Juara Qoriah, Eksis di Sinetron

Kisah Siti Muharramah (Vika Farah Medya) Menggapai Cita-Citanya

Vika Farah Medya

Siti Muharramah tidak bisa menyembunyikan kegirangan hatinya, ketika matanya tertuju pada foto dirinya masuk dalam daftar Finalis Cover Girls Aneka Yess 2004.  Foto hasil jepretan John (fotografer Sangkapura-Bawean) itu nampang di baris ke tiga, tepatnya tiga dari kanan.

Hatinya gembira bercampur gelisah. Gembira karena ia berhasil menyingkirkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia di majalah remaja yang ngetop waktu itu, tapi ia juga gelisah karena sejak awal orang tuanya menentangnya.

“Sejak awal memang ditentang ortu ikut beginian (Cover Girl),” kata lajang kelahiran Bawean,  12 Mei 1987, yang akrab disapa Rahma ketika masih sekolah di MTs Hasan Jufri Lebak dan SMAN 1 Sangkapura-Bawean ini.

Kini nama Siti Muharramah diganti dengan nama Vika Farah Medya setelah eksis di dunia model dan peran di Jakarta. Vika begitu kini ia disapa. Rabu (23/2), ia menuturkan kisah hidupnya dari awal meniti karirnya hingga sekarang di sebuah restoran yang ada di Mega Mall, sebuah pusat pebelanjaan yang ada di Batam Centre, Kota Batam.

Mengenakan t-shirt putih dipadukan cardigan hitam lengan panjang dan rok kalem bercorak bunga. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai, tampak santai. Ia mengawali kisahnya dengan gaya bertutur.

“Keinginan jadi model berawal karena saya suka baca majalah Aneka Yess, entah kenapa keinginanku untuk jadi seperti model yang ada di majalah itu begitu kuat padahal aku termasuk anak pemalu dan kurang bergaul,” katanya diiringi tawanya.

Majalah remaja yang kerap menyelenggarakan pemilihan model Cover Boy & Cover Girl serta menelurkan artis-artis berbakat Indonesia itu menyihir cewek yang jago membaca Alquran ini.

Hasratnya untuk ikut pemilihan model Cover Girl Aneka Yess begitu kuat, akhirnya ia nekat ikut mendaftar secara diam-diam karena tidak diizinkan oleh ortunya.

“Saya nekat berangkat ke kantor pos, bawa majalahnya dan nulis biodatanya di kantor pos padahal biodata itu harus diketik tidak boleh ditulis tangan. Sebelumnya saya ngambil foto ke studio yang ada di alun-alun,” ungkapnya. Soal foto, Vika menceritakan, nekat juga pergi sendiri ke studio foto. “Aku foto tidak berjilbab, padahal waktu itu aku berjilbab. Fotonya ukuran 4 R,” ucap puteri Mustafa dan Zamrah ini mengingat aksi nekatnya dulu itu.

Kenekatan Vika mendaftar Cover Girl juga tidak dipercaya teman-teman sekolahnya, “Aduh apa, paleng jereak mempe (Adu, paling itu hanya mimpi),” katanya meniru komentar teman-teman sekolahnya waktu itu. “Aku sadar, dulu aku memang anak yang bisa dibilang kurang bergaul dan pendiam. Dulu, kalau hari Minggu, kawan-kawanku sering berlibur bersama, sedangkan aku di rumah aja dan bantu ibu di warung. Makanya ketika aku bilang mendaftar cover girl mereka tidak percaya,” tambahnya.

Sebulan kemudian, waktu pengumuman finalis Cover Boy & Cover Girl tiba. Vika tak sabar ingin segera pergi ke Pasar Sangkapura untuk membeli majalah Aneka Yess di langganannya.

Kebetulan, siang itu, sepulang sekolah ibunya menyuruhnya membeli sayur untuk keperluan warung Baksonya. Hmmm..kesempatan begitu dalam hatinya, iapun bergegas menuju pasar dengan sepeda motornya. Majalah seharga Rp12 ribu itupun ia beli dengan hati berdebar-debar karena rasa penasaran. “Sebenarnya uangku tidak cukup, aku menambahnya dengan uang sayur belanjaan ibu,” tawanya lagi-lagi terdengar mengingat kisah sewaktu kelas satu SMA itu.

Setelah yakin dirinya masuk di antara 40 finalis Cover Girl 2004, ia malah bingung. “Tau menang malah bingung, yang kulakukan waktu itu langsung salat sampai di rumah. Entah salat apa, pokonya salat biar tenang,” tukasnya.

Setelah hatinya tenang, baru ia menyampaikan ke ibunya yang sedang sibuk di warung baksonya yang ada di areal Dermaga Sangkapura.”Bu, saya ingin ke Jakarta, mau jadi model,” begitu ia ngomong ke ibunya. Tapi, jawaban ibunya seperti yang telah ia bayangkan. “Gak boleh, gak usah banyak keinginan. Perempuan itu ujung-ujungnya ikut suami juga,” tukas ibunya.

Langit hatinya tiba-tiba mendung, ekspresi sedihnya ia tahan karena tidak bisa melawan. Namun gejolak mudanya yang menggebu-gebu tak kunjung reda. “Aku ngambek sampai lima bulan. Gak mau bantu ibu,” ucapnya.

Tekadnya yang sudah bulat tak bisa ditunda-tunda. Ia mencari cara bagaimana agar bisa berangkat ke Jakarta karena batas waktunya sampai empat bulan saja. “Aku ikut arisan yang dapatnya Rp15 juta, aku menang terakhir,” tukasnya.

Berbekal uang Rp15 juta hasil arisan itu, Vika semakin nekat ingin pergi ke Jakarta. Suatu hari, ia berhasil menyakinkan ortunya bahwa ia benar-benar ingin ke Jakarta. Akhirnya ortunya luluh juga dengan kemauan kerasnya. “Saat itu juga aku ngurus surat pindah sekolah,  padahal tidak tau mau pindah ke sekolah apa, pokoknya pikiran saat itu hanya Aneka Yess. Kata orang kalau sudah juara akan mudah jadi artis sinetron,” tutur cewek bermata indah ini
dengan serius.

Dapat lampu hijau dari ortu membuat hati Vika berbunga-bunga, semangatnya semakin membuncah-buncah. Waktu yang semakin mepet tak disia-siakannya. Hari yang cerah, Rabu, 17 Desember 2003, diantar bapaknya Vika menyeberang dengan kapal dari Dermaga Sangkapura-Bawean
menuju Gresik. Besoknya, Kamis tiba di kota industri Gresik, dan langsung menuju Jakarta dengan kereta api via Surabaya. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan.

Akhirnya Jumat pagi Vika menginjakkan kaki di tanah harapannya.”Hari itu aku langsung menuju kantor Aneka Yess, gak sempat mandi,” ungkapnya tertawa.
Dengan penampilan yang apa adanya, Vika begitu percaya diri masuk ke kantor majalah Aneka Yess. Celana kain, sandal jepit, kerudung, dan tanpa make up begitulah kondisi Vika hari itu. Tentu saja Vika jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di gedung itu karena penampilannya. “Risih juga sih diperhatiin orang seperti itu, tapi mau gimana lagi batas akhirnya di hari itu,” ucapnya.

Penampilan yang apa adanya itu membuat panitia yang mewawancarai Vika mengernyitkan dahi. “Kamu tau gak, kalau mau jadi model itu harus cantik, wangi, dan harus jaga penampilan. kamu itu udik banget!” komentar miring panitia Finalis Cover Boy & Cover Girl ketika mewawancarai Vika.

Hari pertama menginjakkan kaki di ibu kota adalah hari yang berat bagi seorang yang sama sekali belum mengenalnya. Selain dapat dampratan dari panitia, perjalanan yang melelahkan, hari itu Vika dan ortunya juga harus mencari tempat tinggal sementara. “Untung ada bapak pemilik kedai makanan yang mau bantuin mencarikan rumah kos, dan dapat di Salemba, Rp300
ribu sebulan. Dan kami sewa empat bulan di situ,” cerita Vika.***

Satu Jam Pakai High Hell, Kaki Bengkak.

Selasa yang cerah, empat hari setelah hari wawancara pertama, dengan senyum ceria Vika bergegas menuju kantor Aneka Yess kembali untuk menjalani pelatihan. Tentu penampilannya kali ini beda dengan penampilannya yang pertama. “Mereka rombak penampilanku, gak pake
kerudung lagi,” katanya.

Materi pertama yang didapat Vika, belajar berjalan di catwalk selama satu jam dengan sepatu high heel setinggi 15 cm. Perasaan canggung berjalan di catwalk sempat menghinggapinya juga.

Karena itu adalah pertama kali dalam hidupnya bergaya di cat walk dan disoroti banyak mata, namun itu tak lama. “Untung semua instruksi dari pelatih langsung connect, baik waktu di catwalk maupun di sesi pemotretan. Mungkin karena aku sangat mengimpikannya ya..,” tukasnya.

Latihan berjalan di catwalk dan sesi foto hari pertama berjalan lancar. “Lancar sih, tapi pulangnya kakiku bengkak karena pakai high heel itu, padahal cuma satu jam,” katanya tertawa lagi.

Selama empat bulan, Vika menjalani pelatihan bagaimana menjadi seorang model yang profesional, mulai dari cara berjalan, public speaking, jadi presenter, beracting dan belajar merias (make up).***

Job Pertama
Lulus dari pelatihan selama empat bulan itu. Vika sudah siap tampil di publik. Tak hanya siap bergaya di depan kamera fotografer, Vika juga siap bermain peran dalam sebuah sinetron atau iklan.

Kesempatan pertama untuk menjajal keahliannya pun datang di bulan Februari 2004.  Sinetron Roda-Roda Cinta menawarinya. Tawaran itu langsung disambutnya dengan hati yang berbunga-bunga, “Peranku di sinetron itu hanya lewat-lewat aja, gak sampe lima menit. Padahal
prosesnya itu dari pukul 18.00 WIB sampe 10.00 WIB,”katanya dengan nada jengkel. “Honornya pun cuma Rp30 ribu,” imbuhnya.

Tawaran iklanpun juga mengalir, tapi tetap berperan sebagai figuran. “Selama enam bulan jadi figuran terus,” tukasnya.

Tak puas dengan apa yang didapat selama enam bulan itu, akhirnya Vika nekat mengirim surat ke sutradara terkenal. “Surat itu isinya curhat,” ujarnya. Gayungpun bersambut, tiga hari setelah itu, Vika dapat panggilan dari kantor sutradara itu di Multivision. Vika pun dapat peran yang lumayan bagus. Berperan sebagai teman kampusnya Anjasmara (pemeran utama). “Lumayan daripada figuran, honornyapun meningkat Rp150 ribu per episod,” ujarnya
dengan raut muka bahagia.

“Semenjak itu, aku udah banyak kenal unit-unit (orang-orang yang sering calling artis). dan banyak dapat job, seminggu bisa lima kali. Kondisiku juga udah lumayan baiklah, kalau dulu sering naik ojek ke lokasi syuting, kini bisa naik taksi,” tuturnya.***

Juara Qoriah
Di sela-sela kesibukannya, Vika tidak melupakan pendidikannya. Setelah tidak di terima di sejumlah sekolah negeri, akhirnya Vika diterima juga di salah satu sekolah swasta di wilayah Jakarta Pusat, yakni di SMA Darma Bakti.

Selama menempuh pendidikan menengah di SMA itu, Vika pernah mengukir prestasi yang membanggakan, Vika juara satu Qoriah tingkat Sekolah di Bogor mewakili sekolahnya.

Keikutsertaan Vika di ajang lomba baca quran itu sempat diragukan pihak sekolahnya karena Vika yang mengajukan diri setelah teman-teman sekolahnya tidak ada yang ikut dalam ajang itu. “Awalnya guru-guru gak percaya aku bisa baca quran, setelah aku menyakinkan mereka akupun dapat restu mengikuti lomba itu dan ternyata berhasil menjadi juara pertama.
Merekapun bangga,” kata kakak dari Ahmad Hidyatullah, 12, ini tersenyum.

Kepintaran Vika membaca ayat-ayat suci alquran tidaklah didapat begitu saja. Sedari kecil, Vika sudah mendapat gemblengan dari ustadz Maskur (Sungaitopo, Sangkapura-Bawean) yang memang terkenal sebagai guru para qori/qoriah Bawean. Dan semasa di Bawean, Vika yang waktu itu masih memakai nama Siti Muharramah sering juara qoriah di tingkat kecamatan dan sering mendapat undangan di hari-hari besar untuk membaca alquran. “Pernah dicium ibu-ibu begitu turun dari panggung, dan aku dikasih uang Rp50 ribu saat peringatan isra mi’raj di Masjid Jamik Sangkapura. Sampai sekarang aku gak kenal sama ibu itu,” katanya mengenang masa kecilnya di Bawean.***

Menemui Rhoma Irama
Salah satu peristiwa yang tidak bisa dilupakan Vika adalah ketika menemui Musisi dangdut legendaris Indonesia, Rhoma Irama. Maksud hati ingin minta bantuan agar dirinya bisa sesukses suami Ricca Rahim itu, namun apa daya, yang didapat hanya tandatangan belaka. “Tiga jam nunggu beliau, ketemunya cuma tiga menit aja,” katanya tertawa.

“Aku curhat ke beliau, maunya aku waktu itu, beliau bisa bantu aku agar bisa sesukses beliau namun beliau mengarahkan ke PH (rumah produksi). Betul juga sih, karena beliau bukan produser. Itulah kebodohanku waktu itu, maklumlah kan masih kelas dua SMA waktu itu,” katanya tertawa.

Akhirnya Vika hanya minta tandatangan dan foto bareng, namun sayang, lagi-lagi Vika tidak membawa kamera untuk motret. Padahal untuk menemui kediaman raja dangdut itu, Vika harus menempun perjalanan cukup jauh dengan naik taksi.***

Sempat Break Dua Tahun
Tak hanya eksis di dunia peran, tawaran jadi modelpun banyak yang datang. Seperti tawaran menjadi model sampul sejumlah majalah ibukota. Di antaranya tabloid Motor Plus dan Motor Auto car di tahun 2005.

Setahun berikutnya, Vika break (rehat) dari kegiatan model dan sinetron dari tahun 2006-2007. “Jenuh dan ada masalah sedikit,” ungkapnya.

Masa vakum itu, Vika sempat pulang ke Bawean untuk menenangkan diri dan merenung kembali.

Setelah itu, Vika bekerja kantoran di PT Maxgain Internasional Futures sebagai business executive. Sebuah perusahaan yang bergerak dibidang Perdagangan Berjangka di Indonesia.

Terbiasa kerja di lapangan membuatnya tidak betah kerja kantoran, belum setahun Vika cabut dari perusahaan itu. “Gak nyaman kerja di kantor, biasa di lapangan mungkin ya..,” selorohnya.***

Kembali ke Sinetron
Tak mau lama-lama nganggur, akhirnya Vika kembali lagi ke dunia peran, dunia yang ingin dijalaninya dengan serius. Job di sejumlah sinetron akhirnya dia dapat meskipun bukan peran utama. Dan wajahnya pun kembali di layar kaca. Di antaranya sinetron Cintaku di Rumah Susun, Cinta Indah 2, Suami-Suami Takut Istri, Muslimah, dan Inayah.

“Di Suami-Suami Takut Istri sebagai bintang tamu yang berperan sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial) papan atas, temannya anak Bu RT. Actingnya menjerumuskan anak Bu RT agar ikut jadi PSK,” jelasnya tertawa.

Selain sinetron, Vika juga banyak mendapat job di FTV (Film Televisi). Kurang lebih 10 judul FTV memakai jasanya, di antaranya Perawan Tua, Kejatuhan Bintang, Mayat Membusuk, Dilema Diandra, dan Pacar Setengah Tiang. “Aku sering berperan orang yang teraniaya dan sedih-sedih, sehingga ketika pulang kampung banyak yang merasa kasihan melihat aku, bahkan ada yang bilang “kasihan dirimu nak”, padahal itu cuma peran,” tuturnya sembari tertawa.

“Tapi ketika berperan sebagai guru ngaji di sinetron Inayah, banyak yang mengapreseasi senang,” imbuh cewek penyuka lagu-lagu india ini.

Setelah sekian tahun menjalani dunia peran, dari sinetron ke sinetron, FTV dan model. Pergaulan dan wawasannyapun semakin luas. “Sekarang aku ingin fokus ke sinetron dan film layar lebar, dan akan menggali potensiku lagi di seni peran seperti menjajal teater. Dan satu lagi, aku ingin buka usaha sebagai bekal masa depanku,” ujar lajang yang mengidolakan bintang Bollywood Rani Mukherjee ini.

Sebenarnya apa yang Vika cari? “Aku hanya ingin buktikan bahwa saya bisa. Dan ingin membahagiakan ortu dan keluargaku,” pungkas cewek yang ingin buka usaha warung makan di Batam ini. (esont) ***

~ oleh esont pada Maret 2, 2011.

Satu Tanggapan to “Juara Qoriah, Eksis di Sinetron”

  1. i like u and i like bawean ! good luck girl!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: