Dua Kali Selamat Dari Amukan Api

Vihara Budhi Bhakti Buddha (Tua Pek Kong Bio) memerah di malam tujuh hari sebelum imlek, Rabu (26/1).

Orang Batam pada umumnya lebih mengenal Vihara Budhi Bhakti Buddha dengan sebutan Tua Pek Kong. Salah satu vihara tertua di Batam yang berlokasi di Windsor, Kecamatan Lubukbaja.

Atmosfer tempo dulu akan terasa ketika kita berkunjung ke Vihara Budhi Bhakti Buddha. Sejak diresmikan 18 September 1986 oleh Ketua Badan Pelaksana (Kabalak) Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Mayjen. TNI Soedarsono Darmosoewito, bangunan utamanya masih dipertahankan. Hanya dua pagoda yang berada di luar gedung utama yang diperbesar karena retak.

Vihara Budhi Bhakti Buddha berbeda dengan vihara-vihara kebanyakan. Di vihara ini terdapat tiga penganut agama (Tri Dharma), yakni Buddha, Taoisme, dan Konghucu yang melakukan ritual keagamaan di dalamnya.

Meskipun dalam vihara yang sama, namun Dewa yang disembah berbeda.
Gedung utama merupakan tempat ibadah penganut Tao dan Buddha, di mana di altarnya terdapat patung Dewa Toa Pek Kong, Dewa Kwan Kong, dan Dewa Lupan Sien Sen bagi penganut agama Tao. Sementara di altar terpisah terdapat patung Dewa Sakyamuni yang disembah penganut agama Buddha. Di ruang terpisah juga terdapat patung Dewi Kwan Im dan Buddha Maitreya.

Bagi penganut agama Konghucu, tempat peribadatannya dipusatkan di bangunan terpisah yang letaknya di bangunan yang dulunya adalah panggung hiburan. ”Sebelumnya bangunan itu berfungsi sebagai panggung kalau ada acara, seperti acara hiburan di hari-hari besar,” ujar Ketua Umum Yayasan Vihara Ummat Buddha, Rudi Tan, Rabu (26/1) malam di sekretariatnya. Yayasan yang membawahi Vihara Budhi Bhakti Buddha.
”Sekarang sedang dibangun gedung baru untuk ruang ibadah baru, tempatnya di belakang,” tambah Rudi.

Dalam sejarahnya, Vihara Budhi Bhakti Buddha sempat pindah di empat lokasi berbeda. Berawal dari vihara Tua Pek Kong sederhana berukuran 3 meter x 3 meter di kebun karet, tepatnya di kaki bukit Nasional Camp (sekarang PT Mc Dermott) yang dibangun oleh Li Lim di tahun 1953 silam. Bangunannya masih terbuat dari kayu beratap rumput ilalang.

Tiga tahun kemudian (1955), Vihara Tua Pek Kong yang sederhana itu terbakar. ”Setelah itu, 20 KK warga yang ada di kampung itu gotong royong membangun vihara itu,” ujar Acui, cucu dari Li Lim di Windsor, Sabtu (29/1) pagi.

Seiring berjalannya waktu, Batam terus berkembang. Industri mulai masuk. Tahun 1968, Vihara Tua Pek Kong dipindah ke daerah Jodoh. Di sebidang tanah kebun karet, karena lokasi kaki bukit Nasional Camp akan dibangun PT Ingram.”Waktu itu, sebagian warga yang tinggal di kebun karet itu pulang ke Singapura,” kata Acui, pria yang lahir di Tanjunguma 1951 silam ini. Di kebun karet itu, vihara berdiri hingga tahun 1971.

Setelah itu, Vihara Tua Pek Kong dipindah ke lokasi Pasar Samyong (kini Pasar Tanjungpantun) dimana lokasi itu merupakan pusat perbelanjaan masyarakat Batam dan pemukiman penduduk.”Waktu itu pejabatnya, Muhammad Manik sebagai Penghulunya Nongsa,” lanjut Acui.

Di lokasinya yang baru, Vihara Tua Pek Kong menempati lahan seluas 300 meter persegi. Namun masih terbuat dari kayu dan beratap seng. Terdiri dari empat bangunan utama, yaitu tempat sembahyang utama seluas 4 x 5 meter, dua bangunan yang berfungsi sebagai tempat istirahat, dan panggung yang berfungsi sebagai tempat panggung hiburan jika ada acara hari-hari besar.”Dua kali dalam setahun pasti ada acara hiburan, seperti joget dangkung. Biasanya bertepatan dengan hari imlek dan bulan ke tujuh atau sembahyang leluhur,” ucap putera dari Lim Kim Wok ini. Lim Kim Wok lahir di kaki Bukit Clara, Kampung Berlian, Batam Kota.

Menurut Warto, rekan Acui yang juga saksi mata perjalanan sejarah Vihara Tua Pek Kong, hiburan yang digelar di vihara tersebut tidak hanya diramaikan oleh warga setempat namun diramaikan juga warga luar Pulau Batam. ”Orang dari pulau-pulau banyak juga yang datang ingin menonton hiburan di vihara waktu itu,” ujarnya.

Hingga suatu waktu di tahun 80-an, terjadilah peristiwa kebakaran hebat yang menghanguskan semua bangunan yang ada di Jodoh. Namun, anehnya hanya dua tempat ibadah yang tetap utuh berdiri, ”Hanya masjid dan Vihara Tua Pek Kong yang masih utuh,” kata Warto.

Beberapa tahun kemudian, barulah Vihara Tua Pek Kong dipindah ke Windsor hingga sekarang.
Berdirinya vihara Budhi Bhakti Buddha di Windsor tidak lepas dari sumbangsih wisatawan manca negara yang bersembahyang di vihara ini. Dari awal hingga sekarang vihara Budhi Bhakti Buddha di Windsor tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan manca negara, terutama wisatawan yang ingin bersembahyang di vihara ini.

”Wisatawan itu selalu menyumbangkan dananya lewat kotak amal yang disediakan pengurus. Di dalamnya ada beberapa mata uang asing, seperti ada dolar Singapura, uang Taiwan, Thailand, dan ringgit Malaysia,” tukas Acui.

Setelah itu, ummat Buddha Batam saling bahu membahu membangun vihara Budhi Bhakti Buddha hingga menjadi seperti sekarang ini.

Dari waktu ke waktu, vihara Budhi Bhakti Buddha terus berkembang. Tempat-tempat yang masih lapang dijadikan taman dengan patung-patung dewa artistik yang dibangun oleh beberapa sponsor. Seperti patung Dewi Kwan Im, Kwan Kong, Budha Sakyamuni, miniatur Laksamana Ceng Ho dan kapalnya.

Banyak turis yang berpose dengan latar belakang patung-patung itu. ”Tidak hanya turis asing yang senang berfoto di situ, banyak juga turis lokal yang suka berfoto dengan latar belakang patung tersebut,” kata Rudi Tan.
Lapangannya yang luas, berada di tengah lahan seluas 1,7 hektare.

Kegiatan sosial seperti senam Tai Chi dan latihan Kung Fu Shaolin digelar di lapangan ini. ”Senam Tai Chi rutin setiap hari, mulai pukul 05.30 WIB kecuali Senin. Itu tidak hanya untuk warga Tionghoa saja, tapi terbuka untuk umum. Siapa saja boleh bergabung. Kalau ada acara seperti karnaval, di sini bisa dijadikan tempat start atau finisnya,” tukas Rudi serius. (esont)***

Meriahnya pesta kembang api.

Meriah Dengan Pesta Kembang Api

Menjelang imlek, kesibukan di Vihara Budhi Bhakti Buddha lebih ramai dari hari-hari biasa. Tembok dan pagar dicat seperti baru. Tak ketinggalan dekorasi khas imlek, yakni lampion. Ratusan lampion ukuran besar dan kecil bergantungan baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan yang dibentang dengan tali dan kabel listrik.

Puluhan hio besar bermotif ular naga berwarna mencolok ditancapkan di depan gedung utama, asapnya yang yang terus membumbung menyergap hidung begitu memasuki gerbang vihara yang dikenal juga dengan Tua pek Kong Bio ini. Sementara, di dalam gedung utama, cahaya lilin serta cahaya dari lampion menyatu sehingga membuat efek bias merah. Apalagi benda-benda yang ada di dalam ruang pemujaan itu juga dominan berwarna merah. Warna merah bagi warga Tionghoa sangat berarti, “Warna merah bermakna keberuntungan,” kata Ketua Umum Yayasan Vihara Ummat Buddha, Rudi Tan.

Tak heran, jika vihara ini catnya dominan warna merah.

Tujuh hari sebelum imlek, tepatnya Rabu (26/1)lalu. Ketika bulan telah menampakkan wujudnya, ribuan ummat Buddha, Taoisme, dan Konghucu (Tri Dharma) yang rata-rata adalah marga Tionghoa Batam berbondong-bondong datang ke vihara itu untuk bersembahyang. Dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, laki-laki dan perempuan. Mereka bersuka cita, memanjatkan do’a-do’a pengharapan dan do’a syukur di hadapan dewa-dewa.

Menurut Rudi, puncaknya pas tengah malam. sehingga area parkir akan penuh dengan kendaraan dan ummat Buddha akan memadati vihara ini untuk tujuan sembahyang.”Keesokan harinya juga akan ramai orang yang sembahyang hingga pukul duabelas siang, meskipun tidak seramai malam ini,” kata pria yang murah senyum ini.

Semakin malam, ruang sembahyang semakin padat dan altar-altar juga dipenuhi dengan buah-buahan atau kue-kue persembahan dari ummat yang datang.

“Saya cuma minta diberi keselamatan dan rezeki yang banyak,” ucap Yeni sambil tertawa, warga Nagoya yang datang bersama anak dan suaminya, ketika ditanya sesuai sembahyang mengantar dewa di pagoda. Beda dengan Yeni, Jackson, putera Yeni yang sekolah di SMP Global ini ingin prestasi sekolahnya meningkat.”Tentunya ingin lebih pintarlah, dan punya prestasi yang lebih bagus dari tahun sebelumnya,” kata Jackson tersenyum.

Menurut Rudi Tan, tujuh hari sebelum imlek adalah hari baik untuk berdo’a,”Makanya malam ini begitu istimewa bagi kami,” ucap Rudi. Masih rudi, ibadah di tujuh hari sebelum imlek adalah perwujudan dari Rasa syukur atas nikmat yg telah dilalui setahun lalu dan berdoa agar di tahun yang akan datang diberi kebaikan kembali. “Mulai dari rezeki, kesehatan, keharmonisan dalam rumah tangga, maupun kebaikan-kebaikan lainnya,” tukasnya.

Tidak hanya ditandai dengan bhakti dan do’a kepada dewa dan leluhur saja, malam itu juga ditandai dengan kemeriahan pesta kembang api. Ketika jarum jam menunjukkan hampir pukul 24 WIB, pengurus menyalakan kembang api ukuran jumbo dari depan pintu gedung utama. Duar..duar..ledakan suranya dan bunyinya yang khas juga menyedot perhatian warga yang sedang melintasi jalan depan vihara.

Langitpun berwarna-warni, banyak warga yang mengabadikan momen indah itu dengan kamera ponselnya. Setiap jeda bunyi kembang api disambut tepuk tangan dan teriakan yang kompak. Huaa..Pesta kembang api pun usai setelah berlangsung sekitar 15 menit. Namun warga masih memadati salah satu vihara tertua di Batam itu. (esont)***

Galery Foto :

Doa dan harapan terbang bersama asap hio.
Persembahan kepada leluhur dan dewa.
Ratusan hio di halaman vihara di malam tujuh hari sebelum imlek.
Membakar hio.
Suasana di dalam gedung utama di malam tujuh hari sebelum imlek.
Langit Windsor berwarna. *** (BY esont)

~ oleh esont pada Januari 31, 2011.

4 Tanggapan to “Dua Kali Selamat Dari Amukan Api”

  1. Bro bisa minta info latihan kungfu shaolin di vihara windsor tak, ada yg bisa dihubungi tak, gue pengen belajar tp ku bukan chinese

  2. Langsung aja datang ke vihara itu, aku yakin mereka menerima meskipun bukan tionghoa.

  3. lebih tak usah masuk aja, daripada hancur nanti…

  4. kok hancur? kan kungfu olahrga yg santun..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: