Dampak Mengerikan Dari Bersin

sneezeIllustrasi bersin. F. Net

Berhati-hatilah ketika bersin. Kontraksi tiba-tiba dalam tubuh yang ditimbulkan oleh bersin bisa menyebabkan saraf kejepit, pecah pembuluh darah, bahkan patah tulang.

YUSUF HIDAYAT, Batam
Pagi yang cerah di Senin pagi itu, harusnya disambut dengan semangat oleh Edi. Sesemangat burung-burung kecil yang hinggap di ranting pohon mangga depan rumahnya.
Namun dia tertidur pulas dengan posisi terlentang di kursi panjang ruang tamu karena malamnya begadang. Sinar matahari yang masih lembut menembus ruang tamu melalui jendela kaca dan menerpa wajahnya. Rasa penat mengabaikan sapuan matahari yang membangunkannya. Dia meneruskan tidurnya, dan menutupi matanya dengan lengan kanannya. Ibunya membangunkannya namun Edi tak mau bangun.

Namun, tiba-tiba ia bersin. Mungkin karena debu yang beterbangan masuk ke hidungnya setelah ibunya menyapu lantai. Haacciiim..! Cukup kencang bunyinya. Sampai-sampai kepala dan kakinya terangkat. Tidak ada yang aneh dari bersin itu. Biasa saja seperti kebanyakan orang bersin.

Yang aneh adalah rasa sakit yang sangat di bawah perut atau di ujung pahanya. “Rasa sakitnya seketika,” Edi menceritakan pengalamannya di tahun 2000.

Sejak itu, cara berjalannya tidak normal. Ia berjalan seperti orang pincang. Kalau berjalan, kaki kanannya agak diseret karena rasa sakit di pangkal pahanya itu. Dia panik. Begitu juga ibu dan saudara-saudaranya. Dia merasa akan cacat seumur hidup, padahal usianya baru 19 tahun kala itu.

Kakaknya membawanya ke orang kampung, berobat secara tradisional. Selain diurut, Edi juga diterapi mandi tiap pagi dan sore. Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tak kunjung ada perubahan. Malah kaki kanannya yang sakit terlihat mengecil. Tubuhnya yang kekar juga tampak kurus. Mukanya kusut.

Edi tak putus asa. Dia memang termasuk orang yang tabah dan tak mudah menyerah. “Saya yakin suatu saat sembuh,” katanya.

Keyakinannya berbuah manis. Setelah lima tahunan berjuang dengan rasa sakit, tubuhnya kembali normal. Dia sudah bisa berjalan normal, gak pincang lagi. “Alhamdulillah,” ucapnya gembira. Kini dia menjalani hidup normal dan mempersunting wanita idamannya.

Kisah Jamil, 45, mirip dengan Edi. Namun beda pada dampaknya. Sama-sama sakit setelah bersin ketika tidur. Sakit yang dirasakan Jamil di otot belikatnya, apalagi ketika menggerakkan bahu. “Sakitnya tak hilang-hilang, padahal sudah dua mingguan diobati,” ungkap pekerja kapal di Singapura ini, Ramadan lalu.

Dokter memberinya sejumlah obat, salah satunya penghilang nyeri. Obat inilah yang jadi andalan Jamil di kala rasa nyeri menyerangnya. “Aku khawatir tak sembuh-sembuh juga setelah aktif lagi bekerja,” ucapnya. Memang sudah lama bapak dua anak ini istirahat dari pekerjaannya sebagai pelaut. Dan baru dapat panggilan kerja kembali di Singapura setelah nganggur selama setahun.

Sebagai pekerja kapal, tentunya perlu fisik yang prima sehingga mampu bekerja dengan baik. “Kalau kayak gini, saya khawatir tak mampu. Moga-moga cepat sembuh,” ucapnya.

Kabar baik datang sebulan kemudian. Rasa nyeri yang menghantuinya hilang setelah tiga pekan ia bekerja. “Alhamdulillah udah sembuh, seperti biasa lagi,” ungkapnya, Kamis (11/8).

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (SpRK), Fisher Iwan mengatakan, dua kasus di atas meski sama-sama dipicu oleh bersin namun berbeda dampaknya. “Yang sampai cacat itu kemungkinan besar sarafnya kejepit, kalau yang satunya sepertinya kejang otot saja, lebih mudah untuk sembuh,” kata Fisher di ruang praktiknya di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB), Rabu (3/8) lalu.

dr Fisher Iwan SpRK F- Yusufdr Fisher Iwan SpRK. (Foto : Yusuf Hidayat)

Bersin. Ada apa dengan bersin? Kenapa bisa membuat saraf kejepit atau kejang otot?

Dalam wikipedia, bersin adalah keluarnya udara semi otonom yang terjadi dengan keras lewat hidung dan mulut. Tahukah Anda, jika udara ini dapat mencapai kecepatan 70 m/detik atau 250 kilometer per jam! “Seperti kecepatan mobil sport, ya,” ungkap Fisher.

Lalu apa hubungannya kecepatan bersin dengan saraf kejepit atau kejang otot? “Orang yang tidur otot-ototnya akan rileks, begitu ada kontraksi tiba-tiba, bisa menimbulkan kejang otot atau sarafnya kejepit,” ujar pria murah senyum ini.

Lebih lanjut Fisher menjelaskan, ketika seseorang bersin maka tekanan juga meningkat di sekitar bantalan tulang punggung. “Kontraksi otot yang tiba-tiba bisa menyebabkan bantalan paling luar bisa sobek.”

Dikatakan Fisher bantalan terdiri dari dua bagian. Bagian luar seperti lapisan jeli, empuk, sedangkan bagian dalamnya keras seperti batu. Saat bantalan pecah maka bagian dalam yang keras akan keluar dan menekan saraf. “Itulah yang dinamakan saraf kejepit,” tegas dia.

Gejala yang ditimbulkan saat saraf kejepit adalah kesemutan, nyeri, kelemahan dan gangguan fungsi otonom saraf. Fisher mengumpamakan saraf seperti sebuah kabel yang mempunyai tiga fungsi, yakni saraf motorik yang berfungsi menggerakkan ke atas dan ke bawah, sensorik dan otonom.

“Sensorik itu berfungsi ketika menyentuh api, sedangkan otonom adalah saraf yang tidak bisa kita kontrol. Misalnya buang air besar atau buang air kecil,” Fisher menjelaskan.

Dalam kasus yang dialami Edi, lanjutnya, tak heran jika kakinya mengecil karena sarafnya kejepit. “Saraf kejepit bisa disembuhkan  dengan cara konservatif seperti minum obat, olah raga dan fisioterapi,” paparnya.

“Fisioterapinya pakai alat traksi, (yaitu) dilakukan penarikan tulang pinggang. Butuh tiga sampai empat bulan untuk sembuh,” imbuhnya.

Di waktu yang berbeda, dokter spesialis bedah saraf, R Hadi Sirwandanu mengatakan yang dimaksud dengan saraf kejepit adalah saraf tepi yang kejepit dari sistem tubuh mulai dari otak sampai ke sistem saraf tulang belakang.

Misalnya saraf yang kejepit di bagian otak maka aliran saraf tepi yang mensarafi daerah wajah dan kepala akan terganggu, seperti hidung dan mata. Penyebabnya bisa karena trauma akibat jatuh, terbentur, pendarahan, tumor atau cedera dasar tulang tengkorak.

Sedangkan jika saraf yang terjepit di bagian tulang belakang maka yang terganggu adalah saraf tepi bagian leher sampai tulang ekor. Hadi membagi tiga bagian di saraf tulang belakang, yaitu leher, punggung atas dan punggung bawah. “Jika saraf leher yang kena maka fungsi sensorik tangan akan terganggu, gejalanya pegel-pegel bagian tangan, bisa susah menulis atau kemeng kata orang Jawa,” terang dokter berkacamata ini di RSAB, Kamis (19/8) tahun lalu.

Jika yang kena di bagian punggung atas gejalanya rasa pegal yang hilang timbul dan sesak. “Dada seperti diikat,” ucap Hadi.

Jika sarafnya yang terjepit di bagian punggung bawah maka alamat fungsi pergerakan kaki, fungsi membuang air besar dan kecil akan terganggu. “Sistem koordinasi pergerakan kaki juga terganggu,” katanya.

Penyebab penjepitan, lanjut Hadi, bisa karena trauma, degenerasi faktor usia, atau tumor saraf belakang. “Trauma itu bisa karena beban kerja, angkat berat (olahraga), bisa juga karena postur tubuh tidak normal,” kata Hadi lagi.

Hadi mengumpamakan aliran darah di sistem saraf seperti saluran listrik, jika suplai listrik kurang maksimal bisa mengakibatkan jaringan yang dialiri terganggu. Bisa kedap-kedip, bisa juga mati total. “Misalnya dalam keadaan normal kekuatannya 100 volt, jika tersumbat bisa berkurang sampai 50, 30 atau 20 volt. Lama kelamaan bagian tubuh yang terganggu itu bisa mengecil bahkan lumpuh,” paparnya.

Hadi menyatakan penanganan terhadap pasien saraf kejepit opsinya operatif dan nonoperatif. Kalau penjepitannya lebih dari 25 persen maka dokter akan menyarankan dioperasi, tapi kalau kurang dari itu hanya diberi obat-obatan saja dan diterapi.

Di ruang operasi dokter akan membebaskan sistem saraf atau membuang organ yang menjepit sistem saraf (dekompresi saraf), yang bentuknya bisa tulang, daging, tumor atau diskes (bantalan tulang belakang).

“Jika jaringan tulang belakang tidak stabil maka akan dipasang plat titanium, tujuannya untuk stabilisasi,” papar Hadi.

Fisher Iwan memberi tips bersin yang aman. Menurutnya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan orang ketika bersin, yaitu :
1. Bersin tidak boleh ditahan (disumbat)
2. Sebaiknya badan menunduk, kalau sempat membungkuk saat bersin
3. Posisi kedua tangan baiknya di perut sehingga tekanannya tidak menyebar.

Menurut Fisher tekanan di perut membantu mengurangi tekanan akibat bersin. “Diusahakan punggungnya tertekuk,” ujarnya.

Ternyata dampak buruk yang disebabkan oleh bersin lebih dari itu. Dikatakan Fisher efek kontraksi tiba-tiba dari bersin juga bisa menyebabkan patah tulang dan pecah pembuluh darah mata. “Bisa patah jika orang tersebut punya penyakit osteoporosis, bawaan lahir atau gangguan penyerapan kalsium,” jelasnya.

“Bahkan, retina juga bisa copot, tapi yang memang ada penyakitnya,” imbuhnya.***

Artikel ini terbit di Koran Batam Pos, Jumat (12/8/2016).

~ oleh esont pada Agustus 12, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: