Tak Pernah Sepi Pengunjung

Fotografer membidik salah satu Smiling Budha di ruang tengah.

Wisata Religi Ke Maha Vihara Duta Maitreya
KESIBUKAN koki dan bagian pelayanan Restoran vegetarain Maha Vihara Duta Maitreya agak tenang dibanding dua tiga jam sebelumnya, Rabu (21/10) siang lalu. Sebagian besar meja sudah ditinggalkan pengunjungnya. Namun, pendatang tetap keluar masuk walaupun tidak banyak. Tampak empat wisatawan asing sedang antre memilih menu vegetarian yang disajikan prasmanan.

Salah satu vihara terbesar di Asia Tenggara tersebut memang tidak pernah sepi dari kunjungan wisman, baik wisatawan asing maupun wisatawan domestik.”Sabtu dan Minggu sepuluh bis wisatawan, di hari lainnya lebih sedikit, sekitar empat sampai lima bis,” ungkap Humas Maha Vihara Duta Maitreya, Alvin Octavianus Yolanda.

“Jumlah pastinya gak bisa kami pastikan, karena kami tidak punya database kunjungan tamu” tambahnya. Wisatawan asing yang kerap mengunjungi vihara yang terletak di Jalan Bukit Beruntung, Sei Panas, ini mayoritas dikunjungi wisatawan dari negara-negara Asia, seperti Korea, India, Jepang, Taiwan, Thailand, China, Singapura, dan Malaysia. “Turis asal Eropa dan negara lainnya sedikit,” Terang Alvin.

Lebih lanjut, Alvin menerangkan bahwa rata-rata wisatawan yang berkunjung untuk melakukan ritual ibadah.”Setelah ibadah, tour guidenya mengajak rombongannya kelililng gedung, ke resto, dan foto-foto. Tapi yang sering dapat perhatian itu tempat penampungan barang bekas dan sekolah,” katanya. “Mereka heran, vihara kok ada tempat penampungan barang bekasnya dan untuk sekolah mereka tertarik dengan program tidak boleh mengkonsumsi masakan daging selama jam sekolah,” tambahnya.

Maha Vihara Duta Maitreya menempati sebidang tanah seluas 4,5 hektar, tidak jauh dari Pelabuhan fery internasional Batam Centre, sekitar 10 menit perjalanan dengan kendaraan.
Diresmikan 23 Januari 1999 silam. Bangunannya yang megah terdiri dari tiga bangunan utama, terdiri dari lima graha atau tempat ibadah, yakni Graha Avalokitesvara atau Kwan Im terletak di bagian depan kiri gedung, Graha Budha Gautama di tengah, Graha Budha satya Kalama atau Kwan Tong terdapat di kanan depan, sedangkan dua graha lainnya terletak di lantai dua dan lantai tiga, yakni Graha Patriat dan Graha Maitreya.

Seluruh bagian gedung didekorasi begitu menarik dengan lorong-lorong yang besar dan pilar-pilarnya yang kokoh. Sebagian besar tembok-temboknya dilukis, lukisan yang menceritakan perjalanan Budha dan sejumlah lukisan dengan pesan moral.

Selain tempat ibadah, sekolah, restoran, dan tempat penampungan barang-barang bekas, dalam komplek Maha Duta Maitreya juga terdapat Sekolah, asrama, audiotarium, klinik untuk umum, dan gedung olahraga.

Maha Vihara Duta Maitreya juga mempunyai agenda rutin setiap tahunnya. Seperti pagelaran seni dan budaya yang selalu dihadiri ribuan pengunjung. Cap go Me yang digelar hari ke lima belas Imlek, Malam kesenian Waisak biasanya diselenggarakan di bulan Mei, Moon Cake Festival biasanya di bulan September atau bulan 8 tanggal 15 Lunar (penanggalan China), dan Peringatan hari Vegetarian se-Dunia setiap 1 Oktober.

Bazar makanan vegetarian selalu ramai pengunjung setiap tahunnya, tak hanya pengunjung lokal, wisatawanpun banyak yang datang.”Kami juga rutin mengadakan seminar tentang kesehatan dan lingkungan dalam rangkaian Hari vegetarian,” tukas Alvin.***

Wajah Baru Maitreya

Budha memainkan gitar bulan (laqin), berat patung ini mencapai 5 ton.

SEJAK dua pekan lalu, ada yang baru di Maha Vihara Duta Maitreya. Pelatarannya yang luas kini tak tampak kosong lagi, sebabnya enam belas buah patung dengan bermacam-macam ekspresi tapi selalu khas dengan wajahnya yang selalu tampak tersenyum itu menjadi penjaganya.”Inilah yang dibilang orang Smiling Budha,” ucap Alvin, sembari menunjukkan kehalusan ukiran Budha yang sedang memegang mikropon seperti menyanyi atau sedang berpidato.

“Aslinya gak ada yang beginian, mungkin senimannya hanya untuk memperindah saja,” tukas Alvin.

Empat belas patung beratnya sekitar dua ton, sedangkan dua lainnya beratnya mencapai lima ton. Selain di luar gedung, ada dua patung besar seberat lima ton yang menjadi penghuni baru Vihara Maitreya yang ditempatkan di taman dalam. Patung-patung Smiling Budha ini menambah koleksi Vihara Maitreya yang sebelumnya sudah mempunyai sejumlah patung Budha yang terbuat dari kayu dan tembaga.

“Patung Smiling Budha ini baru datang sepuluh harian lalu dari China. Dan menjadi objek foto baru bagi pengunjung,” jelasnya.

Tak hanya patung smiling Budha yang baru, pilar-pilar yang sebelumnya berwarna krem kini dicat putih. Sejumlah pekerja juga sedang sibuk mengganti tegel baru di sejumlah selasar yang luas.”Dengan wajah baru, semoga jadi lebih baik,”pungkas Pandita Liyas Masri. (esont)

~ oleh esont pada Oktober 30, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: