Gurihnya Ikan Bilis, Renyahnya Kerupuk Ikan

Koenadi Rabo, 50 (kanan), memilih ikan bilis kupas.

Tidak ada yang mencolok dari toko oleh-oleh itu. Tampak biasa saja, seperti deretan ruko lainnya. Tapi, selalu ramai pembeli dari luar Batam. Seperti awal pekan lalu, rombongan wisatawan dari Singapura memborong beragam jenis ikan yang telah dikeringkan dan beberapa bungkus kerupuk.

Koenadi Rabo, 50, salah satunya. Warga negara Singapura keturunan Indonesia ini memborong ikan bilis dan udang kering untuk oleh-oleh. 1 kilogram ikan bilis kupas dan 1 kilogram udang kering di tangannya. ”Ini untuk dimasak sendiri, dan dibagi-bagi ke tetangga,” ujar pria yang akrab disapa Adi ini.

 

Adi bersama istrinya, Rubiah, 40, warga negara Singapura yang juga keturunan Indonesia. ”Orangtua saya dari Bawean, Jawa Timur, kalau bapak suami saya asli Solo, Jawa Tengah. Jadi kami masih berdarah Indonesia,” kata perempuan berjilbab yang mengaku selalu singgah ke toko oleh-oleh ini setiap berlibur ke Batam. ”Sudah 20 tahun lebih saya menjadi langganan toko ini. Kalau tak beli, tak sah rasanya berlibur ke Batam,” kata Adi lantas tertawa.

Menurut pegawai kantor pengacara di Singapura yang ramah ini, ikan bilis Batam lebih enak dibanding dengan yang ada di negaranya.”Tak hanya enak, harganya juga murah,” imbuhnya. ”Ikan kering ini enak ditumis dan dicampur sama nasi goreng,” kata Adi serius.

Tidak hanya ikan bilis yang disukai wisatawan, beragam jenis ikan asin lainnya seperti ikan bilis, bilis kupas, sotong, cumi, ebi, pari, udang, lome, dan ikan kurau juga diminati. ”Kalau turis Philipina dan Korea lebih suka sotong kering,” ujar Ridho, pemilik toko Karya Maju.

Selain dijual eceran, ikan asin ini ada juga yang dijual sudah dalam paket kiloan.”Biar pembeli tidak repot-repot bawanya, dan kalau dibungkus begini kan jadi bagus,” ucap Ridho, 26 sembari menunjukkan sotong yang dibungkus.

”Ikannya kami beli dari nelayan Batam dan nelayan sekitar Kepri. Sedangkan packaging nya kami,”imbuhnya. Ikan asin eceran Ridho dipajang dalam karung plastik transparan, sedangkan yang dibungkus digantung bertumpuk-tumpuk. Tampak dari luar karena ruko itu terbuka tidak berpintu. Sedangkan di bagian dalam dipajang beragam jenis kerupuk lokal, kopi bubuk, dan manisan buah. Ruangan seluas 8 x 5 meter ini penuh dengan makanan ringan.

Tidak hanya wisatawan asing yang menjadi langganan toko oleh-oleh ini. Wisatawan domestik, seperti dari Jakarta dan Bandung juga menyukai ikan asin Batam. Lusy, 40, contohnya. Wisatawan dari Bandung ini, memborong satu kardus ikan lome dari toko Karya Maju awal pekan lalu.”Buat oleh-oleh dan untuk campuran sayur asem. Orang Bandung kan suka,” sambil tersenyum Lusy menjawab pertanyaan Batam Pos.

Lusy, seperti Adi, sudah bertahun-tahun menjadi langganan toko ini.”Dulu saya bingung cari oleh-oleh khas Batam. Sejak tahu toko ini, setiap ke Batam ya ke sini, cari oleh-olehnya,” tutur Lusy yang datang bersama ibu mertuanya, Selasa, (14/12) lalu.

Kerupuk ikan, kerupuk udang , dan kerupuk dari sotong juga jadi incaran wisatawan. Mayoritas kerupuk yang ada di toko ini merupakan home industri Batam, sebagian lagi didatangkan dari Sidoarjo, Jawa Timur.”Yang paling favorit adalah kerupuk ikan tengiri,” sebut Ridho.***

Toko oleh-oleh khusus ikan asin lokal ini, bukanlah satu-satunya tempat sasaran wisatawan yang datang ke kawasan bisnis ini. Tepat di sampingnya, terdapat toko obat Andi Farma yang juga sering dikunjungi wisatawan. Uniknya bukan obat biasa yang disenangi wisatawan tapi obat herbal seperti bawang putih tunggal, mahkota dewa, dan biji mahoni.

”Yang paling sering beli turis Singapura,” ujar Ira, 35, karyawan toko obat Andi Farma, seusai melayani pelanggannya. ”Bawang putih tunggal dipercaya bisa mengurangi kolesterol, Mahkota dewa bisa menyembuhkan asam urat, sedangkan biji mahoni bisa menyembuhkan diabetes,”papar Ira.

”Di akhir pekan, banyak turis yang datang ke sini. Kalau hari biasa seperti sekarang paling beberapa aja,” tambahnya. Selain toko obat Andi Farma, ada juga toko cokelat yang banyak dikunjungi wisatawan. Tapi bukan wisatawan asing tapi wisatawan domestik, karena yang dijual adalah cokelat produk luar negeri.

”Kalau turis asing nyarinya ikan asin atau kerupuk, tapi kalau turis lokal seperti dari Medan, Jakarta, Surabaya, atau Bandung nyari cokelat luar,” Ungkap Ridho pemilik toko cokelat yang juga pemilik toko Karya Maju ini. ”Batam bagi turis domestik masih dianggap syurganya elektronik, parfum, dan makanan luar negeri,” Ridho menjelaskan kenapa wisatawan lokal lebih memilih cokelat luar negeri daripada oleh-oleh lainnya.

Pedagang keripik dan pedagang buah yang ada di sekitar komplek ruko Bumi Indah ini ikut kecipratan rezeki kunjungan wisatawan. John Rasuna Hawai, 45, pedagang keripik yang sehari-hari berjualan di sekitar pusat oleh-oleh ini cukup beruntung karena keripiknya disukai wisatawan.

Keripik yang dijualnya berupa ubi, pisang, dan melinjo, dengan rasa pedas, rasas jagung, rasa keju, dan asin. ”Pernah dalam sehari, dua kali ngisi,”tukas John. Dagangan John, dalam satu gerobak seberat 45 kg. Tak segan-segan, John menawari keripiknya kepada setiap wisatawan yang datang meskipun tidak membeli.”Turis Korea suka ubi yang pedas,”kata pria asal Aceh ini menyebut tipikal pelangganya. ***

Lambung ikan belut, kurau, dan sirip ikan hiu di Jenny Shop.

Hidangan Istimewa Di Hari Imlek
Tak jauh dari toko Maju Karya, hanya berjarak lima ruko, ada juga toko oleh-oleh khusus ikan yang sudah dikeringkan. Jenny Shop namanya. Meskipun yang dijual relatif sama dengan toko Maju karya, tapi toko ini menyediakan yang istimewa. Yakni, lambung ikan kurau, sirip ikan hiu, dan teripang.

Lambung ikan kurau yang dikeringkan ini berukuran jumbo, terlihat seperti kerupuk ukuran besar. Sirip hiu dibungkus plastik dalam beberapa ukuran, digantung bersama ikan lainnya. Teripang di toko ini bentuknya lebih besar dibanding teripang lokal. “Teripangnya kami datangkan dari Papua,”ujar pemilik Jenny Shop, Yuli, 30.

“Tiga jenis itu, bagi orang chinese digunakan sebagai campuran sop atau steamboat, di hari imlek masakan ini menjadi hidangan istimewa,” Yuli menjelaskan kegunaan tiga jenis jualan istimewanya itu.
Ikan istimewa, tentu saja harganya juga istimewa.”Per kilonya Rp dua juta,” Yuli menyebutkan harga dari tiga jenis dagangan istimewanya itu.

Selain itu, yang menjadi favorit wisatawan yang berkunjung ke Jenny Shop adalah lambung belut, kerupuk ikan, kerupuk udang, dan kerupuk sotong. “Semuanya produk Batam,” pungkas Yuli. (esont)

Galery Photo :

Toko cokelat luar negeri.
Turis mencicipi kripik ubinya John.
Turis Singapura borong kerupuk.
Ridho menunggu pembeli.***

~ oleh esont pada Desember 25, 2010.

2 Tanggapan to “Gurihnya Ikan Bilis, Renyahnya Kerupuk Ikan”

  1. minta alamat2 toko ikan kering di batam. yang di nagoya jugak. shukran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: