Dari Satu Keluarga Jadi Satu Kampung

Image

Pelantar masuk ke Pulau Tanjung Dahan, Galang Baru, Selasa (22/5).

Kampung Boyan di Tanjung Dahan, Galang Baru

Kampung Boyan, kampung yang dihuni warga perantau asal pulau Bawean, tak hanya ada di Seipanas. Di kawasan hinterland, pulau Tanjung Dahan, di ujung Galang Baru, juga ada. Dari satu keluarga di tahun 1960, kini jadi satu kampung.

ABDUL HAMID, Galang

Percakapan dua perempuan kakak-adik Selasa (22/5) sore itu terdengar aneh. Di pinggir pantai pulau Tanjung Dahan, Galang Baru, mereka tidak berbicara dalam bahasa Melayu, bahasa yang biasanya digunakan warga hinterland, Batam. Namun, berbicara dalam bahasa Bawean, Jawa Timur.

Ramana la ekonee ka Tanjung Melagan,” kata sang kakak.

Sang kakak yang bernama Rosdaniyah, 42, memberitahu adiknya, Saenah, 40, kalau ayah mereka, Mahsuni, 70, sedang dijemput ke pulau Tanjung Melagan. Tanjung Dahan dan Melagan, dua pulau terpisah. Namun berdekatan. Kedua pulau itu berada di selatan Galang Baru.

Untuk menuju Tanjung Dahan harus melewati enam jembatan Barelang. Usai melintas di jembatan ke-6, masuk ke Galang Baru menuju ke Kampung Baru. Dari Kampung Baru, menyeberang lagi dengan perahu bermesin tempel atau pompong, sekitar 15 menit. Tak ada penyeberangan rutin. Namun, kita bisa menyewa pompong ke penduduk setempat, sekitar Rp150 ribu.

Tanjung Dahan diapit pulau-pulau kecil di sekitarnya. Ada pulau Nipah, Melagan dan lainnya. Sebagian besar pulau-pulau di hinterland itu dihuni warga Melayu dan Tionghoa, sebagian lagi dihuni suku laut. Maka, rasanya aneh, ada yang menggunakan bahasa Bawean di kawasan hinterland tersebut.

Mahsuni yang ditunggu, baru datang sekitar 20 menit kemudian. Perawakannya kecil, kurus. Tingginya sekitar 155 centimeter. Ia mengenakan celana panjang yang sudah dipotong sebatas lutut. Kemejanya warna krem, robek di bagian lengan. Kancingnya sebagian sudah lepas.

Giginya yang kuning karena banyak merokok, terlihat sudah ompong, begitu senyumnya mengembang. Mahsuni ramah. Ia menyalami Batam Pos dan Iman Imbalo Sakti, ketua Yayasan Hang Tua Batam, yang mengantar kami ke Tanjung Dahan. Seperti kedua anaknya, Mahsuni menyapa kami sambil berbahasa Bawean.

Bagaimana ia bisa tinggal di Tanjung Dahan? “Ceritanya panjang,” tuturnya.

Mahsuni mengaku meninggalkan Bawean di akhir tahun 1950-an. Dari Bawean ia menuju Tanjungpinang. Tak sampai setahun di Tanjungpinang, ia langsung ke Tanjung Dahan, Galang Baru. Tak ada perkampungan di Tanjung Dahan waktu itu. Mahsuni bekerja menyadap karet. Pekerjaan itu juga tak lama ia tekuni. Taoke karet, tempat ia bekerja, berpindah usaha lain. Kebun karet ditinggal.

Namun, Mahsuni yang terlanjur tinggal di Tanjung Dahan seorang diri, tak tahu lagi harus bekerja apa. Ia kemudian membeli tanah di sana. Seorang diri berkebun dan melaut. Sekitar tahun 1960, Mahsuni menikah dengan Misnaja, 65. Misnaja juga gadis perantauan asal Bawean.

Pernikahan Mahsuni-Misnaja, melahirkan delapan anak. Tujuh putri, dan satu putra. M Effendi, satu-satunya anak lelaki mereka, meninggal di usia 28 tahun. “Yang masih ada tujuh orang,” kata Mahsuni.

Dari tujuh anak Mahsuni-Misnaja, lima orang tinggal di Tanjung Dahan. Dua di antaranya, Rosdaniyah dan Rumsa menikah dengan warga Tionghoa. Saenah, anak nomor tiga, malah sudah punya cucu. “Dua yang lain ikut suaminya ke Flores,” ujarnya.

Maka jadilah, Tanjung Dahan yang awalnya hanya ditempati pasangan Mahsuni-Misnaja, menjadi satu perkampungan. Ada tujuh rumah panggung di sana. Semuanya adalah anak, cucu, dan cicit Mahsuni.

Mahsuni dan keluarganya hidup dengan cara berkebun dan melaut. Mereka menanam mangga, nangka, melinjo, dan kelapa. Sebagian melaut, sebagian lagi memproduksi arang dari kayu bakau.

Tahun 1960 hingga 1990-an, Misnaja, menjual hasil kebunnya ke pulau-pulau sekitarnya. Ia menjajakan nangka, ubi, dan lainnya. Misnaja berhenti berjualan ke pulau-pulau di akhir 1990-an ketika jembatan Barelang yang menghubungkan gugusan pulau di Galang beroperasi. Warga Galang dan Galang Baru mulai datang ke Batam, belanja di sana.

Sejak tinggal di Tanjung Dahan, Mahsuni mengaku baru lima kali menginjak kota Batam. Jika dihitung, berarti ia ke Batam 12 tahun sekali. “Mau ke Batam takut tersesat, saya tak tahu jalan,” ujarnya. Tak hanya jarang ke Batam, sejak menginjakkan kaki di Tanjung Dahan, Mahsuni juga tak pernah pulau ke Bawean. “Sudah 50 tahun lebih tak pulang. Saudara-saudara semuanya di Malaysia,” ucapnya.

Cucu-cucu Mahsuni sebagian sekolah, sebagian lagi putus di bangku SD. Mayang, 10, anak Rosdaniyah dan Atan, sekolah SD di pulau Sembur. Rosdaniyah mengaku merogok kocek Rp40 ribu untuk keperluan transportasi anaknya ke pulau Sembur. “Tak ada bantuan uang transportasi dari pemerintah,” tukasnya.

Rosdaniyah rambutnya sudah beruban. Ia lupa umurnya berapa. Setiap kali ditanya umur, ia menjawab, “Pokoknya 40 tahun lebih,” katanya. Namun, di KTP, umurnya baru genap 32 tahun, Juli nanti. “Itu Pak RT yang salah bikin,” tukasnya. Rosdaniyah tak mempermasalahkan kesalahan umur di KTP-nya. Pasalnya, saat ia lahir, Mahsuni tak pernah mencatat tanggal kelahiran anak-anaknya. “Saya jadi tak tahu persis kapan lahir,” ujarnya lagi.

Tak ada pembangunan apapun di Tanjung Dahan. Satu-satunya bangunan permanen adalah musala Taqwa, yang digagas Imbalo bersama sejumlah donatur. Selain musala itu, semuanya rumah panggung. Listrik berasal dari genset yang dimiliki menantu Mahsuni.

Namun, Mahsuni tak pernah mengeluh. Dulu ia membuka perkampungan seorang diri. Kini 50 tahun kemudian, ketika Tanjung Dahan menjadi satu kampung, ia juga tak pernah mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah.***

Galeri Foto :

 

Image

Rumsah dan kedua puterinya, Selasa (22/5). Rumsah salah seorang warga Pulau Tanjungdahan, Galang Baru, keturunan orang Boyan (Bawean, Gresik, Jatim) yang turun temurun bertempat tinggal di pulau ini sejak 1960-an silam.

Image

Matsuni dan istrinya Misnajah di teras rumah panggungnya di Pulau Tanjungdahan, Galang Baru, Selasa (22/5). Pria asli Pulau Bawean, Gresik, Jatim ini beserta keluarga besarnya menempati pulau di ujung Galang itu sejak 1960-an silam.

Image

Saifuddin, 26, menggendong Faisal, 2, puteranya di teras rumahnya di Pulau Tanjungdahan, Galang Baru, Selasa (22/5).

Image

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Hang Tuah Imbalo Imam Sakti berbincang dengan Rumsah (kanan) dan Rosdaniah, warga Pulau Tanjungdahan, Galang Baru, Selasa (22/5).

Image

Pulau Tanjungdahan, Galang Baru, Selasa (22/5). Pulau kecil ini ditempati orang Boyan (Bawean, Gresik, Jatim) turun temurun sejak 1960-an silam.

Image

Matsuni, Kepala Keluarga warga Pulau Tanjungdahan, Galang Baru. ***

~ oleh esont pada Juni 22, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: