Keranjingan Gadget Bisa Picu Saraf Kejepit

Keranjingan Gadget Bisa Picu Saraf Kejepit

Gadget-Dani-Nikita copyNikita lihat abang Dani yang sedang asyik main game di PSP-nya.
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat bagaikan pisau bermata dua. Kebutuhan yang sudah menjadi gaya hidup ini, di satu sisi memberi kemudahan, di sisi lainnya mengancam kehidupan manusia secara diam-diam. Apa saja ancaman yang merugikan itu?

YUSUF HIDAYAT, Batam
Tak perlu repot lagi untuk mengetahui berita terkini dari seluruh dunia. Tinggal klik layar monitor telepon pintar kita sudah bisa mengakses beragam informasi terkini di dunia. Tak hanya bisa mengakses informasi, kita juga bisa berbagi informasi kepada “friend” lewat jaringan media sosial, baik berita maupun foto.

Tak dipungkiri, fenomena abad ini telah banyak mengubah kebiasaan-kebiasaan manusia modern, dari balita hingga kakek-nenek. Semuanya dimanjakan oleh teknologi informasi. Namun, yang tak disadari adalah sikap dan kebiasaan yang awalnya dianggap aktivitas biasa, bisa menjadi “candu” yang berdampak buruk terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Terutama terkait kesehatan dan sosial bahkan cyber crime.

Kini tak heran lagi jika kita melihat keluarga yang sedang makan, kemudian bapak atau ibunya disibukkan dengan gadget-nya. Tangan memegang sendok tapi mata melotot ke layar ponsel. Sekadar melihat mention yang masuk ke akun medsosnya atau membalas twit dari follower-nya. Anak bertanya tentang uang sekolah tapi orang tuanya hanya menjawab apa adanya karena sedang serius membaca gosip artis yang sedang naik daun. Si anak hanya bisa cemberut karena dicueki bapaknya atau ibunya.

Tak cukup di meja makan, perhatiannya terhadap smartphone berlanjut saat sedang berjalan, nyetir kendaraan, naik lift, di meja kantor, bahkan saat nongkrong bareng teman-temannya hingga menjelang tidur.

Tahukah Anda jika tulang spinal (punggung) terlalu sering tertekan karena keseringan menunduk, bisa memengaruhi postur tubuh dan memicu saraf kejepit?

Menurut dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Fisher Iwan, dalam jangka waktu tertentu kebiasaan buruk tersebut bisa berpengaruh kepada tulang spinal – mulai dari tengkuk, punggung, pinggang sampai tulang ekor – dan area tangan, namun yang paling terpengaruh adalah tengkuk dan punggung. “Posturnya bisa jelek dan otot-ototnya jadi kaku,” kata Fisher di ruang praktiknya di Rumah Sakit Awal Bros, Kamis (5/11).

dr Fisher Iwan SpRK F-Yusuf

F. Yusuf Hidayat

dr Fisher Iwan, SpRK.

Pasalnya saat orang yang sedang “online” mata akan melihat ke bawah dan tulang spinalnya akan maju. Penopangnya hanya di bagian depan, sementara otot di bagian belakang bekerja keras menopang beratnya massa kepala. “Itu sama dengan saat orang membawa tiang bendera, semakin maju tiangnya akan semakin berat. Kalau hanya 20 menit tidak akan terasa tapi kalau sudah berjam-jam pasti akan terasa,” kata Fisher.

Massa kepala orang dewasa, kata Fisher, dalam kondisi tegak lurus rata-rata 5 kilogram (kg). Namun, jika condongnya 15 derajat beratnya bisa tiga kali lipat atau 15 kg, “lebih dari 30 derajat bebannya jadi lima kali lipat,” imbuhnya.

Maka dari itu, tak heran jika orang yang berjam-jam betah online dengan ponsel pintarnya maka otot lehernya akan kaku dan terasa lelah. Seperti yang dialami oleh Chahaya, 29. “Memang terasa kaku, kalau sudah begitu saya akan melakukan peregangan sambil muter-muterin kepala,” ujar cewek yang mengaku rata-rata dalam sehari bisa delapan sampai sepuluh jam mengakses internet baik di ponselnya pintarnya maupun di komputer, dari baca berita, posting status, maupun bermain game, Selasa (10/11).

Selama ini, Chahaya tidak begitu memperhatikan postur tubuhnya ketika sedang asyik berselancar di dunia maya, apalagi kalau sedang main game. Kadang main game sambil jalan, tiduran dan telungkup. “Main game itu kan bikin penasaran ya, sering dalam dua jaman non stop mainnya. Tiba-tiba batre yang awalnya 80 persen tinggal 10 persen,” ungkapnya sambil tertawa.

Dia mengaku selama ini baik-baik saja, tidak ada yang aneh dengan tulang spinalnya. “Mungkin karena masih muda ya,” selorohnya sembari tertawa lagi.

Kata Fisher, usia tidak begitu berpengaruh kepada tulang spinal, namun lebih kepada postur tubuh, waktu dan berat gadget. Postur yang baik, dagu harus dekat dengan leher, kemudian bahunya terbuka dan harus ada penyangga tangan. “Tarik dagunya ke arah leher, punggung lurus dengan duduk bersandar.”

Jika kebiasaan menunduk terus berlanjut maka postur tubuhnya yang awalnya tegak, lama kelamaan akan bungkuk. “Bahunya masuk ke dalam dan kepalanya maju, artinya dagu menjauh dari leher, seperti ini,” terang Fisher sambil memajukan dagu dan meringkukkan badannya.

“Kalau sudah begitu syarafnya bisa kejepit, dan paru-parunya kurang mengembang,” ujarnya lagi.

Menurut dr R Hadi Sirwandanu, SpBS (Spesialis Bedah Saraf) yang dimaksud dengan saraf kejepit adalah saraf tepi yang kejepit dari sistem tubuh mulai dari otak sampai ke sistem saraf tulang belakang. “Jadi saraf kejepit itu tidak hanya di bagian tulang belakang saja,” kata Hadi di Rumah Sakit Awal Bros, Kamis (19/8) lalu.

Jika misalnya, saraf yang kejepit di bagian otak maka aliran saraf tepi yang mensarafi daerah wajah dan kepala akan terganggu, seperti hidung dan mata. Penyebabnya bisa karena trauma akibat jatuh, terbentur, pendarahan, tumor atau cedera dasar tulang tengkorak.

Sedangkan jika saraf yang terjepit di bagian tulang belakang maka yang terganggu adalah saraf tepi bagian leher sampai tulang ekor. Hadi membagi tiga bagian di saraf tulang belakang, yaitu leher, punggung atas dan punggung bawah. “Jika saraf leher yang kena maka fungsi sensorik tangan akan terganggu, gejalanya pegel-pegel bagian tangan, bisa susah menulis atau kemeng kata orang Jawa,” terang dokter berkacamata ini.

Jika yang kena di bagian punggung atas gejalanya rasa pegal yang hilang timbul dan sesak. “Dada seperti dikat,” ucap Hadi.
Jika sarafnya yang terjepit di bagian punggung bawah maka alamat fungsi pergerakan kaki, fungsi membuang air besar dan kecil akan terganggu, “sistem koordinasi pergerakan kaki juga terganggu.”

Penyebab penjepitan, lanjut Hadi, bisa karena trauma, degenerasi faktor usia, atau tumor saraf belakang. “Trauma itu bisa karena beban kerja, angkat berat (olahraga), bisa juga karena postur tubuh tidak normal.”

Hadi mengumpamakan alian darah di sistem saraf seperti saluran listrik, jika suplai listrik kurang maksimal bisa mengakibatkan jaringan yang dialiri terganggu. Bisa kedap-kedip, bisa juga mati total. “Misalnya dalam keadaan normal kekuatannya 100 volt, jika tersumbat bisa berkurang sampai 50, 30 atau 20 volt. Lama kelamaan bagian tubuh yang terganggu itu bisa mengecil bahkan lumpuh,” paparnya.

Hadi menyatakan penanganan terhadap pasien saraf kejepit opsinya operatif dan nonoperatif. “Kalau penjepitannya lebih dari 25 persen maka dokter akan menyarankan dioperasi, tapi kalau kurang dari itu hanya diberi obat-obatan saja dan diterapi,” jelas dia.

Dampak yang lebih buruk akan terjadi bagi mereka yang punya riwayat gangguan pernafasan. Menurut Fisher, orang dengan gangguan pernafasan akan mudah sesak dan penyakit asma-nya akan mudah kambuh. “Bukan karena alergi tapi karena tadi itu (kebiasaan meringkuk, red).”

Dampak buruk kebiasaan bermain gadget apalagi main game dengan postur tidak pas dalam jangka waktu yang lama tidak hanya berpengaruh pada tulang spinal, tapi juga pada otot di tangan. Dikatakan Fisher, karena terlalu banyak usaha di jempol akan ada peradangan di ujung otot. “Kejepit sarafnya karena banyak nekuk. Pergelangan tangannya kan berulang-ulang menekuk maka ada cedera berulang-ulang,” paparnya.

Fisher menyatakan satu-satunya cara untuk menghindari dampak buruk itu harus memperbaiki postur tubuh saat asyik bermain dengan gadget dan mengurangi jumlah waktunya. “Selain postur harus bagus, baiknya duduk dan perhatikan waktu. Paling tidak setelah setengah jam lakukan stretching (peregangan, red) sambil memandang yang jauh selama lima menit,” Fisher menyarankan.

Seperti yang selalu dilakukan oleh Faiq Syahbani, 16, pelajar SMKN 1 Batam. Dia mengaku rata-rata mengakses internet delapan jam setiap hari. Baik menggunakan laptop maupun smartphone. Untuk menghindari capek, Faiq selalu melakukan peregangan otot leher dan memandang yang hijau-hijau secukupnya. “Kebetulan di rumah ada balkon yang ditanami lidah buaya, dan di depan rumah juga ada pohon mangga,” ujar remaja yang tinggal di Tiban I, Sekupang, Selasa (10/11).

Siswa kelas dua jurusan Teknik Komputer dan Jaringan ini, sejak kelas 1 sudah dibelikan laptop oleh orang tuanya. Karena jurusannya banyak berhubungan dengan teknologi informasi. “Tugas sekolah banyak yang mengharuskan mengakses internet,” katanya.

Maka dari itu, dia sudah mengantisipasi efek negatif dari kelamaan melototin layar monitor laptop dan smartphone-nya. “Selain baca-baca di internet (antisipasi dampak buruk berlama-lama di depan laptop, red), bapak juga sudah ngingatin dari awal,” pungkasnya. ***

Artikel ini pernah terbit di Harian Batam Pos.

~ oleh esont pada Januari 11, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: