Menghadirkan China Town Di Batam

Gerbang “China Town” yang dibuat oleh INTI Batam di kawasan Siang Malam, Nagoya.

Asap mengepul keluar dari panci ketika Tjeim Jam, 57, mencelupkan mi pangsit pesanan pelanggannya, Jumat (4/2) siang lalu. Beberapa kali mi itu dicelup-celupkan hingga matang, lalu ditaruh ke piring porselen.

Sementara istrinya, Wati, 56, dengan lincah membantu memberi bumbu beserta irisan daging dan sayur.”Mi pangsit  kami paling enak,”ujar lelaki asal Selatpanjang ini.

Rumah makan yang menyediakan masakan khas Tionghoa itu bernama Kedai Kopi Gembira. Berlokasi di Komplek rumah toko (ruko) Batama Nusa Permai C 09, Nagoya. Berjejer dengan rumah makan lainnya. Tjeim Jam dan istrinya tampak sibuk membuatkan pesanan pelanggannya yang memenuhi sejumlah meja kedainya.

Menunya ditulis dengan dua bahasa, bahasa Indonesia dan Mandarin yang ditulis di bawahnya. Ditempel di kaca etalase. Masakan khasnya antara lain lo mie, mie kacang, bihun laksa, laksa mie, nasi kari, dan bubur daging.
Kawasan bisnis di pusat Kota Batam itu terkenal juga dengan nama Siang Malam. Di siang hari aktivitas di kawasan itu seperti komplek ruko lainnya, sedangkan di malam hari, kawasan itu akan ramai pengunjung yang ingin menikmati kuliner yang banyak bertebaran baik yang resto open air (pujasera) maupun yang restoran biasa.

Sejumlah komplek ruko yang berada di Nagoya dan Jodoh merupakan kawasan yang paling hidup di Batam. Selain banyak terdapat toko-toko dan mal yang menyediakan segala kebutuhan sehari-hari, seperti resto, pasar, dan elektronik, kawasan ini juga banyak terdapat hotel dan tempat hiburannya. Sebut saja karoke, spa, billiard, bar, diskotek, dan panti pijat.
Warga yang menghuni kawasan Nagoya mayoritas etnis Tionghoa.

Bersempena dengan perayaan Imlek 2562 yang dirayakan oleh dua organisasi sosial etnis Tionghoa, seperti Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Batam di komplek ruko Bumi Indah dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Batam di Siang Malam, selasa (2/2) malam lalu, tercetus ingin menjadikan kawasan di Nagoya menjadi China Town nya Batam.

Ketua Umum PSMTI Batam Eddy Hussy, mengatakan akan mengemas kawasan yang dulu merupakan kawasan rawa dan sepi ini menjadi China Town,”Komplek ruko ini dibangun tahun 80-an, merupakan pindahan dari Jodoh,” kata Eddy dalam sambutannya di malam perayaan Imlek di komplek ruko Bumi Indah, Nagoya.

Rencana menjadikan Nagoya menjadi China Town disambut gembira oleh pedagang seperti Tjeim Jam, yang banyak terdapat di Nagoya.”Baguslah kalau memang akan dijadikan China Town, Nagoya pasti akan lebih ramai lagi. Dan tentunya turis juga akan banyak yang datang,” ungkap Tjeim Jam, gembira. Tidak hanya Tjeim Jam, Along, 34, warga Perumahan Sumber Agung, Jodoh, juga menyambut baik rencana  besar itu.”Kami ikut senang juga, karena Nagoya akan lebih semarak,” ujarnya setelah menyantap mi pangsitnya bersama istri dan anaknya di kedainya Tjeim Jam.

Sepekan sebelum Imlek, atmosfer imlek cukup terasa di Nagoya. Spanduk dan baliho ucapan selamat tahun baru imlek 2562 “Gong Xi Fat Cai” ada dimana-mana. Di persimpangan jalan, di pinggir jalan, bahkan dari komplek ruko Batama Nusa Indah hingga komplek ruko Bumi Indah hampir setiap ruko terlihat spanduk Gong Xi Fat Cai.

Sejak 26 Januari 2011 hingga 5 Februari 2011, jalan di jalur Siang Malam disulap menjadi China Town lengkap dengan dua gapura besar dominan warna merah dan warna emas khas Imlek untuk menghadirkan nuansa China Town.

Selain menyuguhkan pentas hiburan setiap malam, di areal itu juga terdapat bazar yang menyediakan pernak-pernik Imlek, kue khas Imlek, dan lain-lain.”Saya sudah tanya ke beberapa pedagang yang ada di sini, responnya semua bagus. Kata mereka pengunjungnya lebih ramai sejak kawasan ini dikonsep seperti China Town,” kata Ketua INTI Batam, Kartono.
Menurut Kartono, yang juga ketua pelaksana Batam Imlek Festival, China Town bukan hanya untuk komunitas orang Tioanghoa saja tapi bisa siapa saja.”Zaman dulu China Town itu terbentuk dari komunitas Tionghoa di perantauan, tapi di situ berbaur dengan masyarakat lainnya. Dan bisnis yang ada di dalamnya menengah ke bawah, seperti restoran dan toko baju,” tuturnya.

Jika dilihat karakter warga dan bisnis yang ada di Nagoya, sekarang berpotensi untuk dijadikan sebuah kawasan China Town. “Harusnya Nagoya jadi China Town, tentunya yang terbuka untuk semua, tapi harus didukung semua lapisan masyarakat dan pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata Pemko Batam. Sama-sama memajukan, dan sama-sama sejahtera,” tukas Kartono.

Sementara itu, tokoh warga Tionghoa Batam, Rudi Tan, mengatakan untuk mengubah Nagoya menjadi sebuah kawasan China Town, harus banyak perubahan fisik.”Ciri khas China Town itu harus ada restoran, pentas budaya, bangunan, gerbang berarsitektur China sebagai daya tariknya,” tutur pria murah senyum ini.

Sebagian pengurus organisasi warga Tionghoa Batam, aku Rudi, memang sudah bincang-bincang tentang konsep China Town di Nagoya.”Untuk sementara memang di komplek ruko Bumi Indah. Mengubah Nagoya yang sekarang menjadi China Town mungkin agak sulit, terutama merubah bangunannya karena pedagang yang ada di sini sudah lama-lama. Tapi di Nagoya kan masih ada tempat yang sepi yang bisa dijadikan China Town.” pungkasnya. (esont)***

Galery Foto :

Dewa Rezeki di malam Imlek bagi-bagi angpo.

Persiapan pesa kembang api di simpang simpang empat Jl Imam Bonjol, Nagoya.
Selebrasi pergantian tahun Imlek.
Mengabadikan kemeriahan malam Imlek.
Colourfull night.
Sudut romantis.
Mengabadikan momen.
Padat.
Tjeim Jam, 57, melayani pelanggannya.
Komplek ruko Bumi Indah, Nagoya.*** (esont)

~ oleh esont pada Februari 9, 2011.

Satu Tanggapan to “Menghadirkan China Town Di Batam”

  1. Kita orang Cina/Tionghoa harus kuat. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel. Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang dia baru tahu. Tidak selalu yang kelihatan ganteng itu mampu. Harusnya SBY punya filosofi duren-manggis. Walaupun dari luar tidak cantik/ganteng, tapi bagus/berkemampuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: