Penyandang Autis Tidak Untuk Diasingkan

Lulusan Terbaik dan Juara Tilawah

autis-rania-f-yusufPrastyo Dwi Indah Lestari, 39, melihat putrinya Rania Annisa Fahira, 13, yang sedang menyiapkan bahan untuk membuat pasta kesukaannya, Selasa (4/10) malam. F. Yusuf Hidayat/Batam Pos

Penyandang autisme biasanya punya potensi besar dalam diri mereka. Deteksi dan terapi sedini mungkin penting untuk penyembuhan. Faktor makanan sangat menentukan.

YUSUF HIDAYAT, Batam

Suatu hari Prastyo Dwi Indah Lestari, 39, curiga terhadap perkembangan putrinya Rania Annisa Fahira, yang waktu itu masih berusia 6 bulan. Rania kecil tidak merespon panggilan ibunya. Padahal anak seusianya akan menoleh jika dipanggil, bahkan tertawa.

“Meski diajak bercanda tapi sebentar aja ketawanya, lalu menoleh ke hal lain. Nggak fokus,” kata perempuan yang akrab disapa Indah ini saat ditemui di rumahnya di Perumahan Legenda Bali Blok B2/12 Batam, beberapa waktu yang lalu.

Kecurigaan Indah dan suaminya, Teuku Faisal, 50, berlanjut di hari-hari berikutnya. Ia mulai memperhatikan perilaku Rania dengan seksama. “Selain nggak merespon kalau dipanggil, juga nggak ada kontak mata kalau diajak ngomong. Pokoknya interaksi sosialnya sangat kurang,” ungkap Indah.

Usia Rania bertambah, fisiknya pun semakin besar, namun tidak dengan perilaku dan cara berkomunikasinya. Faisal mulai mencari-cari informasi, apa sebenarnya yang terjadi dengan putrinya. Dari membaca majalah kesehatan hingga mencari informasi di internet.

Akhirnya Faisal menemukan tulisan di sebuah blog yang membahas tentang tumbuh anak yang persis dengan yang dialami Rania. “Waktu itu Rania sudah berumur 1,8 bulan, saya baru tahu kalau itu autis,” ucap Faisal.

Setelah itu, Faisal dan Indah mulai mencari tempat terapi autis di Batam dan rajin bertanya di forum-forum yang ada di dunia maya.

Akhirnya Faisal menemukan tempat terapi anak autis Putrakami di Perumahan Anggrek Mas, Batam. “Usia dua tahun, Rania sudah bisa mengucapkan ‘mama papa’, tapi komunikasinya masih satu arah. Dan kalau ngomong mengulang apa yang saya ucapkan. Misalnya kalau saya bilang ‘Kakak mau makan?’ Rania tidak menjawab iya atau tidak tapi akan mengulang pertanyaan saya itu,” tutur Indah.

Setengah tahun berikutnya, Rania sudah mulai bisa berinteraksi dan memahami instruksi yang diberikan oleh terapis.

Namun, ada yang aneh dengan perkembangan bahasa Rania. Ia rajin mengoceh pakai bahasa Inggris. Ketika diajak berbicara pun Rania mengucapkannya dalam bahasa Inggris.

“Awalnya gak tertata, lama kelamaan dia fasih juga bahasa Inggrisnya. Bahkan kami yang diajari,” ujar Faisal tertawa.

Menurut cerita Faisal, Rania kesukaannya memang menonton film kartun di televisi saluran anak berbahasa Inggris. “Kesukaannya chanel CN (Cartoon Network) dan Playhouse Disney. Kalau diganti chanel yang lain dia marah,” lanjut pria berkacamata ini.

Di usia tiga tahun, terapi tetap berlanjut. Perkembangan perilaku dan komunikasi Rania makin membaik. Diam-diam ternyata Rania sudah bisa membaca dan menulis. “Waktu itu dia membaca SMS di handphone saya dengan pas. Saya heran karena belum pernah diajari,” tutur Faisal.

Kemampuan membaca dan melukisnya juga mulai terlihat meskipun menulis di tembok rumah. “Dia suka menggambar kartun seperti Dragon Ball, dan dia juga tertarik sama IT, gadget,” tukas Indah.

Waktu duduk di 4 SD Al Kaffah Legenda Malaka, Rania termasuk siswa yang pintar. Selain kemampuan berbahasa Inggrisnya, Rania juga pintar dalam mata pelajaran lain, sehingga dia selalu dapat ranking di kelasnya. Rania sempat mendapat ranking dua.

“Andaikan Rania rajin ngerjain PR, kata gurunya, Rania bisa jadi juara umum. Tapi Rania itu malas ngerjain PR, tapi kalau ujian semester nilainya banyak yang dapat 100,” Faisal melanjutkan.

Selain terapis perilaku dan kemampuan bahasa, makanan dan minuman Rania juga dijaga. “Rania itu nggak boleh minum minuman yang kadar gulanya tinggi apalagi yang ada gula buatannya, reaksinya bisa marah-marah dan mudah terpancing emosinya,” terang Indah.
Kini, Rania sudah lulus SD, dan melanjutkan ke jenjang lanjutan pertama. Dia lulus masuk SMPN 12 Batamkota, salah satu sekolah favorit di Batam. “Rania daftar lewat jalur reguler, masuk berdasarkan nilai, nilai SKHU (Surat Keterangan Hasil Ujian)-nya 86,2,” ungkap Indah.

Dimana nilai mata pelajaran wajib, yakni Bahasa Indonesia 88,0, Matematika 90,0, dan Ilmu Pengetahuan Alam 82,5. “Kalau hasil try out-nya peringkat 15 dari 133 siswa,” imbuhnya.

Saat dijumpai di rumahnya, Selasa (4/10) malam, Rania sedang memasak pasta. Dengan cekatan remaja berkacamata ini mengolah bahan-bahan membuat pasta di dapurnya. Bawang bombay, sosis dan keju diiris sesuai keinginannya. Sementara minya direbus. “Saya suka masak pasta, keseringannya memang masak pasta,” ucapnya dengan lancar.

Diakui Faisal, kecenderungan Rania memang menyukai masakan western. “Dia gak mau kalau dimasakin masakan nusantara, maunya masakan western. Jadinya dia buat sendiri dan kami siapin bahannya,” ungkapnya.

Tak hanya kuliner Western, Rania juga lebih menyukai koran berbahasa Inggris seperti Strait Times, dan saluran televisi berbahasa Inggris. “Waktu lagi hangat-hangatnya berita tentang Brexit, dia antusias sekali mengikutinya. Entah kenapa dia begitu tertarik,” kata Faisal.

Bakatnya dalam melukis juga bertambah matang, karya-karyanya yang difoto dan disimpan di laptop ibunya termasuk bagus. Dari beberapa gambar semuanya bertema karakter kartun, ada yang bercerita dan ada gambar yang rumit tapi terlihat bagus.
“Sekarang lebih banyak menggambar. Hobinya gambar kartun. Dia juga senang majalah Chip (majalah yang membahas informasi teknologi), kalau ada terbitan baru dia minta dibeliin,” beber Faisal.

Namun, anehnya perkembangan perilaku sosialnya tidak sepesat perkembangan kognitifnya. “Kalau diumpamakan kurva, garisnya (perkembangan prilaku sosialnya) melengkung. Kemajuannya jika dibandingkan dengan anak kecil tak terlalu terlihat tapi semakin besar semakin terlihat perbedaaanya,” jelas Faisal.

Misalnya kesukaannya nonton kartun tak pernah berubah dari kecil. Pergaulannya dengan teman sebaya juga kurang. “Keinginannya kurang variatif, mestinya anak seusianya dia udah bertambah (prilaku sosialnya),” tukas Indah.

Faisal dan Indah sepakat membimbingnya seperti membimbingnya seperti anak normal. Membimbingnya agar lebih mandiri. “Kami memberi treatment seperti anak normal lainnya,” kata Faisal yang diamini Indah.

Anak autis lainnya, Safiq Kurnia Rabbani, 15, termasuk anak autis yang boleh dikatakan tumbuh kembangnya mendekati normal. Bagaimana tidak, nilai akedemis sekolahnya istimewa, bakatnya juga istimewa.

Siswa kelas 1 SMAN 3 ini, merupakan lulusan terbaik SMP Muhammadiyah Plus Batam di Perumahan Kurnia Djaja Alam, Batamkota. Putra dari Winda Roseka Sitepu, 45, dan Feri Indra Satria, 47, ini menyenangi dunia musik.

Menurut ibunya, suara Safiq bagus dan talentanya memainkan tuts-tuts keyboard juga mumpuni. Bahkan sekarang Safiq menempati posisi vokalis di grup band yang dibentuk bersama teman-temannya. “Baru-baru ini dia tampil di sebuah acara bareng bandnya itu,” ujar Winda, Rabu (12/10).

Tak hanya itu, Safiq, lanjut Winda, juga bagus dalam tilawah serta menghafal surat-surat dalam Alquran. Bahkan pernah juara lomba di Masjid Al Kaffah waktu SD. “Belajar ngajinya sama Bu Halimah, dia yang banyak berperan soal ngajinya,” ungkapnya.

Meskipun autis, Safiq aktif di hampir semua ekstrakurikuler. Seperti kepanduan Hizbul Wathan, drum band, olahraga, musik, dan lainnya. Mungkin karena keaktifan dan kepintarannya waktu perpisahan SMP, dia ditunjuk sebagai leader acara. “Dia banyak berperan di acara perpisahan,” beber Winda.

Dikatakan Winda, dulu, Safiq tidaklah seaktif dan sekreatif ini. Safiq adalah anak yang pendiam dan cenderung pasif. “Dia hipo, kebalikan dari hiper. Dia gak mau ngapa-ngapain kalau gak kita ajak, dia diam aja,” ungkapnya.

Begitu juga dengan kemampuan komunikasi dan kemampuan sosialnya. “Kurang,” katanya.

“Alhamdulillah anaknya nurut dan patuh. Motivasinya juga bagus ingin seperti anak yang lain,” imbuhnya.

Dulu belum bisa menggunakan bahasa dengan tepat, sekarang sudah bisa dan fleksibel. Seperti orang tua pada umumnya, Winda menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang seperti anak yang lain, baik dalam hal bahasa, sosial, prilakum dan kognisinya.

“Saya ingin dia mandiri, bisa kerja, dan happy di tempat yang diinginkannya,” ucapnya.

Di Batam yang punya julukan Kota Industri ini, penderita autis yang terdata di Pusat Layanan Autis (PLA) Batam, sebuah lembaga di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Batam, jumlah anak autis sebanyak 247 orang. Data ini bisa bertambah karena yang didata PLA Batam adalah berdasarkan laporan dari sejumlah sekolah di Batam.

Sementara di Sekolah Putrakami tercatat punya 140 siswa, dimana 80 persennya adalah anak autis.

Kepala PLA Batam, Ilma mengatakan pihaknya telah menyurati sekolah-sekolah terutama sekolah yang menangani secara khusus anak autis agar melaporkan anak didiknya yang autis.

Menurutnya, kesadaran warga Batam peduli terhadap autis semakin tinggi dan semakin terbuka. Ini terlihat dari orang tua yang mendaftarkan anaknya ke PLA Batam. Sejak berdiri April 2014, PLA Batam telah menangani 65 anak autis usia 3-15 tahun. “Yang waiting list 150 orang,” kata Ilma, Selasa (4/10) di ruang kerjanya di Jalan Pemuda nomor 4 Legenda Malaka, Kecamatan Batamkota.

Kata Ilma, tidak hanya orang tuanya yang melaporkan ke PLA Batam, ada juga tetangganya yang melaporkan. “Biasanya mereka (orang tua anak autis) belum tahu tentang autis atau karena faktor ekonomi,” kata perempuan berhijab asal Cirebon, Jawa Barat ini.

Lokasi PLA Batam memang tidak dilewati angkutan umum, padahal tempat tinggal siswa dari mana-mana. Jadi, masalah transportasi menjadi kendala bagi orang tua karena butuh biaya banyak. “Bayangkan aja, misalnya dari Batuaji, berapa kali ganti angkot untuk mencapai ke sini setiap hari. Belum lagi ongkos ojek dari jalan besar ke sini. Jadi memang berat bagi mereka yang tidak mampu,” tuturnya.

Ilma mengaku sudah mengusulkan ke dinas terkait seperti Dinas Perhubungan Batam melalui Dinas Sosial agar ada trayek yang lewat PLA Batam. “Biar akses ke sini lebih mudah dan tentunya akan mengurangi beban mereka, karena di sini tidak ada boarding (menginap),” paparnya.

Tenaga guru di PLA Batam terdapat 11 orang, yang terdiri dari 1 guru terapi wicara, 1 guru okupasi terapi, 2 psikolog, 5 guru pendidikan luar biasa, dan 2 guru fisioterapi. Sedangkan bentuk layanan terapi yang ada, antara lain; layanan asessmen, intervensi terpadu, pendidikan transisi, konsultasi psikologi, pusat penelitian dan pengembangan, serta pusat informasi dan sumber belajar. “Yang belum ada guru musik. Jadi yang kami ajarkan do re mi dasar aja,” ungkapnya.

Ilma mengatakan meski semua operasional PLA Batam dibiayai oleh pemerintah, namun untuk perawatan ekstra pihaknya menjalankan program subsidi silang. “Biaya itu untuk mereka juga,” katanya.

Secara medis, menurut dr Brain Gantoro, SpGK, Spesialis Gizi Klinik RS Awal Bros Batam, menjaga asupan makan alias diet penting bagi orang autis, karena berkaitan dengan reaksi yang terjadi di dalam tubuhnya yang bisa mengakibatkan reaksi alergi dan reaksi radang.

Contoh Rania yang mudah marah ketika mengonsumsi minuman atau makanan dengan kadar glukosa tinggi, menurut dr Brain, itulah reaksi radangnya.

Ada sejumlah makanan dan minuman yang biasanya menjadi pantangan orang autis, misalnya kasein pada susu sapi, gluten pada tepung terigu (gandum), makanan hasil fermentasi seperti keju, cokelat, permen, makanan instan, penyedap, buah-buahan yang mengandung glukosa tinggi seperti apel, anggur, stroberi, pisang, dan jeruk, serta seafood.

Bila makanan atau minuman di atas dikonsumsi orang yang autis bisa menyebabkan reaksi alergi dan reaksi radang. “Dalam kondisi metabolisme tubuh orang autis terhadap bahan-bahan ini dan turunnya akan menimbulkan reaksi alergi dan reaksi inflamasi (peradangan),” kata dr Brain, Kamis (13/2).

Sebaiknya, lanjut Brain, yang harus dilakukan adalah tes alergi. “Yang paling bagus itu tes alergi lengkap yang bisa membedakan alergi ringan, sedang, dan berat. Setelah tahu, baru kecukupan kalori, protein, dan lainnya,” paparnya.***

///////////////////////////////////////////////////////////////////////

psikolog-hefrina

Kepala Sekolah Putrakami, Hefrina, Psi. F. Yusuf Hidayat/Batam Pos

Kenali Gejala Sejak Awal

Apa itu autis? Dalam laman lspr.edu, web milik London School yang peduli pada autisme, disebutkan autisme adalah suatu gangguan neurobiologis yang terjadi pada anak di bawah umur tiga tahun. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, serta perkembangan perilaku. Dikatakan bahwa autisme bukanlah penyakit mental.

Sedangkan menurut pemilik Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus Putrakami Yul Everi, autisme merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang menyebabkan gangguan komunikasi, sosialisasi, interaksi, dan perilaku anak.

“Umpama komputer yang rusak itu CPU-nya,” kata Yul Everi, Selasa (11/10) di ruang kerjanya di Perumahan Anggrek Mas, Batamkota.

Kapan autis itu bisa dideteksi? Menurut Kepala Sekolah Putrakami, Hefrina, autisme sudah bisa dideteksi sejak usia tiga bulan. “Misalnya menghindari kontak mata dan tidak respek dengan sentuhan dan pelukan kasih sayang,” ujar lulusan Fakultas Psikologi, Universitas Islam Yogyakarta, itu, Selasa (11/10).

Selain itu, kata perempuan berjilbab yang akrab disapa Iin ini, ciri umum lainnya yang bisa dikenali adalah si anak tidak punya rasa empati dan simpati, serta bahasa yang dimiliki tidak dapat digunakan sebagai komunikasi. “Anak autis juga suka melirik, menggerak-gerakkan tangan, jalan jinjit, dan senang sendiri berlama-lama,” bebernya.

“Ada juga yang suka mencium benda lalu menjilatnya.”

Iin mengatakan, orang tua harus memperhatikan fase tumbuh kembang anak, mulai dari tinggi dan berat badan, kemampuan bahasa, keterampilan sosial, interaksi dengan orang lain, dan kemampuan motoriknya.

“Jika perkembangannya tidak sesuai dengan usianya, misalnya, umurnya sudah satu tahun lebih tapi belum bisa berbicara, orang tua harus segera ke dokter anak atau psikolog untuk memastikan informasi dan diberi penanganan (terapi),” katanya.

“Kalau di Putrakami penanganannya 1 on 1. Artinya satu anak ditangani satu terapis. Dan penanganannya secara holistik (menyeluruh), mulai dari terapi, sekolah, dan asrama,” tambahnya.

Penanganan holistik lebih intens dan makanannya juga terjaga. Selanjutnya yang harus dilakukan orang tua adalah menyekolahkan si anak. “Sekolah akan membantu si anak bersosialisasi,” ucapnya.

Dikatakan Iin, anak autis 60 persen adalah tuna ganda (retardasi mental/kemampuan intelektual rendah), dan 40 persennya masuk kategori cerdas.

Yang perlu diperhatikan orang tua yang punya anak autis, tidak hanya tentang belajar menulis, membaca, dan menghitung, tapi juga perlu penanganan serius yang berkaitan dengan perilaku. “Misalnya bagaimana menangani anak autis sehingga anak itu mampu mengelola emosinya,” ujarnya.

Selain itu, harus konsisten dengan aturan. Apa yang dibolehkan dan apa yang tidak boleh. Iin mencontohkan, ketika si anak menangis karena dilarang makan makanan tertentu, orang tua harus konsisten melarangnya.

“Jangan terjebak dengan tangisannya karena tangisan itu senjatanya.”

Ia mengatakan, anak autis itu sebagian besar konsisten. Misalnya terhadap waktu belajar. “Anak autis itu jika sudah waktunya belajar dia akan bersemangat untuk belajar.”

Ada beberapa anjuran bagi orang tua dalam menangani anak autis di rumah, yaitu memperlakukan anak sesuai usianya. Diajari rasa malu, dan kemandirian. “Misalnya merapikan tempat tidurnya sendiri,” kata Iin.

Anak autis juda harus diberikan kesempatan mengekspresikan diri. Memberikan kesempatan bersosialisasi dengan lingkungan secara alami. “Nggak boleh dipaksa. Tapi orang tua harus sosialisasi ke tetangga. Misalnya katakan bahwa anak saya autis, sehingga tetangga itu mengerti dan memahami,” kata Iin. ***

dr-brain-gantoro-spgk-f-yusuf

dr. Brain Gantoro, SpGK. F. Yusuf Hidayat/Batam Pos

Faktor Penyebab Autis

Apa faktor utama penyebab autis? “Sampai sekarang belum ada keterangan yang bisa menjelaskan penyebab pasti autis,” jawab dr Brain Gantoro, SpGK, Spesialis Gizi Klinik RS Awal Bros Batam.

Bisakah orang autis itu normal kembali? “Masalah utamanya itu komunikasi sosial, itu sulit dinormalkan seperti orang normal kebanyakan. Tapi kalau yang lain seperti IQ dan lainnya itu bisa dinormalkan,” kata dr Brain.

Sementara menurut Hefrina, anak autis bisa hidup mendekati normal sepanjang orang tuan memahami tumbuh kembang anak sesuai usianya. Anak mendapat kasih sayang yang cukup, memberi hak anak untuk bermain, belajar, berinteraksi sosial, dan mengembangkan minat serta bakatnya. “Kuncinya komitmen orang tua, dan keluarga terdekat. Karena menurut saya terapi terbaik adalah orang tua, karena merekalah yang lebih banyak (waktu) bersamanya,” paparnya.

Yang harus diperhatikan lagi, lanjutnya, adalah level pengetahuan orang tua harus seimbang dengan perkembangan anak. “Anak kan semakin dewasa, tentu tumbuh kembang dan kebutuhannya juga bertambah, kalau orang tuanya tidak melihat itu, berarti mereka abai,” imbuh perempuan berkacamata ini.

Maka dari itu, kata dia, orang tua harus tahu secara holisitk karakter anaknya, karena penanganan setiap anak berbeda. “Aturan sama tapi pendekatan psikologisnya berbeda. Ada anak yang flamboyan, suka dipuji, suka adu argumen dan lain-lain. Itu berbeda pendekatannya,” tegasnya.

Menurut dr Brain, autis bukan bawaan lahir atau faktor genetis. Bayi yang normal saat lahir bisa autis jika terkena paparan lingkungan dan makanan yang tidak baik. “Itu bisa memicu reaksi radangnya. kata Brain.***

Tips untuk orang tua yang punya anak autis:

1. Berusaha keras untuk mengikuti atau menjalankan diet yang disarankan dokter atau sekolah.

2. Berilah terapi sedini mungkin.

3. Sekolahkan.

4. Bekerja sama dengan sekolah, terapis dan lingkungan, yakni melibatkan si anak dengan lingkungan umum.

5. Orang tua harus satu visi dan satu misi sehingga penanganannya maksimal.

6. Lakukan cek darah. Disarankan setahun sekali.

Hefrina menekankan bahwa autis bukanlah penyakit dan masyarakat harus menerima anak berkebutuhan khusus seperti anak autis. Orang tua tidak menyangkal dengan kondisi si anak yang autis. “Mereka tidak untuk diasingkan,” katanya. (yusuf hidayat)

~ oleh esont pada November 10, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: