Aneka Bahaya dalam Minuman Bersoda

Minuman bersoda.

Minuman bersoda.

Kandungan pewarna dan pemanis pada minuman bersoda selain berpotensi memicu kanker, juga menyebabkan anak-anak berperilaku agresif dan sulit berkonsentrasi.

YUSUF HIDAYAT

Kita mungkin sering mendengar orang tua yang melarang anaknya meminum minuman bersoda (berkarbonasi), atau mungkin kita sendiri memasang rambu “Stop” untuk minuman bersoda bagi anak kita. Padahal minuman bersoda disukai anak-anak. Selain populer, minuman bersoda mudah ditemui di restoran cepat saji bahkan di warung-warung komplek.
Sebenarnya ada apa dengan minuman bersoda? “Kandungan utama minuman bersoda adalah CO2 yaitu gas,” kata dr Brian Gantoro SpGK di ruang praktiknya di Rumah Sakit Awal Bros, Batam, Kamis (18/12).

Saat diminum minuman bergas itu seperti dikocok-kocok, makanya minuman ini punya sensasi seperti meloncat-loncat di lidah. Di saat itulah kelarutan CO2-nya berkurang atau keluar dari cairan.

“Meskipun CO2-nya keluar tapi masih banyak (kandungannya) di dalam minuman tersebut dan mengganggu penyerapan kalsium. Akibatnya tubuh akan kekurangan kalsium meskipun asupannya sudah cukup,” jelas Brian.

Foto : Yusuf Hidayat dr Brain Gantoro, SpGK

Foto : Yusuf Hidayat
dr Brain Gantoro, SpGK

Jika seseorang kekurangan kalsium, orang tersebut akan cepat masuk ke penyakit osteoporosis yaitu penyakit pengeroposan tulang. “Padahal secara umum orang Indonesia dikenal asupan kalsiumnya kurang dibanding negara lain, misalnya orang Eropa dan Amerika. Di sana pagi-pagi sudah diantar susu segar,” ucapnya.

Menurut Brian, sumber kalsium selain dari susu hewani, kalsium bisa didapat dari tulang ikan. “Kalau di luar itu, seperti telur, jus (susu) kedelai atau sayuran, kandungan kalsiumnya sedikit.”

Brian mengatakan, sebenarnya yang berbahaya dari minuman bersoda adalah zat tambahannya, seperti pemanis buatan, pewarna, penguat rasa, dan bahan pengawetnya. Yang terkenal di masyarakat untuk pengawet adalah borax dan formalin. Sedangkan untuk pewarna adalah rodamin B yang biasanya dipakai untuk pewarna tekstil.

“Kalau pemanis buatan terus berkembang sampai sekarang seiring dengan penemuannya,” ujarnya. Dari sakarin, siklamat, aspartam, dan yang terbaru adalah sukralosa. “Sakarin dan siklamat ditemukan oleh peneliti bisa memicu sel kanker,” bebernya.

Perbandingan antara gula murni dan pemanis buatan bisa ratusan kali lipat dalam hitungan gram. Jika satu sendok gula hanya cukup untuk satu gelas, maka satu sendok pemanis buatan bisa untuk memaniskan 180 hingga 800 gelas!

Namun demikian, pemanis buatan tidak mengandung kalori sehingga tidak berbahaya bagi penderita diabetes tapi jika dikonsumsi dengan berlebihan bisa memicu sel-sel kanker. “Itu juga berlaku bagi orang normal,” papar Brian.

Sebaliknya, kata Brian, gula alami akan berbahaya bagi penderita diabetes karena bisa meningkatkan kadar gula dengan cepat. “Kalau orang normal (bukan penderita diabetes, red) sanggup mengolah gula dalam darahnya sehingga normal kembali karena insulinnya cukup. Sementara penderita diabetes insulinnya kurang,” katanya.

Minuman bersoda yang mengandung pemanis merupakan salah satu penyebab dari obesitas di dunia, namun beberapa studi saat ini mengaitkan minuman bersoda dengan kelainan perilaku pada remaja dan anak-anak, seperti dirilis oleh klinikdokter.com yang mengutip dari sejumlah jurnal penelitian. Antara lain anak-anak usia 5 tahun yang mengonsumsi minuman bersoda terjadi peningkatan perilaku agresif, penarikan diri, dan sulit untuk konsentrasi dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsi soda.

Dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa minuman bersoda mengandung air berkarbonasi, sirup jagung dengan kadar fruktosa yang tinggi, aspartame, sodium benzoate, asam sitrat atau fosfor, dan sering juga kafein, yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang secara umum.

Temuan lainnya yang dipublikasikan pada tahun 2011 di Injury Prevention Journal menemukan bahwa remaja yang mengonsumsi 5 kaleng soda setiap minggu memiliki kecenderungan membawa senjata dan berperilaku lebih kasar terhadap teman, keluarga, dan pasangan. Sebuah studi dari penulis yang sama menemukan bahwa konsumsi minuman bersoda yang tinggi berkaitan dengan beberapa tindakan agresif dan perubahan perasaan dari perilaku termasuk berkaitan dengan pertengkaran, perasaan sedih, perasaan putus asa serta perasaan ingin bunuh diri.

Pada studi terakhir yang dipublikasikan pada Journal of Pediatrics, mereka meneliti anak-anak usia 5 tahun, dimana 43 persen anak dilaporkan mengonsumsi minuman bersoda paling tidak satu kali dalam sehari, dan 4 persen anak mengonsumsi minuman bersoda 4 kali atau lebih dalam satu hari. Setelah diteliti, mereka menemukan hubungan signifikan antara konsumsi minuman bersoda dengan perilaku agresif, juga termasuk di dalamnya perilaku menghancurkan barang milik orang, terlibat dalam pertengkaran, dan secara fisik cenderung menyerang orang.

Sudah banyak studi yang mengaitkan, kafein dengan perubahan hormon yang dapat mempengaruhi otak anak yang masih berkembang mengenai pengertian mereka terhadap risiko. Hingga saat ini FDA (Food and Drugs Administration) masih meneliti efek dari kafein terhadap anak. Oleh karena itu, saat ini banyak perusahaan minuman terutama di Amerika yang membatasi konsumsi soda pada anak-anak, dan menganjurkan pilihan minuman lain seperti jus dan susu di sekolah-sekolah.

Dampak buruk lainnya dari minuman bersoda bisa merusak kesehatan kulit. “Masalah terbesar tentang soda adalah jumlah gila gula. Bahaya gula bagi tubuh bukan hal baru, para ilmuwan telah mempelajari selama bertahun-tahun. Ketika seorang pasien mengonsumsi banyak gula, hal itu dapat terlihat pada kulit mereka,” kata dermatolog di Lenox Hill Hospital di New York City, Dr. Steven Victor, seperti dilansir laman Fox News, yang diterbitkan jpnn.com (Grup Batam Pos), Senin (1/12).

Hasil dari National Health dan Nutrition Examination Survey yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menemukan sumber atas tambahan gula dalam diet Amerika adalah minuman bersoda.

“Saya melihat efek terlalu sering mengkonsumsi minuman bersoda terhadap kulit adalah keriput, tekstur kulit dan kandungan minyak. Ketika Anda melihat seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak gula, kulit mereka tidak terlihat bersinar atau terang, tampak kendor dan kusam,” kata Victor lebih lanjut.

Victor mengatakan, masalah utama mengkonsumsi soda adalah efek inflamasi itu pada tubuh.

“Soda merupakan faktor dalam proses penuaan kulit karena menyebabkan tubuh memproduksi semua jenis produk inflamasi, yang sangat mempengaruhi kulit Anda,” jelas Victor. ***

*tulisan ini pernah diterbitkan di majalah.batampos.co.id dan Koran Batam Pos.

~ oleh esont pada Januari 17, 2015.

2 Tanggapan to “Aneka Bahaya dalam Minuman Bersoda”

  1. Tulisannya bagus, Mak….
    Jadi kangen suasana liputan dulu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: