Biru di Laut, Hijau di Kebun

Khoiri, 30, memotret pompong nelayan yang melintas di perairan Tanjungpiayu dengan latar belakang Jembatan I dan Jembatan II Barelang, Rabu (16/3) sore.

SESEKALI menjelajah menembus hutan-hutan di Batam sungguh mengasyikkan. Meskipun kita bukanlah aktivis pecinta alam, tapi menjelajah ke tempat-tempat baru yang sedikit menantang akan memberi sensasi yang beda.

Apalagi tinggal di kota industri ini, tidak banyak pilihan untuk berlibur. Jika pun ada, kita harus merogoh kocek yang lumayan dalam. Bagi yang senang menjelajah namun hemat dan tidak ingin rute yang terlalu berat, hutan Setengar yang berlokasi di Tanjungpiayu, Kecamatan Seibeduk adalah salah satu tempat yang asyik untuk disinggahi.

 

Berada sekitar 200 meter dari permukaan laut dengan panorama lautnya yang membiru indah dan areal kebun sayur petani yang menghijau tersusun berundak-undak adalah daya tariknya.

Ikon Kota Batam Jembatan Fisabilillah, yang dikenal dengan Jembatan I yang menghubungkan Batam-Rempang-Galang terpampang menawan dilihat dari Setengar. Pas untuk latar belakang ketika kita berpose untuk kenang-kenangan, karena bentuk Jembatan I tampak semua. Jembatan Nara Singa atau Jembatan II juga tampak indah.

Untuk mencapai kawasan ini, bisa dengan kendaraan roda dua atau mobil. Bagi pecinta olahraga sepeda, tentu akan lebih menantang. Jalan berupa tanah bauksit dengan lebar sekitar enam meteran membelah hutan ini. Pintu masuknya melewati Kantor Lurah Duriangkang, jalannya langsung menanjak dan kita akan melewati kawasan latihan perang TNI.

Kontur tanahnya yang naik turun, kadang turunnya cukup terjal memaksa kita untuk hati-hati dan mengurangi laju kendaraan. Jika gegabah, bisa-bisa kita terpental atau tergelincir.

Panjang jalan tak beraspal sekitar tujuh kilometeran. Cukup menarik bukan? Jika lelah, kita bisa istirahat sejenak sembari menikmati saujana hijau kebun-kebun petani yang menghampar di punggung-punggung bukit. Seperti kebun milik Purdadi, 51, tampaknya lokasi kebun garapan petani asal Pati, Jawa Tengah ini berada di puncak Setengar, karena dari kebunnya tampak jelas pemandangan laut dan kebun-kebun lainnya.

”Sejak tahun 1999 saya garap tanah di sini,” ujarnya sembari menabur bibit bayamnya, Rabu (16/3) lalu.

Purdadi dibantu 25 karyawannya menggarap tanah seluas 15 hektar yang membentang di puncak Setengar. Tanah seluas itu ditanami beragam sayur dan buah, seperti bayam, kangkung, cabe, terong, timun, kacang tanah, melon, dan semangka.”Kira-kira dua minggu lagi tanah di sini akan menghijau semua, pasti bagus difoto apalagi di pagi hari,” jawabnya ketika ditanya kapan tanamannya tumbuh menghijau dan siap untuk dipanen.

Selain kebun milik Purdadi, terdapat juga kebun milik orang lain.”Kalau kebun durian yang di situ milik orang Sungaipanas,” tukas Purdadi sambil mengarahkan telunjuknya ke sebelah tanah garapannya.

Di kawasan ini tidak hanya ada lahan perkebunan, peternakan ayam juga banyak dan sedikit ternak kambing.

Jika kita nekat melanjutkan perjalanan, belok kiri menembus jalan setapak penuh dengan ilalang, akar pepohonan yang tertutup daun-daun kering, dan jalan curam, kita akan menjumpai perkampungan suku laut yang sudah menetap di darat, namanya Kampung Setengar. Hanya ada beberapa kepala keluarga yang tinggal di dalamnya. Mereka tinggal di rumah kayu berjejer yang bertengger di atas air laut.

Namun, jika kita belok kanan dari lokasi kebun milik Purdadi, kita akan menuju pelabuhan ikan milik PT Adiasa Inspirasi. Sebuah perusahaan perikanan modern lengkap dengan pelabuhannya namun kini sudah tidak beroperasi lagi. Sejumlah gedung perkantorannya masih terlihat kokoh, namun sebagian atapnya sudah mulai lapuk dan hancur.

Tampak beberapa alat perkantoran yang ada di sebuah gedung berdinding kaca, seperti komputer, meja, kursi , satu unit foto copy, meja reception, dua unit AC masih menempel di dindingnya. Bahkan arsip-arsip perusahaan itu tercecer begitu saja di lantai. ”Sepertinya, perusahaan ini ditinggalkan tiba-tiba, mas,” kata Khoiri, 30, yang menemani Batam Pos. ”Lihat barang-barang ini, masih tertata rapi namun berantakan karena tertimpa atap yang roboh saja,” ungkapnya heran.

Di lokasi tersebut, juga terdapat sejumlah bangunan seperti gudang, tempat pembenihan ikan yang atapnya juga sudah hancur. Tak jauh dari kantor berdinding kaca itu berdiri bangunan bertingkat seperti mess pekerja. Namun kini di dekat bangunan itu dipakai untuk beternak kambing oleh warga yang menghuni gedung itu. ”Saya sudah tiga tahun di sini,” kata perempuan 30 tahunan yang mengaku bernama Nur.

Dilihat dari arsip yang tercecer, perusahaan ini tampaknya pernah beroperasi di awal tahun 90an. Seperti Surat Tanda Melaporkan Diri (sementara) milik General Manager PT Adiasa Inspirasi Thomas Klaas yang dikeluarkan Kepolisian Resort Kepri Barat tertanggal 6 Desember 1991.
Rasanya tak nyaman berlama-lama di perkantoran ini. Namun lain lagi jika kita sudah sampai di pelabuhannya. Sensasinya langsung berubah, Jembatan I dan Jembatan II posisinya berada di seberang pelabuhan ikan ini menjadi pemikatnya. Apalagi pompong nelayan yang hilir mudik di lautnya yang biru melengkapi panoramanya.

Tak sedikit juga penghobi mancing yang jatuh hati ke lokasi ini. Seperti tiga pemuda warga Perumahan Puri Agung, Tanjungpaiyu, Hajrah Mawansa, 29, Iskandar, 34, dan Derika, 33, betah mancing seharian di bekas pelabuhan ikan itu. ”Gimana gak senang, kalau pulang pasti bawa ikan, lagianpemandangannya bagus,” tukas Hajrah tersenyum yang mengaku sejak pukul 6.30 WIB mancing.

Bosan berlibur ke tempat yang itu-itu saja? Berpetualang ke Setengar akan memberi sensasi baru.*** (esont)

Photo Galery :

Purdadi, 51, mencabut rumput liar yang tumbuh di antara sayur bayamnya miliknya di Setengar, Tanjungpiayu, Rabu (16/3) lalu.

Bukit yang digarap menjadi lahan perkebunan di Setengar,  Tanjungpiayu.

Kolam pembenihan ikan milik PT Adiasa Inspirasi yang kini tak beroperasi lagi.

Hijau di kebun.

Hajrah Mawansa, 29 (kiri) dan Khoiri, mancing di pelabuhan ikan milik PT Adiasa Inspirasi.

Eman, sepertinya modal yang dikeluarkan investornya tidak sedikit, namun, kini aset-aset yang ada di sini mubazir.*** (by esont)

~ oleh esont pada Maret 21, 2011.

3 Tanggapan to “Biru di Laut, Hijau di Kebun”

  1. Wew

  2. tenkyu bro infonya. minggu depan ke sini ah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: