Seperti Nonton Layar Lebar

Menikmati Keindahan Batam di Malam Hari dari Bukit Tanjunguma.

Pesona malam dari bukit Tanjunguma.

Jarum jam baru menun jukkan pukul 17.30 WIB. Meja tamu yang ada di
Pondok Puncak masih banyak kosong, hanya tiga meja yang terisi dari 17 meja yang tersedia. 12 meja dengan kursi dan lima meja lesehan.

Pondok Puncak, sebuah cafe terbuka yang bertengger di bukit Tanjunguma yang mempunyai view  indah di waktu malam. Pengunjung bisa menikmati pemandangan kawasan Jodoh dan Nagoya dan perairan Batuampar dengan kapal-kapalnya, sembari menikmati hangatnya bandrek dan martabak manis. Tak hanya Pondok Puncak, sejumlah penjual pedagang dan minuman seperti jagung bakar yang akan menemani indahnya malam Batam yang tampak berbeda jika kita melihatnya di siang hari.

 

Gemerlapnya lampu gedung-gedung bertingkat yang ada di kawasan Jodoh dan Nagoya, seperti hotel, mal, dan ruko, dan industri yang ada di Batuampar lah yang membuat pemandangan malam itu begitu berbeda.

Lampu-lampu Hotel Pacifik yang berbentuk kapal, Hotel Novotel, Hotel Panorama Regency, Hotel Planet Holiday berpadu indah dengan lampu-lampu Mc Dermott, DC Mall, Top 100 Jodoh, dan kapal-kapal yang ada di perairan Batuampar seperti ada di dalam bingkai foto. Sedangkan Lampu dari rumah penduduk laksana bintang-gemintang di langit. Menjadi pemandangan yang kontras di malam hari.

Menikmati malam ditemani hangatnya bandrek.

“Seperti nonton layar lebar,” ujar Ahmad, 30, mengungkapkan indahnya pemandangan yang ada di depan matanya sembari menyeruput bandrek pesanannya di Pondok Puncak. Karyawan salah satu perusahaan di Batam Centre ini begitu terkesan dengan view di bukit Tanjunguma,”Ini pertama kali saya ke sini malam hari, mantap juga ternyata. Perasaan kalau siang hari view biasa-biasa saja,” katanya sambil tertawa.

Angin berhembus lumayan kencang, Rabu malam (23/2) lalu, membuat lampu hias yang menjuntai di ujung atap Pondok Puncak melambai-lambai, begitu juga lampu warna-warni yang ada di atas meja. Warnanya yang biru, hijau dan kuning itu menambah suasana tampak romantis. Alunan lagu-lagu dari wali Band menjadi hiburan tambahan pengunjung.

Semakin malam, tamu yang datang semakin banyak. Dan lahan parkir pun semakin padat dengan mobil dan sepeda motor. ”Kalau malam Minggu, pengunjung semakin banyak, dari ujung ke ujung full,” ungkap Jasman, 23, pelayan Pondok Puncak, sambil menunjuk ke arah gapura selamat datang Tanjunguma dan jalan tanjakan Tanjunguma yang agak gelap.

Gapura Tanjunguma.

Tak hanya di malam minggu, di hari-hari libur tempat ini juga dipadati pengunjung. Bahkan di malam pergantian tahun dan hari valentin jalan di bukit Tanjunguma ini macet, saking banyaknya pengunjung. ”Kembang api tahun baru memang tampak bagus dilihat dari sini, kalau Valentin banyak orang pacaran yang datang ke sini, semuanya berpasangan,” tukas Jasman, tersenyum.

Letaknya yang berada di ketinggian, menjadi nilai plus bagi tempat yang belum digarap dengan serius ini sebagai tempat pariwisata. Pengunjung bisa leluasa melihat pemandangan di sekitarnya. Seperti di Semarang Atas, Semarang, Jawa Tengah. Wisata yang mengandalkan pemandangan kota Semarang malam hari. Wisatawan bisa menikmati kerlap-kerlip lampu-lampu kota Semarang sembari menikmati menu yang disajikan oleh hotel atau restoran.

View di bukit Tanjunguma tentu punya kelebihan dibandingkan dengan Semarang Atas, karena selain bisa menikmati indahnya kerlap-kerlip Kota Batam, dari bukit ini juga bisa menikmati indahnya panorama lautnya yang tak pernah sepi oleh hilir mudik kapal-kapal besar.
Di pagi hari atau sore hari ketika matahari berada di ufuk barat, panorama laut dan pulau kecil di sekitar perairan Batuampar menjadi suguhan yang tidak kalah menarik.

Pesona bukit Tanjunguma ternyata terdengar juga oleh wisatawan mancanegara, menurut Jasman, beberapa kali turis bule sempat mampir di Pondok Puncak sembari menikmati dan memotret pemandangan di Bukit Tanjunguma.”Yang terakhir sebelum malam tahun baru, mereka makan dan pesan Bandrek di sini sambil menikmati pemandangan,” katanya.

Tanjunguma adalah salah satu kampung tua yang ada di Batam yang masuk dalam wilayah Kecamatan Lubukbaja. Kehidupan masyarakatnya sehari-hari masih kental dengan budaya melayu, meskipun banyak juga warga pendatangnya.

Bukit Tanjunguma berada sebelum kita masuk gapura selamat datang Tanjunguma. Memang nyaman sebagai tempat melepas lelah setelah beraktivitas seharian. Nongkrong bersama rekan sekantor atau bersama kolega maupun bersama keluarga. Seperti Novi, 26, karyawati Hotel Pacifik ini salah satu pengunjung yang kerap berkunjung ke bukit Tanjunguma. Bisa tiga hingga empat kali dalam seminggu nongkrong bersama teman sekantor maupun datang bersama sang pacar, menurutnya pemandangan yang ada di bukit Tanjunguma cukup bagus dan suasananya nyaman.

”Kadang nongkrong sampai tengah malam di sini,” ujar cewek asal Medan ini yang duduk di lesehan. “Lampu-lampu di sana bikin Batam hidup,” tukasnya sembari menunjuk hamparan lampu yang berjejer indah. (esont)***

~ oleh esont pada Maret 4, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: