Kesederhanaannya Mencuri Hati Wisatawan

Orang memanjat pohon kelapa jadi sesuatu yang menarik bagi wisatawan.

Masuk ke kampung Batumerah, Batuampar saat ini tentu berbeda dengan sepuluh atau belasan tahun lalu. Kampung pesisir di sudut barat Pulau Batam ini pernah punya restoran sea food yang terkenal dan restoran seafood pertama di Batam, Restoran Seafood Lestari namanya.

Rombongan wisatawan yang dibawa oleh bus-bus travel setiap hari keluar masuk Restoran Seafood Lestari, siang dan malam selalu ramai pengunjung. Selain masakannnya yang terkenal lezat, panorama yang ada di sekitar restoran itu juga indah. “Waktu itu, pantai Tanjungdatuk menjadi tempat liburan favorit pekerja Mukakuning dan warga lokal. Sedangkan kalau malam, puluhan lampu nelayan yang sedang berebut mendapatkan ikan dan kepiting, menghiasi sepanjang pantai Tanjungdatuk,” kenang Koordinator Kampung Wisata Batumerah, Rudi Harian, Kamis (11/11) lalu.

 

Bekas bangunan Restoran Seafood Lestari itu kini telah hancur, lapuk dimakan zaman. tinggal kerangka-kerangka kayu yang tidak kokoh. Airnya yang dulu jernih kini juga sudah berwarna, keruh.”saya tahu kejayaan Restoran Seafood Lestari hingga bangkrutnya, dulu saya bekerja di sana bahkan ikut membangun kelongnya,” ucap Rudi sembari menghisap rokok filternya dalam-dalam.

Kejayaan kelong pertama itu memang sudah tamat. Kini warga Kampung Batumerah terutama di RT 02/RW 08 mulai kedatangan tamu asing lagi. Ya, tamu mancanegara yang sedang berwisata ke Batam. Tidak ada rekayasa kampung yang berlebih-lebihan di sini. Mulai dari jalan masuk yang tidak mulus, selokan-selokan yang terbuka, dan rumah-rumah penduduk yang bisa dibilang apa adanya. Hanya panggung Kuda Kepang atau Kuda Lumping ukuran 5 x 4 meter dan tempat duduk tamu yang terbuat dari kayu beratap rumbia. Panggung ini bukan berlokasi di tanah lapang tapi diapit rumah-rumah penduduk dan pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang serta rimbunnya daun pandan.

Pintu masuk ke panggung Kuda Kepang ini tidak melalui gapura tetapi masuk lewat jalan tanah yang becek di samping rumah warga.”Mereka suka yang apa adanya seperti ini, mereka ingin melihat keseharian masyarakat setempat,” ujar Rudi. Panjang lebar Rudi menceritakan kecenderungan tamunya itu.”Mereka ingin melihat yang benar-benar alami, seperti kelapa, pohon kapuk randu, daun sirih, rumah panggung, lauk pauk warga sehari-hari, cara memasaknya, ke pasar, bahkan tempat tidur dan WC aja mereka lihat. Kadang mereka foto semua yang mereka lihat. Tapi mereka juga senang berderma kepada warga sini,” tuturnya.

Lebih lanjut Rudi menceritakan,”Di negeri asalnya pohon kelapa tidak setinggi seperti di sini, mereka ingin tahu dari cara mengambilnya hingga meminum airnya dan makan dagingnya.

Juga mereka suka jika diceritakan tentang kegunaan dari sejumlah tanaman dan pohon yang ada di sekitar sini. Ketika melihat pohon kapuk randu, guide tournya bilang ke mereka kalau sepatu yang mereka kenakan asalnya dari pohon ini. Ketika melihat pohon mengkudu kami bilang ke mereka bahwa mengkudu itu pohonnya seperti ini karena yang mereka tahu selama ini sudah berbentuk kapsul.

Mereka umumnya senang,” tukas Rudi. Meskipun tidak berbenah, warga juga menyambut kedatangan mereka dengan kompang sebagai tanda kalau mereka sedang berada di tanah Melayu. Setelah itu mereka disuguhi aksi Kuda Kepang atau Kuda Lumping, permainan rakyat asli Indonesia ini cukup menarik perhatian mereka. Apalagi kalau bukan aksi yang rada berbahaya ini, aksi makan beling (kaca), permainan api, dan menggigit serabut kelapa.

“Pernah kami mewarkan kepada mereka kuda kepangnya akan makan silet tapi mereka tidak mau, ngeri katanya,” kata Rudi lantas tersenyum mengingat ekspresi takut tamunya itu.

Selain disuguhi permainan Kuda Kepang, wisatawan yang rata-rata berasal dari Korea ini juga disuguhi kopi lokal Sumatera. Sedangkan warga juga bisa menjual sovenir dan buah pisang 40 hari. “Mereka cuma tertarik jenis pisang 40 hari, pernah ditawarkan jenis pisang yang lain tapi mereka tidak mau,” ucap Rudi.

“Mereka beli pisang itu bukan untuk mereka makan sendiri tapi mereka bagi-bagikan kepada anak-anak kampung ini. Kadang juga memberi uang,” tambahnya.

Senada dengan Rudi, Direktur VIP Tour & Travel, Andika Lim, mengatakan,”Mereka cukup berminat berwisata ke kampung yang masih asli, menonton tarian Kuda Kepang dengan kostumnya yang menarik yang diiringi dengan musik sederhana dan aksi makan kaca dan makan arang, melihat orang manjat kelapa, melihat anak-anak kecil kampung yang sedang bermain, melihat pantai, itu mereka suka,” tuturnya.

VIP Tour & Travel merupakan mitra Kampung Wisata Batumerah.

Dian Krisdianto, 13, siswa kelas tiga SDN 003 Tanjungsengkuang contohnya, warga Kampung Batumerah yang sering mendapat kemurahan hati wisatawan Korea,”Saya pernah dikasih pensil, permen, dan pernah uang 1 dolar Amerika,” Dian menceritakan pengalamannya. Begitu juga Henri Saputra, 7, kelas dua SD Ibnu Sina yang rumahnya tidak jauh dari panggung Kuda Kepang.

Setiap ada rombongan wisatawan yang bertandang dan kalau kebetulan sudah pulang sekolah, Henri selalu hadir di area panggung itu dan berbaur dengan wisatawan tersebut. Tak jarang Henri mendapatkan uang dan kenang-kenangan lainnya.”Kadang diajak foto bareng,” katanya lugas.***

Setiap Pekan Ada Kunjungan
Dengan kesederhanannya, Kampung Batumerah telah menawan wisatawan Korea. Meskipun tanpa publikasi dan tidak gembar-gembor dalam menawarkan pelayanannya Kampung Wisata Batumerah secara tidak langsung telah menyumbang devisa dan menjadi potensi yang tidak boleh dilirk dengan sebelah mata.

Sejak sembilan lalu dirintis, wisatawan yang berkunjung bisa dibilang stabil.”Setiap pekan pasti ada kunjungan. kadang satu group, kadang sampai tiga group sehari,” ujar Koordinator Kampung Wisata Batumerah, Rudi Harian.

Dari catatan Rudi, kunjungan tertinggi di bulan Oktober. Wisatawan yang berkunjung mencapai 17 group atau 237 orang. Meningkat dari bulan-bulan sebelumnya.”Bulan Agustus dan September menurun karena di bulan itu menurut kepercayaan mereka adalah bulan hantu jadi mereka tidak banyak melakukan aktivitas di luar rumah,” tutur Rudi.

“Kami optimis ini akan berjalan baik, jika status kampung ini sudah dipastikan menjadi Kampung Tua, rumah-rumah akan kami tata ulang sehingga menjadi Kampung Tua yang layak,” pungkasnya. (esont)

Galery Foto :

Suasana di Kampung Batumerah, Batuampar.
Anak-anak Batumerah bermain di Panggung Kuda Kepang.
Kondisi Pantai Tanjungdatuk terkini. By esont.***

~ oleh esont pada November 30, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: