Lovelink Connections, Berwisata sambil Beramal

Wisatawan Singapura Berbagi Kasih Dengan Anak Yatim Batam

Muhammad Ibrahim, 7, Ilham bastio, 8, Henrika Putera, 12, Raihan, 9, Sabar, dan Ainnur, 8, membawakan tarian kuda kepang dengan lincah meskipun ini penampilan perdana mereka di Malam Pautan Kasih 2 di Hotel Golden View, Bengkong, Rabu (3/2) malam lalu.

“Kegembiraaan itu seperti semburan minyak wangi” begitulah istilah Nursidah, pencetus Lovelink Connections, Singapura, menganalogikan berbagi rasa gembira, bahagia, atau senang kepada sesama. Terutama kepada anak yatim.

Aura kegembiraan terpancar dari puluhan wajah-wajah lugu yang ada di ballroom lantai dua Hotel Golden View, Bengkong, Kamis (3/3) malam lalu. Mereka adalah penghuni dua panti asuhan yang ada di Kota Batam, yakni Panti Asuhan Permata, Barelang dan Panti asuhan Rubath Al Kharomain, Puri Legenda, Batam Kota yang datang bersama pengasuhnya.

Mereka hadir atas undangan sejumlah wisatawan Singapura yang tergabung dalam Lovelink Connections yang dikemas dalam acara Malam Pautan Kasih 2. Lovelink Connections adalah sebuah nama gerakan sosial sejumlah warga negara Singapura yang peduli dengan nasib anak-anak yatim yang da di Indonesia. Beberapa panti asuhan yang pernah mendapat uluran kasih mereka antara lain panti asuhan di Bogor, Tanjungpinang, dan Batam.

Tak seperti wisatawan pada umumnya, ketika plesiran yang difikirkan hanya memenuhi kesenangan pribadi atau keluarga saja. Bagi Lovelink Connections, berwisata sambil beramal lebih berarti.”Kalau uang kita pakai shoping, uang kita habis, pulang tidak memberi arti apa-apa tapi kalau kita santunkan kepada anak yatim, dunia dapat akhiratpun kita dapat,” tutur Arifin saleh, suami dari Nursidah dengan logat Melayu Singapuranya.

Menurut Arifin, dia dan istrinya mendapat ide membuat Lovelink Connections ketika mendengar ceramah Ustadzah Irene Handono tentang Valentine Day atau hari kasih sayang. “Banyak ulama yang mengharamkan valentine day, karena banyak remaja yang telah salah arah memahami arti kasih sayang. Kenapa tidak kita rubah saja Valentine Day itu dengan malam pautan kasih? Maka 14 Februari 2010 kami laksanakan Malam Tautan Kasih 1 di Hotel Vista,” didampingi istrinya Arifin menceritakan sejarah Lovelink Connections.

“Tujuan Lovelink Connections hanya ingin menautkan kasih antara kita dengan anak yatim,” timpal Nursidah diiringi senyumnya.

Kasih sayang yang mereka tautkan bersambut. PA Permata dan PA Rubath Al Kharomain rutin mereka kunjungi. Tak hanya berbagi kasih semata, wisatawan Singapura ini juga tak segan-segan merogoh koceknya untuk mendukung operasional dan pembangunan dua panti itu.
Sudah sepuluh orang yang menjadi donatur tetap dan puluhan donatur tidak tetap untuk dua panti asuhan itu. Rata-rata adalah pekerja perpustakaan dan swasta.

“Mencari jalan ke syurga bukan senang, tapi kalau kita cari jalan ke neraka senang aja. Masuk diskotik, habislah,” tukas Arifin yang pernah mengalami kejadian luar biasa yang tidak bisa dilupakannya berhubungan dengan anak yatim ini.

Lima tahun lalu, ayah dua anak ini pernah terserang penyakit jantung dan dirawat di ruang darurat di salah satu rumah sakit Singapura. Entah kenapa, yang pertama ada di dalam fikirannya hanya anak yatim.”Saya hanya minta bacakan surat Yasin, setelah itu dokter besarnya datang ke kamar tempat saya dirawat, dia bilang saya tidak sakit apa-apa. saya terkejut dan senang bukan main. Nah, sejak saat itu saya bernazar untuk selalu membantu anak yatim,” tutur pria yang juga pengurus Masjid Al Kaff, Serangoon, Singapura ini.

Kegembiraan malam itu semakin semarak dengan penampilan seni tari persembahan dari anak yatim dari dua panti asuhan tersebut. Dari tari persembahan, tari kipas, hingga tari kuda kepang. “Senang bisa tampil menari,” kata Henrika Putera, 12, singkat. Satu dari enam personil tari kuda kepang gembira seusai menari.

Penampilan mereka tidak mengecewakan meskipun ini penampilan perdana meraka. Gerakannya di panggung lincah diiringi lagu gending Jawa. Ditambah dandanan mereka yang lucu, kaos merah timnas Indonesia dengan logo garuda dipadukan dengan rompi hitam, dan celana hitam, lengkap dengan udeng, kuda dan pecutnya. Tak lupa wajah mereka diberi kumis dan godek palsu agar tampak seperti ksatria zaman kerajaan Mataram Islam.

Tawa dan tepuk tanganpun riuh rendah mengapresiasi penampilan enam bocah belasan ini.”Bila anak yatim ini gembira, hati sayapun senang,” ungkap Nursidah dengan logat Melayu kentalnya.

Bertepatan dengan Imlek, di akhir acara, mereka dapat angpo dari pihak Hotel Golden View dan sebelumnya enam anak berprestasi dapat bingkisan kamus Bahasa Inggris-Indonesia-Arab dan arloji. Tak hanya itu, Malam Pautan kasih 2 juga diisi ceramah motivasi bagi anak yatim yang disampaikan oleh Ustadzah Rafiatul Saadah. (esont)

Galery Foto :

Enam anak yatim berprestasi foto bersama sebagian wisatawan Singapura yang tergabung dalam Lovelink Connections dan Syamsul Bahrum.
Berbagi kasih itu tak sulit.
Senyum tulus akan selalu dikenang.
Manajemen Hotel Golden View memberi angpo kepada anak yatim.*** (esont)

~ oleh esont pada Februari 12, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: