Negara pun Memerangi Kegemukan

Mendapatkan tubuh yang ideal perlu perjuangan yang konsisten.

Mendapatkan tubuh yang ideal perlu perjuangan yang konsisten.

Di tengah banjir produk kuliner, obesitas alias kegemukan adalah hal yang menakutkan. Di banyak negara, kegemukan kini bukan lagi urusan pribadi, tapi ia sudah jadi ranah negara. Pemerintah ikut mengurus rakyat yang kegemukan agar mendapatkan tubuh ideal.
R YUSUF HIDAYAT
Memiliki jasmani yang sehat adalah harapan semua orang. Tinggi badan ideal dan bobot seimbang. Namun, selera makan yang tinggi bisa memupus impian itu. Bahkan tak sedikit orang mengalami obesitas (kegemukan) akibat nafsu makan yang kuat, menyebabkan lemak dalam tubuhnya menumpuk.

Masalah obesitas tak hanya menjadi urusan pribadi. Di sejumlah negara obesitas menjadi masalah serius yang harus diperangi sehingga pemerintah harus turun tangan.

Berbagai cara dan metode dilakukan untuk menurunkan berat badan. Masyarakat Amerika mencoba menurunkan berat badan dengan berolahraga, diet, minum obat sampai operasi. Namun negara lain melakukan cara berbeda-beda, seperti yang dilansir harian The New Republic, 23 Juli 2013.

Jepang yang memiliki tingkat obesitas rendah, hanya 3,5 persen, -tahun 2008 rata rata penduduk dewasa memiliki lingkar 35,4 inchi dan wanita 33,5 inchi- bila ada yang memiliki ukuran pinggang lebih besar, wajib menghadiri konseling untuk konsultasi.

Di Selandia Baru, pemerintahnya melarang penduduk yang bermigrasi dengan berat badan berlebih. Alasannya, kemungkinan mereka sakit karena kelebihan berat badan dan negara tidak akan mampu membayar rumah sakit.

Papan pengumuman di Selandia baru.

Papan pengumuman di Selandia baru.

Negeri Tirai Bambu, China menggunakan jarum akupuntur. Menurut otoritas rumah sakit di Hongkong, efek akupuntur dapat berfungsi menurunkan berat badan. Titik yang diarahkan seperti telinga dan kaki berdampak juga pada perut dan limpa.

Amerika menggunakan tabung agar setiap pasien yang makan lalu 30 persen dikeluarkan kembali sebelum dicerna.

Sementara Dubai, negeri kaya minyak itu sampai mengiming-imingi penduduknya dengan emas dan dirham agar berolahraga. Tujuannya menurunkan berat badan. Peserta yang mampu menurunkan berat badan dapat hadiah emas satu gram bila berhasil mengurangi berat badan 1 kg, dan minimal 2 kg selama bulan puasa. Tiga orang mendapat kesempatan untuk memperoleh hadiah 20.000 dirham atau setara 5.500 dolar AS. Peserta harus mendaftar untuk ditimbang dan program berakhir pada 16 Agustus 2013 lalu.

Denmark memerangi obesitas dengan cara memberlakukan pajak lemak. Sejak 3 Oktober 2011. Pajak tersebut dikenakan terhadap makanan yang memiliki lemak jenuh di atas 2.3 persen. Di bawah itu dinyatakan sebagai makanan sehat dan tidak dikenakan pajak. Pemerintah Denmark berdalih pendapatan dari sektor pajak lemak tersebut akan digunakan sebagai dana kampanye memerangi obesitas.

Negeri Jiran, Malaysia, sejak 2013, melalui Kementerian Kesehatannya fokus memerangi masalah obesitas rakyatnya.

Menurut dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, dr Brain Gantoro, SpGK, ada dua faktor yang menyebabkan orang bisa obesitas atau kegemukan. Yaitu, faktor genetik (keturunan) dan pola hidup yang tidak sehat.

Yang dimaksud pola hidup tidak sehat, kata dr Brain, pola makan dan aktivitas yang tidak teratur.

“Obesitas itu penyakit kronis, karena penanganannya tidak bisa sehari dua hari atau hitungan minggu. Tapi bisa seumur hidup,” kata dr Brain, saat ditemui di ruang prakteknya di RSAB, Selasa (21/1).

dr Brain Gantoro, SpGK

dr Brain Gantoro, SpGK

Secara medis, lanjutnya, obesitas adalah kelebihan lemak dan kelebihan berat badan, yang punya implikasi kilinis terhadap kerja metabolisme (pembakaran) dalam tubuh.

“Jika kerja metabolisme tubuh terganggu, orang itu mudah terserang penyakit seperti diabetes, jantung koroner (pembuluh darah di jantung terjadi penyempitan), dan stroke, karena meningkatnya kadar lemak dalam darah,” Brain menjelaskan.

Dia mencontohkan penyakit hati (perlemakan hati). Itu terjadi karena kadar lemaknya tinggi hingga membungkus hati yang menyebabkan kerja hati jadi menurun dan akhirnya tidak bisa membakar lemak. “Hatinya bisa rusak, padahal kerjanya menyimpan gula. Dan itu bisa menyebabkan diabetes. Bahkan bisa menurunkan imun tubuh yang bisa menyebabkan sel kanker cepat tumbuh,” tuturnya.
“Satu lagi yang sering tidak disadari yakni peradangan.”

Pola makan yang sehat, menurut dr Brain, tidak meninggalkan waktu makan utama (sarapan, makan siang, makan malam). Misalnya sarapan pukul 07.00, makan siang pukul 13.00, dan makan malam pukul 19.00. “Bisa dimajukan setengah atau satu jam,” katanya.

Waktu makan utama bukan berarti makan yang banyak. “Makan utama jangan jadikan makan besar, berhentilah sebelum kenyang,” katanya. Di antara jam makan utama bisa menyelingi dengan makanan ringan.

Berat badan tidak ideal dialami Afif Ainurrahman, 37. Kapten kapal Villa Singapura yang berbobot 80 kg dengan tinggi 1.67 meter ini, mengaku sulit mengendalikan nafsu makannya.

“Nafsu makanku kuat, sulit menahan jika sudah ingin makan meskipun baru saja makan. Apalagi jika gulai kambing atau martabak,” kata Afif, panggilan akrabnya, saat ditemui di rumahnya di Perumahan Taman Raya Tahap III Cluster CTH Nomor 11, Batam, Selasa (21/1) lalu.

Makan tak hanya tiga kali sehari, Afif tak membatasi jam makan utama itu. Kapan saja jika mau, makanan apa pun yang menjadi seleranya pasti dilahapnya. “Apalagi kalau malam menjelang tidur, kalau tak makan dulu pasti terbangun karena rasa lapar,” ungkap pria yang sudah sembilan tahun kerja kapal di Singapura ini.

Meski sering olah raga voli, berat badannya tak kunjung turun. Pola makan Afif yang salah, menular ke anaknya. “Anakku jadi ikut-ikutan, nafsu makannya kuat juga,” ujar lulusan AMNI Semarang tahun 2000 ini.

Akibat pola makan yang tak teratur itu, anak pertamanya, Abdullah Assegaf, 7,5, badannya menjadi gemuk. Siswa SD Cendana itu memiliki tinggi 1.32 meter dan berat 40 kg.

Menurut dr Brain, berat ideal Abdullah Assegaf adalah 18.5-31 kg. “Itu masuk kategori obesitas karena lebih besar dari persentil 95,” ucapnya.

Berat badan kurang (kurang dari persentil 5), berat badan sehat (antara persentil 5 sampai persentil 85), berat badan berlebih (antara persentil 85 sampai persentil 95).

Sedangkan ideal berat badan Afif, lanjut dr Brain, 52-64 kilogram. “Kalau 80 kilogram disebut obese 1,” ujarnya.
Olah Raga

Dokter Brain mengatakan, lemak dalam tubuh manusia ada dua kategori, yaitu lemak yang mudah dibakar, yang terdapat di bawah kulit atau otot. “Lemak yang ini bisa dibakar dengan olah raga, yang dikeluarkan melalui keringat.” Sedangkan lemak yang sulit dibakar terletak di antara organ tubuh (hati, jantung, usus, ginjal). “Ini hanya bisa ditanggulangi dengan diet.”

Bagaimana cara mencegah terjadinya penumpukan lemak? “Secara umum mengurangi in put dan meningkatkan out put,” tukasnya.

Yang dimaksud in put, jelas dia, yaitu menghindari makanan berlemak. Makanan berlemak bersumber dari gorengan dan protein hewani, seperti susu, kuning telur, ikan, ayam (daging putih), dan daging merah (sapi, kambing, dan sejenisnya). “Kalau mau makan ayam, gak usah dimakan kulitnya, dagingnya saja. Dan lebih baik pilih yang dipanggang daripada yang digoreng,” sarannya.

Sedangkan yang dimaksud out put-nya, yaitu aktivitas olahraga.
Menurut dr Brain, ada lima ketegori olah raga; olahraga kesehatan, hobi, rekreasi, pergaulan, dan prestasi. Dari lima kategori olahraga tersebut, yang berguna bagi kesehatan hanya satu. “Hanya olah raga kesehatan,” katanya.

Olahraga kesehatan itu seperti apa? Dokter Brain menyebutkan, olah raga kesehatan punya empat syarat, yakni, minimal dilakukan tiga kali dalam seminggu, berkeringat (intensitas), setiap olahraga minimal durasinya 30 menit, dan tipe olahraganya adalah olahraga aerobik (jogging, yoga, senam pagi, senam aerobik, dan renang). “Olahraga angkat besi tidak termasuk olahraga kesehatan karena hanya sesaat,” ucapnya.

Mengapa olahraga kesehatan baik bagi tubuh? “Karena menggunakan oksigen (O2) lebih banyak untuk pembakaran lemak,” katanya.

Apakah olahraga kategori lainnya tidak baik bagi tubuh? “Semua olahraga permainan bisa dikatakan bukan olahraga yang terbaik karena menggunakan kapasitas jantung yang tinggi dan jedanya yang rendah, kemudian tinggi lagi. Misalnya sepakbola dan tinju,” terangnya.

“Dan olah raga permainan itu tidak bisa kita gunakan seumur hidup. Atlet tinju misalnya yang usianya sudah di atas 30-an sudah harus gantung sarung tinju.”

Faktor Usia

Selain masalah pola makan dan aktivitas yang tidak sehat, faktor usia juga memengaruhi obesitas. Menurut dr Brain, makin tinggi usia seseorang, metabolismenya semakin menurun. “Misalkan waktu muda makan habis dua piring normal, kalau sudah tua satu piring saja bisa menyebabkan kegemukan,” ujarnya.

Tak hanya itu, jika usia semakin tua, kegesitannya juga akan menurun. “Kalau sudah begitu, otot-ototnya otomatis mengendur dan sulit membakar lemak,” katanya lagi.

“Nah, ini yang bisa mengimbangi yaitu kalau usia orang sudah di atas 60 tahun selera makan berkurang. Jadi potensi penumpukan lemak di dalam tubuh juga sedikit,” jelasnya.
Anak-anak

Lalu bagaimana dengan anak-anak? “Sama saja, tapi in put-nya itu gak boleh terlalu ketat, karena masih dalam masa pertumbuhan. Dan anak-anak itu lebih sulit menggunakan obat atau diet. Olahraganya saja ditingkatkan,” jawabnya.

Bagaimana cara mengetahui badan (lemak dan otot) kita ideal?
Dengan bantuan alat pengukur lemak, di zaman sekarang sudah tidak sulit lagi. Dari hasil hitungan alat canggih itu lemak dan otot di tubuh kita bisa diketahui. “Kalau di sini (RSAB, red) nama alatnya BIA. Alat ini bisa mengukur impedansi (daya tahan listrik dalam tubuh) badan sampai pembagiannya, jadi kita akan tahu berapa kadar lemak di dalam tubuh kita,” ujarnya.

Sebaiknya, kata dia, untuk mengendalikan lemak, sebulan sekali mengontrolnya. ***

Kurang gerak akan berbuah kegemukan.

Kurang gerak akan berbuah kegemukan.

Berhentilah Sebelum Kenyang

Salah satu cara untuk mencegah kegemukan adalah diet. “Cara diet yang paling bisa diterima adalah diet seimbang,” ungkap dr Brain Gantoro, SpGK,
Spesialis Gizi Klinik Rumah Saki Awal Bros (RSAB) Batam.

Seimbang di sini, katanya, in put harus memperhatikan kebutuhan tubuh. “Kebutuhan itu berdasarkan usia, tinggi, berat badan, dan jenis kelamin. Setelah tahu baru diresepkan jumlah makanannya,” terangnya. “Kalau dilanggar pasti menyebabkan ketidakseimbangan, bisa gemuk atau kurus.”

Tidak semua orang orang bisa menjalankan diet dengan disiplin. Hanya orang yang punya kemauan yang kuat bisa menjalankannya. “Diet seimbang itu butuh niat yang kuat, kalau tidak begitu tidak akan berhasil,” ujarnya.

Dokter Brain menyarankan disiplin dalam hal makan. “Berhentilah sebelum kenyang,” ia menyarankan.

Dia menyatakan tidak masalah makan di luar tiga kali makan utama (sarapan, makan siang, dan makan malam), tapi bukan makanan berat. “Selingan saja, misalkan bubur kacang ijo atau makanan ringan lainnya.”

Dia menambahkan, diet juga butuh suplemen dan obat yang sarat serat.
Junk Food dan Fast Food

Bagi orang yang sibuk, fast food atau makanan cepat saji merupakan pilihan. Karena kesibukan mereka tidak punya banyak waktu di meja makan.
Nah, pada umumnya fast food yang ada kebanyakan memiliki sedikit kandungan nutrisi atau makanan rendah gizi (junk food). “Junk food mengandung lemak dan garam tinggi, sementara kandungan vitamin dan mineralnya kurang,” kata dr Brain.

Junk food, kata dia, harus dikurangi. Tapi kalau tidak bisa, harus diimbangi dengan sayur atau buah dan olah raga. Mengapa harus sayur dan buah? Dijelaskan dr Brain, semua sayur dan buah mengandung serat yang tinggi, sementara daging tidak mengandung serat. “Tubuh kita butuh serat untuk membantu kerja metabolisme,” katanya.

Serat sendiri adalah makanan yang tidak bisa dicerna enzim-enzim manusia. “Makanan itu masih bersisa sampai ke pembuangan,” tukasnya.

Serat ada dua jenis, serat yang larut dan serat yang tidak larut. “Serat yang larut akan mengikat empedu yang akhirnya akan menurunkan kolesterol. Sedangkan serat yang tidak larut akan memperbesar volume kotoran sehingga tidak menumpuk di saluran cerna bawah,” dr Brain menjelaskan.

Jika sisa -sisa pencernaan yang bersifat racun itu menumpuk, lanjutnya, bisa terserap habis oleh tubuh. “Maka dari itu, kita perlu makan sayur dan buah yang juga kaya mineral dan multivitamin,” ucapnya.

Istirahat

Dalam 24 jam, tubuh manusia perlu istirahat. Normalnya, manusia aktif (tidak tidur) 16 jam dalam sehari. “Sisanya gunakanlah untuk beristirahat,” kata dr Brain.

Bagi orang yang jam kerjanya normal (pergi kerja pukul 07.00, pulang kerja pukul 17.00), mungkin tidak masalah untuk mengatur waktu istirahatnya, tapi bagi mereka yang kerjanya malam, tentu lain lagi ceritanya. Kalau kerjanya malam, misalnya pulang kerja hingga pukul dua dini hari, kualias tidurnya harus baik. “Tidurnya harus berkualitas.”

Tidur berkualitas, menurut dr Brain, punya siklus. Satu kali siklus sekitar 45 menit. Jika tanpa menyelesaikan siklus tidur dengan lengkap, tubuh akan terasa lebih tidak enak setelah bangun tidur, dibandingkan sebelum tidur.

Nah, waktu tidur tubuh kita beristirahat, jika masih ada makanan di tubuh tentu tubuh kita dipaksa terus bekerja yang akhirnya membuat ketidakseimbangan. “Lambung kita butuh waktu pengosongan antara 2-5 jam,” katanya.

“Meskipun kerjanya malam, usahakan bangun pagi dan berolah raga. Setelah itu bisa istirahat kembali agar badan tetap fit,” sarannya. (yusuf hidayat)

Tulisan ini pernah diterbitkan di majalah.batampos.co.id dan Koran Batam Pos.

~ oleh esont pada November 16, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: