Miniatur Budaya Melayu Batam

Rumah Limas Potong di Batubesar, Nongsa.

Tak jauh dari pantai wisata Batubesar, Nongsa terdapat rumah adat masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) yang dinamakan Rumah Limas Potong. Rumah panggung milik keluarga Haji Muhammad Tain ini kontras dengan rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Bentuknya dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya. Hanya beberapa bagian saja yang diganti.

Berdiri di antara rimbunnya kebun kelapa dan dekat dengan pantai memberi nilai tambah bagi rumah yang jadi objek wisata ini, yakni suasana kampung Melayu tempo dulu. Rumah adat yang tepatnya berada di Kampung Teluk, Batubesar, Kecamatan Nongsa, ini berdiri sejak 1 November 1959 sesuai dengan angka yang tertulis di atas pintu masuk.

 

”Tidak ada yang berubah, hanya atap dapur yang dulunya rumbia kini diganti seng dan sebagian papan lantai,” ujar pria yang masih kelihatan segar di usianya yang sudah ke 83 ini ketika menemani Batam Pos melihat dari dekat rumahnya itu, awal pekan lalu.

Rumah ini memanjang ke belakang, dibagi menjadi lima ruangan. Dindingnya berwarna cokelat susu yang dikombinasikan dengan warna kuning les putih (cat minyak) di jendela. Sedikit warna hijau di profil daun jendela bagian luar dan dalam. Begitupun dengan pintunya.

Sedangkan atap sengnya berwarna merah dove, dan dinding bagian dalam berwarna biru muda.”Kalau warna dinding bagian dalam memang begitu dari dulu, sedangkan yang di luar dulu tidak dicat,” ungkap Tain sembari membetulkan letak songkok hajinya.

Tinggi panggung dari tanah sekitar 1,5 meter. Kokoh berdiri ditopang pilar kayu medangkuk di setiap sisinya, kayu asli Batam.”Pohon medangkuk dulu banyak di sini, sekarang susah nyarinya. Kayunya kuat,” jelasnya.  Untuk meyakinkan,  lelaki yang kini tinggal tak jauh dari rumah Limas Potong ini menunjukkan papan pengganti.”Lihat papan ini, kumbang akan suka melubanginya,” sambil menunjukkan papan  pengganti lantai di bagian dapur.

Ruang pertama dari Rumah Limas Potong adalah teras. Tidak luas namun nyaman untuk bercengkrama. Ruang ke dua adalah ruang tamu yang bentuknya melebar, dibiarkan kosong tanpa perabotan. Setelah melewati ruang tamu, kita akan menuju ruang keluarga yang luasnya hampir sama dengan ruang tamu, bedanya ruangan itu disulap seperti sedang ada hajatan pengantin. Lengkap dengan diorama pengantin Melayu dan pernak-perniknya, seperti hantaran.

Tidak ada pintu khusus antara ruang tamu dan ruang keluarga ini, hanya tirai kain yang menutupinya. Sedangkan antara kamar tidur dan dapur dibiarkan tanpa sekat, hanya dinding seukuran tempat tidur saja yang menjadi penanda batas dengan bagian dapur.

Sekat selanjutnya adalah tempat tidur yang dilengkapi dengan ranjang besi tempo dulu yang ditutupi dengan kelambu. Terdapat lemari baju dan tempat menyimpan bantal. Ruang istirahat ini punya porsi lebih luas karena mempunyai ruang kosong yang berfungsi juga sebagai tempat makan bersama dan aktivitas lainnya. Tidak ada sekat antara kamar tidur dengan ruang kosong itu, dibiarkan melompong. ”Aslinya kamar ini ada sekatnya, termasuk kamar anak yang di sana,” Tain menunjuk ruang keluarga yang dijadikan ruang pengantin.

Terdapat dua jendela di sisi kiri dan sisi kanannya, untuk sirkulasi udara dan sebagai pintu masuk cahaya matahari ke dalam ruangan.
Ruang terakhir adalah dapur. Perabot dapur seperti sendok, piring, panci, dan ceret kuno dipajang di lemari dapur. Tiga buah gentong  kuno juga dipajang di sudut dekat tempat memasak. Tak ketinggalan kompor tradisional yang terbuat dari tiga buah batu dibentuk segi tiga sebagai penopang panci atau kuali ketika sedang memasak dengan kayu bakar. Ditempatkan di meja persegi panjang yang diisi dengan pasir.

Kamar mandi dan toilet terpisah dari bangunan induk. Seperti rumah-rumah tempo dulu, kamar mandi dan toilet dibangun di belakang rumah.”Sayang sekarang tidak berfungsi karena tersumbat, mungkin waktu memugar tidak memperhatikan ketinggian parit dengan toiletnya,” tukas Tain menyayangkan bangunan yang berdekatan dengan parit itu.

Secara keseluruhan rumah adat Limas Potong ini cukup menarik. Cocok untuk latar belakang fotografi atau syuting yang menginginkan atmosfer budaya Melayu Kepri, khususnya Batam. Meskipun siang itu matahari menyengat, namun tidak membuat rumah adat itu gerah. Malah angin sepoi-sepoi dan pohon kelapa yang mengelilingi rumah itu membuat suasana menjadi nyaman.

Sebagaimana rumah adat lainnya, Rumah Limas Potong juga penuh dengan simbol-simbol dan nilai kearifan budaya di zamannya. Seperti pembuatan pintu, tidak sembarangan menentukan tingginya .”Tingginya diukur dari ujung kaki hingga mulut tuan rumah yang perempuan,”kata Tain. ”Kenapa perempuan?” tanyaku. ”Karena perempuan yang jaga rumah, kami yang cari rezeki,” pria berkacamata ini memberi alasan lantas tertawa sambil membetulkan songkok hajinya lagi.

Ayah lima anak ini, lancar menceritakan bagian demi bagian rumah yang pernah ditinggali bersama istri dan anak-anaknya itu.”Di sinilah anak-anak kami lahir ketika kampung ini masih hutan lebat dan penghuninya hanya puluhan saja,” ucapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Pemko Batam, Guntur Sakti, mengatakan, pemugaran Rumah Limas Potong bertahap.”Tahap pertama perbaikan bagian dalam, tahun depan dianggarkan untuk pembangunan di bagian luar, dan selanjutnya membangun lanskap dan diorama tentang Rumah Limas Potong,” Guntur memaparkan rencananya.

Guntur menambahkan, rencana jangka panjangnya adalah membangun Rumah Limas Potong menjadi miniatur budaya Melayu. Di mana khazanah Melayu begitu kental hadir di rumah adat itu. Dari petunjukan kesenian, sejarah, sovenir, hingga kuliner Melayu. ”Nantinya, jika ada wisatawan yang ingin tahu tentang budaya Melayu di Batam, tinggal mengunjungi Rumah Limas Potong itu,” pungkasnya. (esont)

Galery Foto :

Tampak dari samping kiri.
Diorama pengantin melayu.
Haji Muhammad Tain, 83.
Alat-alat dapur kuno masih terawat dengan baik.
Murid-murid SDN 02 Nongsa pulang sekolah. By esont.***

 

~ oleh esont pada Desember 11, 2010.

6 Tanggapan to “Miniatur Budaya Melayu Batam”

  1. sejarah lama patut untuk di hargai,warisan kepade anak dan cucu,tak kan melayu hilang di bumi…

  2. Budaya mesti di jaga dan dilestarikan kalau tidak. anak cucu kita tidak akan mengenal budayanya sendiri. salah satunya bentuk rumah panggung

  3. Bos…. mohon izin, saya ambil foto-foto rumah melayu nya ya…
    terima kasih.

  4. Bos…. mohon izin, saya ambil foto-foto rumah melayu nya ya….
    terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: