawan dengan baik. “Sekitar 20 unit rumah yang kami siapkan untuk dijadikan Homestay,” ungkap Nur Hasanah, 42, bagian Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Belakangpadang.

“Masyarakat Belakangpadang sudah siap menerima tamu yang ingin menginap,” tambahnya lalu tersenyum yang diamini Ketua RT 02 RW 01 Kampung Bugis – Batu Gajah, Abdul Rahman, 60.

Rumah penduduk yang siap huni (Homestay) rata – rata berada di wilayah Kampung Bugis – Batu Gajah. Sebagian besar rumahnya adalah rumah panggung yang menjorok ke laut. Dinding rumahnya terbuat dari papan yang dicat dengan baik, warnanyapun menarik. “Yang pernah nginap di sini pelajar dari Hongkong, Korea, dan Singapura. Selain melihat keindahan alam dan mengamati budaya serta keseharian penghuni rumah yang mereka tinggali, mereka juga bekerja bakti di sini,” tukas Jamiat, 48, Ketua Kelompok Sadar Wisata Belakangpadang.

Sri Ningsih, 42, adalah salah satu warga yang rumahnya dijadikan Homestay oleh pelajar dari Korea, 27 – 29 November 2009 silam. Rumah berukuran sekitar 8 x 12 meter itu mempunyai dua kamar tidur, satu ruang tamu yang lumayan luas, ruang keluarga yang dilengkapi dengan televisi dan kipas angin, dapur, dan teras yang nyaman.

“Kamar depan yang mereka tempati, tapi mereka lebih suka tidur di ruang keluarga sembari nonton tv, kamar hanya untuk menyimpan barang saja,” Sri menceritakan tingkah laku tamu asingnya.

Dua hari tinggal bersama keluarga Sri Ningsih, lima pelajar Korea bersama seorang guidenya merasakan kehidupan sehari-hari keluarga nelayan ini.

Mereka berbaur dan berkomunikasi seperti keluarga sendiri. “Saya memasak mereka juga ikut ke dapur, dan mereka juga makan apa yang kami makan. Tapi mereka tidak suka dengan masakan yang terlalu pedas, jadi kami sesuaikan dengan selera mereka,” ucap Sri.

Di hari terakhir sebelum pulang, para tamu asing ini dikumpulkan di suatu tempat. Mereka disuguhi sejumlah atraksi seni dan budaya masyarakat setempat. “Semuanya memakai baju Melayu, meskipun kadang ada baju yang kurang pas, mereka tetap suka dan tertawa,”  ungkap Abdul Rahman.

“Homestay ini kami percayakan kepada Kelompok Sadar Wisata untuk mengurusnya,” pungkas Nur Hasanah. (esont) ***

Galery Foto :

Pancung Belakangpadang.

Aksi M Abbas bermain gasing di atas kukunya.

Home stay di Kampung Bugis-Batu gajah.

Kerajinan kulit jagung, sisik ikan,  dan kulit kerang .

Nikmatnya teh susu Belakangpadang.*** (By esont)

~ oleh esont pada Oktober 9, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: